Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
Bilamanakah sesuatu itu memenuhi syarat untuk disebut ironis? Jawabnya, bila alat yang diciptakan untuk mengatasi krisis ternyata hanya menghasilkan krisis tambahan lainnya lagi. Dan kapankah ironi itu bisa dikatakan berubah menjadi tragedi? Jawabnya, ketika skala krisis itu meningkat menjadi kegagalan yang luas akibatnya—kalau bukan gagal total—sampai sistem yang ada kepayahan untuk menolong dirinya sendiri. Inilah yang tampaknya hampir terjadi dengan kiprah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Krisis moneter di Indonesia mutlak harus diatasi dengan usaha restrukturisasi perbankan nasional, dan untuk itu BPPN didirikan. Sebenarnya, masalah perbankan nasional adalah tanggung jawab bank sentral, yaitu Bank Indonesia (BI). Tapi, untuk tidak merepotkan BI yang sudah dibebani tugas mengawasi bank-bank secara keseluruhan, usaha penyehatan bank-bank yang sakit dialihkan pengurusannya ke sebuah badan terpisah yang bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan. Agar efektif, BPPN diberi semacam kemandirian dan kewenangan yang luar biasa besarnya. Sampai saat ini, sekalipun telah tiga presiden berganti, BPPN, yang masa kerjanya lima tahun itu, masih tetap bertahan. Gayanya tak berubah banyak, begitu pula kinerjanya. BPPN sangat berkuasa, dan kerjanya juga keras. Tapi tidak semua dipuaskan oleh hasilnya. Kerjanya seperti kuda, hasilnya masih seperti keledai, begitulah komentar orang yang tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Meskipun bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan, terasa bahwa pengaruh setiap presiden pada badan yang mengelola aset yang nilai bukunya mendekati Rp 600 triliun itu cukup menentukan. Di bawah Habibie, BPPN justru terjerumus dalam skandal Baligate. Sekarang, pengaruh Gus Dur belum sempat ditunjukkan, walaupun ada desas-desus akan ada penggantian pimpinan BPPN, yang sekarang diduduki Glenn Yusuf. Yang jelas, Gus Dur tidak punya reputasi sebagai organisator, apalagi menjadi pengelola masalah keuangan yang baik. Kekurangan Gus Dur tak bisa diharap akan ditutupi oleh wakilnya, Megawati. Kalaupun belum terbukti tidak mampu, toh Megawati juga tidak pernah menunjukkan kesanggupannya dan pemahamannya mengenai bidang ini. Lalu, arahan apa yang akan diberikan kepada BPPN ini? Ini bisa menjadi pelajaran yang mahal dari suatu pelimpahan kekuasaan yang terlalu besar pada satu tangan. Tanpa kendali dari luar dirinya, kekuasaan yang nyaris mutlak itu mudah keliru penggunaannya, atau dipakai secara kurang tepat, dengan akibat yang bisa runyam buat semua. Apabila BPPN gagal, ratusan triliun rupiah uang negara bisa jadi amblas. Masalah Bank Bali saja, sebagai salah satu dari persoalan besar BPPN, belum bisa ditemukan jalan keluarnya sampai pekan ini. Kasus ini ternyata punya dua muka. Keduanya melibatkan dua kelompok pimpinan BPPN yang berbeda, yang konon saling berlawanan. Yang pertama adalah Pande Lubis, wakil ketua BPPN, yang terlibat dalam masalah cessie tagihan Bank Bali yang dihubungkan dengan kebutuhan dana politik untuk pemilu yang lalu. Pada peristiwa ini disebut-sebut bahwa Baramuli, mantan ketua DPA dan sekutu Habibie, pernah mencalonkan Pande Lubis untuk menggantikan Ketua BPPN Glenn Yusuf. Tapi Glenn tak berhasil dijatuhkan. Pada sisi kedua, yang disangka terlibat ialah Glenn Yusuf, yang dianggap bertanggung jawab untuk take-over Bank Bali oleh BPPN, dan memasukkan sebuah bank internasional dari Inggris, Standard Chartered Bank, untuk mengelola dan menanamkan modalnya kemudian. Dalam kedua dimensi kasus Bank Bali ini, korban yang dirugikan tetaplah Rudy Ramli juga, bekas pemilik dan direktur bank tersebut. Tentu Rudy Ramli melakukan perlawanan di kedua sisi kasus Bank Bali ini. Rudy Ramli dkk. akan mulai diajukan ke sidang pengadilan, pekan ini, untuk perkara cessie yang menghebohkan itu. Dakwaan yang teknis sifatnya ini—dianggap bersalah tidak mencatat dan melaporkan transaksi cessie tersebut—terasa agak dicari-cari, dan tampaknya tidak terlalu sulit untuk dibantah. Apalagi, setelah penguasa berganti dan laporan panjang PricewaterhouseCoopers diumumkan, arah angin jadi berubah sedikit. Bagi masyarakat, perlawanan yang dilakukannya ini akan membawa hikmah, yaitu membuat makin terangnya kemelut perbankan di negeri ini sekarang. Perlawanan, atau serangan balik, itu khususnya dilakukan oleh Rudy Ramli dkk. terhadap proses akuisisi Bank Bali oleh Standard Chartered Bank (SCB). Singkatnya, SCB dituduh telah melakukan hostile take-over, praktek pengambilalihan secara tidak wajar atas kepemilikan Bank Bali, yang adalah sebuah perusahaan terbuka. Tudingan bukan saja ditujukan kepada SCB, melainkan juga kepada BPPN, yang dianggap membuka peluang timpang bagi kemudahan yang dinikmati SCB. BPPN punya alasan sendiri dalam pertimbangannya, yang umumnya didasarkan atas perhitungan keberhasilan rekapitalisasi dan jaminan yang terbesar untuk pengembalian uang negara yang telah dikeluarkan. Harus diakui, tidak mudah untuk membedakan bahwa alasan yang dipakai adalah murni berdasarkan perhitungan dagang yang rasional, atau lahir dari kepentingan subyektif tersembunyi lainnya. Tapi, karena kekuasaan yang amat besar, dan didorong oleh kebutuhan bertindak cepat, sering terkesan bahwa keputusan BPPN diambil dengan sesukanya saja. Yang terang, perlawanan terhadap SCB dan BPPN bukan cuma dilancarkan oleh mantan direksi dan pemilik Bank Bali, tetapi juga disokong oleh ribuan karyawan bank itu. Simpati untuk Rudy Ramli juga secara politis tampak datang dari DPR, dan konfrontasi antara karyawan dan manajemen SCB di Bank Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Jalan keluar belum kelihatan, dan kalau diteruskan, mungkin semua pihak akan masuk dalam sebuah pertempuran tanpa ada pemenangnya. Rudy Ramli sudah terguling. Mungkinkah ia bangkit dan menarik Glenn Yusuf jatuh ke bawah? Siapa pun yang akhirnya jatuh, yang jelas kesudahannya ialah program penyehatan perbankan jadi berantakan.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836286452



Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.