Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Prospek Cerah Pemain Besar

Zion Williamson menjadi pemain muda paling potensial yang diincar tim-tim NBA. Dikenal sebagai pemain yang ramah dan suka menonton kartun bersama sang ibu.

i Zion Williamson. JEREMY BREVARD/USA TODAY/VIA REUTERS
Zion Williamson. JEREMY BREVARD/USA TODAY/VIA REUTERS

LEBRON James adalah bintang liga bola basket Amerika Serikat (NBA) dan salah satu yang terbaik di dunia dalam 15 tahun terakhir. Atlet 34 tahun asal Akron, Ohio, Amerika Serikat, itu memiliki 3 cincin juara, 4 gelar pemain terbaik NBA, dan 2 medali emas Olimpiade. Ia pun telah 15 kali tampil di NBA All-Star, yang merupakan arena bermain para pemain top saat jeda kompetisi. Tapi toh tetap saja ia terkagum-kagum melihat aksi pemuda 18 tahun bernama Zion Williamson.

Bersama rekan setimnya di Los Angeles Lakers, Rajon Rondo, James duduk di de--ret kursi terdepan menyaksikan William--son membantu tim Duke University me--nak-lukkan University of Virginia dengan skor 81-71 di liga basket mahasiswa Amerika (NCAA) pada Februari lalu. “Setiap kali dia me--nguasai bola, pertandingan terasa sa--ngat berbeda,” kata James seperti di--la-porkan USA Today, Ahad, 5 Mei lalu.

Dalam laga itu, Williamson mengemas 18 poin, 5 umpan matang (assist), dan 5 tang-kapan bola pantul (rebound). Dia juga tiga kali mencuri bola (steal) dan tiga kali melakukan lompatan penghalang (block). James takjub melihat ketangkasan dan ke--cepatan Williamson, yang bertubuh bong-sor untuk ukuran pemain seusianya. “Sudah jelas dia kuat,” ucap James. “Tapi ke--mampuannya bergerak lincah dengan ba--dan sebesar itu sangat impresif.”

Dalam 33 pertandingan bersama Duke, Williamson membukukan rata-rata 22 poin. Statistik permainan Williamson pada musim perdananya di NCAA menjadi salah satu yang terbaik dalam 20 tahun terakhir. Pemuda itu diganjar Piala Naismith sebagai pemain terbaik tingkat mahasiswa tahun ini. “Dia bisa menjadi pemain yang lebih hebat,” tutur Blake Griffin, pemain Detroit Pistons yang mendapatkan Piala Naismith pada 2009.


LeBron James. REUTERS/Gary Vasquez

161477187834

Williamson adalah fenomena dunia basket Amerika. Video-video berisi aneka gaya slam dunk yang dilakukannya sejak di sekolah menengah atas berseliweran di Internet. Dia kerap disebut penerus takhta James sebagai raja basket yang saking jagonya bermain bisa lolos perekrutan pe--main NBA (draft) setelah lulus SMA pada 2003. Kala itu usia James juga 18 tahun. Sejumlah pemain legendaris yang masuk NBA lewat jalur khusus ini antara lain Kevin Garnett, Kobe Bryant, dan Tracy McGrady.

Pesohor seperti Jay-Z, Floyd Mayweather, dan Barack Obama datang melihat per-tan-dingan Williamson. Publik bahkan sudah tahu siapa yang dimaksud ketika nama Zion disebut. Popularitas lewat nama pertama merupakan prestise untuk para selebritas olahraga berprestasi seperti James, Tiger Woods, dan Serena Williams.

Williamson menjadi pemain favorit da-lam draft NBA pada 20 Juni nanti. Atur-an draft membuat tim-tim gurem NBA memiliki kesempatan lebih besar men-da-pat-kan rookie terbaik. Williamson, yang kemungkinan besar bakal berada di urutan teratas daftar itu, sudah mengumumkan lewat akun Instagramnya bahwa dia akan mengikuti draft.

Setidaknya ada tiga tim yang paling ber-peluang mendapatkan tanda ta--ngan Williamson: New York Knicks, Cleve-land Cavaliers, dan Phoenix Suns. Se--ba-gai pe-main paling potensial tahun ini, Wil-liam-son juga berkesempatan memperoleh kon-trak senilai US$ 59 juta atau sekitar Rp 852 miliar untuk empat tahun. “Aku akan se--penuh hati bermain untuk tim mana pun yang memilihku,” ujar Williamson seperti di-tulis Boston Globe.

Melihat perawakan Williamson, dia le--bih mirip atlet sepak bola ala Amerika (American football) ketimbang basket. De-ngan tinggi badan mencapai 2,01 meter dan bobot 129 kilogram, Williamson sangat mendominasi area di bawah ring. Tapi dia juga dikenal sebagai pemain yang lincah, cepat, dan jago melepaskan tembakan tiga angka–hal langka untuk kategori pemain ber-tubuh besar. “Aku tak suka dikenal se--bagai pemain yang cuma bisa slam dunk,” ka-ta-nya. 

Menjadi remaja berbadan bongsor ke-rap merepotkan Williamson, yang ter-lihat seperti pemain basket dewasa di an-tara anak-anak seusianya. Banyak yang tak percaya bahwa dia remaja 16 ta-hun kala bermain untuk tim Griffins di SMA Spartanburg Day. Ibu Williamson, Sha-ron-da Sampson, menganggap penilaian orang-orang yang tak percaya itu sebagai gu-yonan. “Tapi jika Anda melihat wajah-nya, dia jelas-jelas seorang remaja,” ucap-nya seperti ditulis USA Today.

Terus menggenjot reputasi sebagai atlet, Williamson awalnya tak terlalu diminati pencari bakat dari universitas. Spartanburg Day memang lebih dikenal dengan prestasi akademiknya ketimbang urusan olahraga. Williamson akhirnya memilih bergabung dengan tim Blue Devils di Duke, yang telah lima kali menjuarai turnamen NCAA. “Dia memang memasang target tinggi sejak awal,” kata Sampson.

Sejak berusia sembilan tahun, William-son terbiasa bangun pukul 5 pagi untuk joging dan berlatih menembak bola ke ring. Saat itu Williamson adalah bocah kurus dan kalah tinggi dibanding anak se--usianya yang bermain basket. Namun ayah tirinya, Lee Anderson, mendukung penuh impiannya.

Anderson, yang pernah men-jadi atlet basket di Clemson University, mengajarkan teknik dasar menjadi pemain di posisi point guard. Pemain di posisi ini mengutamakan ke--lincahan dan keahlian men-dribel bola untuk me--nutupi ke-ku-rangan tinggi badan.

Latihan sejak usia dini dan faktor gen mem--ben-tuk ta-len-ta serta fisik William-son. Sampson, yang memiliki tinggi tubuh 177 sentimeter, adalah atlet lompat tinggi saat masih kuliah di Livingstone College. Adapun ayah biologis Williamson, Lateef, adalah atlet American football kampus bertinggi badan 195 sentimeter. “Kami tak mengira Williamson bakal tumbuh besar seperti sekarang,” ujar Sampson.

Pertumbuhan fisik Williamson melejit pada usia 14 tahun. Dalam rentang 18 bu--lan, tinggi badannya bertambah dari 175 sen-timeter menjadi 191 sentimeter. Pa-da ta-hun pertamanya bergabung de--ngan Duke, tinggi Williamson sudah me--nembus 2 meter dengan bobot lebih dari 120 kilogram. “Itu membantuku men-jadi pemain yang lebih cakap,” tutur William-son.

Meski berbadan bongsor, Williamson enteng saja melakukan sprint dan meng-gebrak ring dengan slam dunk. Sejak di Se-kolah Menengah Pertama Johnakin, Williamson sudah melatih teknik lompatan bersama ibunya. Adapun Anderson terus memoles kemampuannya menembak.

Menjadi pemain populer tak membuat Williamson jemawa. Williamson lebih suka menghabiskan waktu bareng keluarganya di rumah jika tak sedang kuliah atau berurusan dengan basket. Dia juga sangat dekat dengan sang ibu. Sampson sampai meng-godanya sebagai “anak mama”. “Ka-mi sering nonton film kartun ninja Jepang, Naruto,” kata Sampson.   

Williamson juga dikenal sebagai pemain yang ramah dan murah senyum. Dia selalu berhenti untuk meladeni anak-anak yang meminta berfoto bersama atau tanda tangannya. Kecintaan Williamson pada anak-anak juga dipengaruhi oleh kehadiran Noah, adiknya yang 13 tahun lebih muda dan sering diajak menonton per-tandingannya. 

Dia belajar dari pengalaman masa kecilnya saat berburu tanda tangan para pemain basket. Ada kalanya dia menelan rasa kecewa tak mendapatkan tanda tangan pemain idola lantaran mereka menolak atau buru-buru pergi. “Aku tahu anak-anak itu akan kecewa jika aku menolaknya,” ucap Williamson. “Aku ingin menandatangani semuanya, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.”

GABRIEL WAHYU TITIYOGA (ESPN, BLEACHER REPORTS, NCAA)

 


 

Zion Williamson

Lahir: Salisbury, 6 Juli 2000

Tinggi: 2,01 meter

Berat: 129 kilogram

Posisi: forward

Tinggi lompatan vertikal: 1,1 meter

Ukuran sepatu: 14

Perolehan skor tertinggi dalam satu pertandingan: 53 poin

Sekolah Menengah Atas: Spartanburg Day, tim Griffins

Perguruan Tinggi: Duke University, tim Blue Devils (2018-sekarang)

 

Prestasi

- Pemain basket terbaik tingkat universitas (NCAA) 2019

- Pemain muda terbaik Atlantic Coast Conference 2019

- Pemain terbaik versi Asosiasi Jurnalis Basket Amerika 2019

- Penghargaan Karl Malone 2019

- McDonald’s All-American 2018

Nike Hoop Summit 2018

 

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Reporter Gabriel Wahyu Titiyoga - profile - https://majalah.tempo.co/profile/gabriel-wahyu-titiyoga?gabriel-wahyu-titiyoga=161477187834



Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB