Editorial: Nasionalisme Sempit Pendidikan Militer untuk Mahasiswa - Opini - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Opini 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Nasionalisme Sempit Pendidikan Militer

Pemerintah berencana menyelenggarakan pendidikan militer untuk mahasiswa. Diklaim buat meningkatkan kecintaan kepada negara.

i Nasionalisme Sempit Pendidikan Militer
Nasionalisme Sempit Pendidikan Militer

TERLALU dangkal berasumsi bahwa pendidikan militer buat mahasiswa bisa meningkatkan kecintaan kepada Tanah Air. Rasa cinta kepada negara akan jauh lebih cepat tumbuh dengan terselenggaranya pemerintahan yang bersih. Karena itu, rencana Kementerian Pertahanan menyelenggarakan pendidikan militer sebaiknya dibatalkan saja.

Rencana pendidikan militer untuk mahasiswa tiba-tiba disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Wahyu Sakti Trenggono. Ia menyatakan akan menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan program militer yang bisa diikuti mahasiswa secara sukarela. Seperti magang, nilai pendidikan militer akan masuk penilaian kuliah.

Rencana itu mengandung setidaknya dua cacat. Dari sisi prosedural, Wahyu Trenggono melemparkannya tanpa basis argumentasi kuat. Ia menjadikan generasi muda Korea Selatan yang sangat mencintai budayanya, termasuk musik K-pop, sebagai contoh. Dengan alasan meningkatkan kecintaan generasi muda Indonesia kepada budaya sendiri seperti di negara itu, ia pun menyatakan perlunya program bela negara. Padahal kemajuan musik dan film di Korea Selatan tentu saja tidak semata-mata berkaitan dengan wajib militer di sana.


Dari sisi substansi pun, tak ada kebutuhan mendesak menyelenggarakan pendidikan militer buat mahasiswa. Indonesia bukanlah negara dalam posisi terancam negara lain hingga memerlukan komponen cadangan yang bisa sewaktu-waktu digunakan. Indonesia tak sama dengan Korea Selatan, yang setiap saat bisa menghadapi perang dan karena itu memerlukan wajib militer.

Negara-negara maju telah meninggalkan wajib militer karena memang tak membutuhkannya. Sebanyak 21 dari 27 negara anggota Uni Eropa tak lagi menjalankan program ini. Sebagian besar anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO telah mengambil langkah serupa. Dari 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, hanya 35 negara yang masih memberlakukan pendidikan militer untuk warga sipil.

Pembentukan komponen cadangan melalui pendidikan militer berpotensi mendatangkan masalah baru. Efek samping militerisasi warga sipil bakal susah dibendung. Jika negara gagal mengontrol, warga sipil yang dilatih militer akan begitu gampang tergelincir masuk kelompok kriminal.

Rencana pendidikan militer untuk mahasiswa juga memperlihatkan pandangan nasionalisme Wahyu Trenggono ketinggalan zaman. Ia ingin anak muda kreatif dan inovatif mencintai negara ini dengan cara bergabung ke dalam komponen cadangan. Padahal nasionalisme dan patriotisme tidak harus diwujudkan dengan jalan militer.

Nasionalisme bisa ditunjukkan dengan berbagai cara. Misalnya berkontribusi dalam berbagai kerja di bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Nasionalisme baru adalah orang yang rela berkorban tanpa korupsi dan menghasilkan karya secara sungguh-sungguh.

Pemerintah sudah sepatutnya menutup rapat-rapat semua gagasan dan kegiatan untuk melatih masyarakat sipil berperang. Pemerintah berfokus saja pada peningkatan kemampuan dan profesionalisme Tentara Nasional Indonesia. Pendidikan kemiliteran mahasiswa bisa jadi akan makin menguatkan kembalinya militerisme, ironi yang terjadi pada era kepemimpinan sipil.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-28 03:13:40

Nadiem Makarim Wajib Militer Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto | Prabowo

Opini 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB