Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bukan Anak Ambon, tapi...

Dr Endang Rahayu Sedyaningsih mempunyai konsep kesehatan masyarakat yang jelas. Tapi beban psikologisnya berat.

i

PAGI itu, sekitar pukul 04.30, saya mendapat telepon. Penelepon meminta saya mencarikan tiga nama dokter perempuan ahli kesehatan masyarakat yang berasal dari Maluku atau Indonesia timur untuk calon Menteri Kesehatan.

Saya pun bertanya, "Kan, sudah ada Profesor Nila Moeloek?" Penelepon menjawab, Profesor Nila Moeloek tidak lulus ­screening kesehatan. Saya katakan, mencari dokter seperti yang diminta sebaiknya di Makassar karena kebanyakan mereka belajar atau mengajar di Universitas Hasanuddin. Tapi saya menjanjikan akan mengabari pukul sembilan. Penelepon mengatakan paling lambat pukul enam harus sudah ada nama calon karena kabinet diumumkan besok.

Segera saya menelepon Profesor Firman Lubis. Sebagai pengajar di Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tentu ia lebih banyak memiliki pengetahuan tentang itu. Ternyata Profesor Firman telah mendapat telepon serupa. Kami berunding dan mendapatkan tiga calon, yang segera kami sampaikan kepada penelepon tadi pagi. Satu dari tiga calon yang kami sebut adalah Dr Endang Rahayu Sedyaningsih. Riwayat hidup mereka pun segera dikirim melalui e-mail pagi itu juga.


Sekitar pukul tujuh, penelepon pertama kembali menanyakan apakah saya mengenal baik Dr Endang. Saya katakan secara pribadi saya tidak kenal, tapi saya tahu dia doktor dalam public health dari Harvard University dengan disertasi mengenai HIV di kalangan pekerja seks Kramat Tunggak. Dia bukan anak Ambon, tapi suaminya bernama Mamahit (dalam otak saya, Mamahit adalah nama Ambon).

161862692533

Profesor Firman dan saya sepakat Dr Endang calon yang sangat tepat. Sebagai orang yang telah meneliti penyakit di kalangan pekerja seks, tentu ia banyak mengenal kehidupan rakyat miskin dan yang terpinggirkan. Apalagi mengenai HIV, yang selama ini penanganannya seperti setengah hati.

Cerita di atas memperlihatkan bahwa penunjukan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan bukanlah pesanan asing seperti yang difitnahkan selama ini. Penunjukan Dr Endang memang pada detik-detik terakhir penyusunan kabinet. Itulah gaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kabinet sebelumnya pun Menteri Kesehatan ditunjuk pada saat-saat terakhir. Mungkin, bagi Presiden SBY, Menteri Kesehatan bukanlah posisi yang sangat penting sehingga pencarian calon tidak dilakukan sejak awal. Yang penting ada dan dijabat seorang perempuan.

Terpilihnya Dr Endang menimbulkan reaksi dari politikus yang calonnya tidak terpilih dan dari mereka yang tidak terpilih. Ia mendapat gempuran gosip yang menyakitkan. Misalnya soal posisinya yang baru, eselon II (padahal banyak menteri yang justru tidak punya eselon birokrasi sama sekali). Ia dituduh menyelundupkan virus flu burung ke luar negeri untuk dibuat vaksin (padahal sampai sekarang pun belum ada vaksin khusus untuk flu burung). Dr Endang juga dituding sebagai agen Amerika, terutama Namru.

Gosip seperti itu sedikit-banyak membebani Dr Endang sebagai Menteri Kesehatan yang baru. Tapi ia bersikap rendah hati sehingga gosip meredup dengan sendirinya.

Bagi kalangan kesehatan di Indonesia, penunjukan Dr Endang sebagai Menteri Kesehatan merupakan pilihan tepat dan menimbulkan harapan. Dalam diskusi dengannya di Metro TV dan TV One, saya katakan program pemerintah mengenai kesehatan tidak jelas arahnya. Keluarga Berencana bahkan tidak disebut sama sekali, baik dalam program seratus hari maupun dalam prioritas program pemerintah. Kritik itu tidak saya tujukan kepada Menteri Kesehatan, karena bukan dia yang menyusun programnya, tapi kepada pemerintah secara keseluruhan. Ketika itu Dr Endang mengatakan ia harus menjalankan apa yang sudah ditetapkan Presiden. Tapi ia berjanji mencoba mengoreksi hal itu.

Menurut saya, setelah Leimena dan ­Adhyatma, baru kali inilah ada Menteri Kesehatan yang mempunyai konsep ­"public health" yang jelas. Bedanya, Leimena mempunyai kebebasan merealisasi konsepnya tapi terhambat perubahan situasi politik, sedangkan Adhyatma dan Endang mengalami kendala garis komando. Khusus untuk Endang, ditambah lagi oleh beban psikologis yang agaknya sulit ia singkirkan.

Pada kesempatan lain, Dr Endang mengeluhkan beberapa keputusan dan kebijakan pemerintah sebelumnya yang tidak tepat, seperti Jamkesmas. Ia ingin memperbaikinya tanpa menimbulkan kesan "balas dendam". Ketika saya usulkan agar ia merombak birokrasi di Kementerian Kesehatan, Dr Endang menjawab ini pun harus ia lakukan hati-hati dan akan dimulai pada 2011. Saya tidak tahu apakah dia telah melakukannya. Jelas bahwa tuduhan, pelecehan, dan sikap permusuhan terhadap dia yang luas disebarkan telah menimbulkan beban pikiran tersendiri.

Dr Endang mempunyai idealisme yang tinggi, tapi juga mempunyai beban psikologis yang berat. Tentang suatu masalah, misalnya, ia pernah berkata, "Saya mempertaruhkan nama saya untuk ini." Tapi agaknya birokrasi di bawahnya tidak bisa memahami dan tidak sepenuhnya mendukung. Beban pikiran seperti itu tentu ikut berpengaruh terhadap penyakit yang ia derita, betapapun ia mengatakan siap menerima apa saja yang ditentukan Tuhan karena ia sudah banyak mendapatkan hal yang membahagiakan dari Tuhan.

Selamat jalan, Ibu Endang.

Kartono Mohamad,
Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161862692533



Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.