Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ribut Langgam Tiada Ujung

Pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa memicu kontroversi. Seharusnya tak perlu disikapi dengan tensi tinggi.

i

PUBLIK sebetulnya tak perlu meributkan boleh-tidaknya pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa. Itu persoalan sepele atau furu'—meminjam istilah fikih. Heboh-ripuh itu hanya menguras energi. Masih banyak persoalan lain yang mesti diurus bangsa ini.

Kehebohan itu meledak setelah qari Muhammad Yasser Arafat melafalkan surah An-Najm ayat 1-15 pada pertengahan Mei lalu. Bacaan dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mirip sinden dalam pergelaran wayang itu memantik kontroversi. Sebab, langgam membaca Al-Quran memang bukan sekadar kemasan pembungkus pesan ilahiah. Apalagi ini dilakukan dalam acara resmi kenegaraan, peringatan Isra Mikraj, di Istana Negara, Jakarta.

Sebagian kalangan mempermasalahkan langgamnya, sebagian lain menganggapnya sudah keluar dari hukum tajwid (cara membaca yang benar) pada beberapa penggalan lagunya. Tapi tak sedikit pula yang mendukung habis-habisan. Perang opini mengenai Al-Quran langgam Jawa pun menghiasi media sosial, seperti Facebook dan Twitter, selama berhari-hari. Lucunya, perbedaan pendapat ini menular pula ke kalangan yang bukan ahli qari. Mereka yang membaca Al-Quran masih ngalor-ngidul pun ikut memperdebatkannya.


Berbeda pendapat tentang pembacaan Al-Quran itu hal lumrah. Ada berderet dalil yang membolehkan pembacaan Al-Quran dengan langgam non-Arab. Namun juga ada banyak argumen yang melarangnya. Kalangan yang menentang mendasarkan pada sebuah hadis yang isinya melarang Al-Quran dibaca dengan irama orang fasik. Mereka juga cemas ayat-ayat itu berubah makna karena kesalahan baca tajwid saat sang qari memaksakan irama langgamnya. Muncul juga kekhawatiran bahwa esensi bacaan bisa hilang karena langgam tertentu. Misalnya, ayat yang berisi peringatan keras akan terasa tak pas bila dibaca dengan langgam yang meliuk-liuk.

161896151358

Yang mendukung pembacaan Al-Quran dengan langgam non-Arab juga punya segudang dalil. Alasan mereka, di Arab sendiri ada 40 langgam, tapi hanya tujuh yang dianggap sesuai dengan standar tilawah Al-Quran, yakni bayati, shoba, hijaz, nahawand, rost, jiharkah, dan sikah. Nabi sendiri sangat suka mendengarkan bacaan Al-Quran Abu Musa al-Asy'ari, yang berasal dari Yaman. Namun Nabi tidak pernah mengarahkan kepada sahabat untuk satu langgam.

Berdebat tentang langgam pembacaan Al-Quran benar-benar cuma membuang tenaga. Ini seperti memperdebatkan mengapa Muhammadiyah pada salat subuh tak membaca doa qunut, sebaliknya NU tak pernah alpa membacanya. Dalam Islam pun ada kaidah, untuk persoalan fikih kecil seperti itu, orang tak harus sepaham.

Indonesia sebetulnya memiliki khazanah yang kaya dalam langgam membaca Al-Quran. Pada 1980-an, di sejumlah masjid di Jawa Tengah, biasa dibaca Al-Quran langgam Jawa. Di Jawa Barat juga ada masjid yang membaca dengan langgam Sunda. Perbedaan langgam itu tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara lain. Sebuah disertasi di Universitas Berlin mencatat aneka jenis langgam pembacaan Al-Quran dalam tradisi lokal sejumlah negeri di Afrika.

Dengan berbagai alasan itu, sungguh tak masuk akal jika kita saling menyalahkan atau mengharamkan, semata-mata karena soal selera. Orang tak perlu saling memaksakan kehendak. Yang penting, semua itu dibaca dengan memperhatikan tajwid dan makhraj yang benar. Persoalan remeh seperti ini seharusnya tak perlu disikapi dengan naik darah dan menekuk akal sehat.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161896151358



Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.