Editorial: Menolak Campur Tangan BIN dan TNI dalam Riset Obat Covid - Opini - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Panggung Politik Obat Covid

Tentara dan badan intelijen tidak boleh ikut campur dalam riset mencari obat Covid-19. Bedil dan telik sandi tak bisa membuat obat jadi mujarab.

i Panggung Politik Obat Covid
Panggung Politik Obat Covid
  • Badan Pengawas Obat dan Makanan mengatakan uji klinis kombinasi obat yang diklaim Universitas AIrlangga dapat membunuh virus Covid-19 tidak valid. .
  • Ada dua penyebab tidak validnya uji klinis tersebut, yakni tidak adanya pengacakan atau randomisasi subyek penelitian dan tidak adanya perbandingan kombinasi obat ini dengan terapi standar.
  • Pangkal persoalan ini adalah tidak adanya keterbukaan informasi serta tidak diikutinya standar dan etika riset yang berlaku secara internasional. .

PENANGANAN pandemi Covid-19 sudah seharusnya dijauhkan dari motif politik. Keinginan Badan intelijen Negara dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat berpartisipasi mengatasi pandemi hendaknya dilakukan dengan membiarkan para epidemiolog dan ahli kesehatan bekerja. Mensponsori lembaga penelitian kampus untuk mencari obat bukanlah tugas kedua lembaga. Tak sepatutnya pula lembaga pertahanan dan telik sandi secara demonstratif mengumumkan hasil penelitian kepada publik tentang manfaat dan kemanjuran racikan—sesuatu yang belakangan tidak terbukti.

Sikap tegas Badan Pengawas Obat dan Makanan yang menolak memberikan izin edar kepada racikan baru itu layak diapresiasi. Menurut BPOM, uji klinis racikan mesti dilakukan terhadap sampel pasien yang lebih banyak dan acak. Saat melakukan uji klinis, Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga mengujicobakan racikan kepada peserta Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat yang terinfeksi tapi tanpa gejala. Lazimnya, orang tanpa gejala tak perlu diberi obat.

Pangkal soalnya adalah peneliti Universitas Airlangga yang tidak transparan saat melakukan riset. Rektor Universitas Airlangga mengatakan penelitian sudah dilakukan sejak Maret 2020, tak lama setelah Covid-19 merebak. Tapi sampai saat ini tak satu pun makalah tentang penelitian itu dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Dalih Universitas Airlangga bahwa publikasi ilmiah tak sejalan dengan prinsip kerahasiaan riset jelas menunjukkan lemahnya pengetahuan dan buruknya tradisi ilmiah para peneliti. Hendaknya disadari, publikasi ilmiah penting untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas dengan para ahli di seluruh dunia. Patut disayangkan, kampus merasa sudah menyelesaikan tugasnya dengan menyerahkan laporan penelitian kepada TNI AD dan BIN, dua lembaga yang memberikan tugas dan menyediakan dana.


Ditinjau dari sudut mana pun, keterlibatan kedua lembaga dalam soal teknis pencegahan dan penanggulangan pandemi jelas tidak bisa diterima. Selama ini, BIN aktif melakukan uji usap Covid-19 di sejumlah provinsi.

BIN adalah lembaga negara yang bertugas mencari dan mengolah informasi agar ancaman terhadap negara—baik dari luar maupun dari dalam negeri—dapat dicegah. BIN diberi wewenang mengamati suatu obyek hingga potensi ancaman itu diyakini benar-benar ada. Informasi BIN dipakai kepala negara untuk mengambil keputusan dan tindakan tertentu. Adapun TNI AD merupakan alat negara untuk menghadapi serangan dari luar.

Presiden selayaknya meluruskan kekacauan organisasi kenegaraan ini. Ia tidak boleh membiarkan lembaga-lembaga di bawahnya silang-sengkarut dalam bekerja. Ketertiban organisasi ini penting agar tidak terjadi tumpang-tindih tugas dan wewenang. Keterlibatan tentara juga menyimpang dari prinsip supremasi sipil dalam pengelolaan negara.

Presiden tak boleh abai terhadap hal ini. Desas-desus yang menyebutkan keterlibatan BIN dan TNI AD berkaitan dengan kontestasi politik Pemilihan Umum 2024 harus ditepis. Salah satunya dengan cara mengembalikan tugas dan fungsi kedua lembaga. Masih banyak yang bisa dilakukan Kepala BIN dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat agar mereka dicatat sejarah dan memperoleh perhatian orang ramai. Ikut campur dalam hal yang tidak mereka kuasai hanya akan membuat mereka kehilangan simpati.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-28 03:50:40

Covid-19 Badan Pengawas Obat dan Makanan | BPOM Universitas Airlangga | Unair

Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB