Nasional 2/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ratu Ekstasi dan Polisi Ikut 'Nyabu'

Sindikat narkoba makin menggila. "Ratu Ekstasi" Zarima kembali tertangkap. Sedangkan di Yogya, aparat kepolisian malah berpesta shabu-shabu

i
SEBUAH tim dari Kepolisian Resor Sleman bergegas meluncur ke Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Target operasi penggerebekan kali ini sungguh tak biasa, rumah milik Kasatserse Polresta Yogyakarta, Kapten Nanan Setyo Utomo, di kilometer 6 jalan itu. Pintu didobrak dan aparat menghambur masuk. Masya Allah, enam polisi Polda Daerah Istimewa Yogyakarta sedang dalam keadaan fly akibat "nyabu" alias memakai shabu-shabu. Beberapa bong, alat pengisap shabu-shabu, masih dalam genggaman para aparat penegak hukum itu.

Kejadian memalukan yang sudah berlangsung pertengahan September itu agaknya bakal tersimpan terus di laci kepolisian bila anggota DPRD I Yogyakarta tak menanyakannya dalam acara dengar pendapat dengan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa pekan lalu. Informasi yang mereka berikan pun hanya seencrit-encrit. Nama keenam polisi pengisap shabu-shabu itu, misalnya, dirahasiakan, dengan alasan "masih dalam penyidikan". Menurut seorang sumber TEMPO di Polda DIY, selain Kapten Nanan Setyo Utomo, tersangka lainnya adalah Letda Wardhana (Kepala Pembinaan dan Operasi Polres Sleman), Letda Deni (Kapolsek Ngaglik), dan tiga orang bintara.

Masih kata si sumber, Wardhana dikenal sebagai pemasok narkoba di Gunungkidul. Hebatnya, shabu-shabu yang digunakan untuk berpesta tadi adalah barang bukti yang tersimpan di Polda DIY. Di sana memang tersimpan 163 gram shabu-shabu hasil penangkapan lebih dari 50 tersangka narkoba sepanjang tahun ini.

Menanggapi kasus yang memalukan ini, Kapolda DIY Brigjen Dadang Sutrisno berjanji akan bertindak tegas. Saat dikonfirmasi soal penggunaan barang bukti, Dadang tak secara langsung menyangkal. "Kalau mereka terbukti menggunakan barang bukti untuk pesta shabu-shabu, sanksi yang akan dijatuhkan lebih berat," katanya.

Namun, tanda-tanda ketegasan itu belum ada. Hingga kini ketiga perwira itu masih bekerja seperti biasa. Belum ada sebuah berkas perkara pun yang sampai di tangan Komandan Detasemen POM Mayor CPM Purnomo. Bahkan, ketika wartawan TEMPO menemui Kapten Nanan Setyo Utomo, ia terlihat tetap santai. Tak ada tanda-tanda penyesalan di wajahnya. Ia pun masih aktif sebagai Kepala Satuan Serse Polresta Yogyakarta. Meski ia mengaku bahwa pesta memang berlangsung di rumahnya, Nanan tetap merasa tak bersalah. "Terserah orang mau bilang apa," ujarnya. Bisa jadi, kasus polisi nge-fly ini akan mengulang kisah Letda (Inf.) Agus Isrok, putra sulung KSAD Jenderal Subagyo H.S., yang tertangkap tangan dengan sekoper penuh obat bius, awal Agustus lalu, tapi hingga kini tak ada kelanjutan proses hukumnya.

Sementara aparat kepolisian Yogyakarta tercoreng cerita buruk, rekan-rekannya di Jakarta menuai kisah sukses. Kamis pekan lalu, mereka menangkap basah "Ratu Ekstasi" Zarima Mirafsur, 27 tahun, bersama sembilan temannya yang sedang asyik berpesta narkoba di Apartemen Mercuri, Jakarta Barat. Zarima, yang pada 1996 dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena kedapatan memiliki 29.677 butir pil ekstasi, tampaknya harus kembali mengisi hari-harinya di dalam sel tahanan.

Dari tangan para tersangka yang sedang fly berpasang-pasangan di lima kamar itu, menurut Kaditserse Polda Metro Jaya, Kolonel Alex Bambang Riatmodjo, polisi mendapat banyak barang bukti. Di antaranya 835 butir pil ekstasi, 50 gram shabu-shabu, dan 28 buah blue film.

Selain muda dan cantik, Zarima adalah prototype perempuan yang tak mudah menyerah. Meski semua saksi, termasuk Ahian Santoso—laki-laki yang dikenal sebagai pacarnya—menyatakan bahwa Zarima adalah pengguna dan pengedar narkoba, bekas atlet bulu tangkis ini tetap sesumbar bahwa dirinya tak bersalah. "Saya datang ke Hotel Mercuri sebagai penasihat orang-orang yang kecanduan narkoba," kata Zarima dengan enteng. Bahkan, perempuan yang dulu sempat melarikan diri ke Houston, Amerika Serikat, ini merasa dirinya dijebak oleh polisi. "Dari dulu polisi mengincar saya. Baru saja lima menit masuk ke hotel, polisi sudah datang," tutur Zarima, yang kini masih dalam masa pembebasan bersyarat itu.

Kalau hasil pemeriksaan urine oleh polisi bisa membuktikan bahwa Zarima berbohong, agaknya para pelaku bisnis narkoba ini bisa diibaratkan seperti anai-anai yang mati setelah hinggap di lampu yang menyala. Mereka tak mudah kapok, meski dengan risiko terburuk sekalipun.

Setiyardi, L.N. Idayanie (Yogyakarta)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836757443



Nasional 2/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.