Nasional 3/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari Sukarnoputri ke Sukarnoputra?

Beberapa kubu mulai memperebutkan kursi Mega sebagai ketua umum PDI-P. Namun, nama Guntur Sukarnoputra makin kuat. Haruskah dinasti Sukarno menguasai PDI- P?

i
APA kabar partai pemenang pemilu PDI Perjuangan? Sementara sebagian pendukungnya masih menikmati "senangnya" punya wakil presiden, sebagian yang lain sudah mulai kasak-kusuk membicarakan jabatan ketua umum yang kini dipegang Megawati Sukarnoputri. Menjelang Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan, Desember mendatang, topik utama memang siapa yang layak menggantikan Megawati Sukarnoputri. Padahal, dalam rapat kerja itu, Mega belum akan diganti. Mega baru akan diganti pada Kongres Luar Biasa PDI Perjuangan, Maret tahun 2000. Kendati masih empat bulan lagi ada pergantian ketua umum, hingga kini sudah lima nama beredar untuk jabatan ketua umum yang seharusnya dipegang Mega hingga tahun 2003 mendatang itu. Di antaranya, Ketua Fraksi PDI-P MPR Soetjipto, Sophan Sopiaan, Eros Djarot, Guruh, serta Guntur Sukarnoputra. Nama-nama yang muncul menjelaskan kerasnya pertentangan di dalam tubuh PDI-P, yaitu antara pendukung Taufik Kiemas dan Eros Djarot. Dua-duanya bukan pengurus partai, tapi sama-sama dekat dengan Mega. Yang satu suami, yang lain penulis pidato politik. Soetjipto, yang juga ketua DPD PDI-P Jawa Timur, adalah calon yang dijagokan Taufik. Namun, belum-belum, suara sumbang bertaburan menentangnya. Ia dianggap gagal mengegolkan Mega sebagai presiden, sesuai dengan keputusan KLB Denpasar 1998. Soetjipto sendiri tampak pasrah. "Saya akan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada hasil KLB nanti," katanya. Eros Djarot, pemimpin redaksi tabloid mingguan Detak, yang disokong oleh anggota PDI-P gaek Soetardjo Soerjogoeritno, lebih optimistis. "Kalau hal itu merupakan tugas yang harus diemban, ya, saya jalankan," katanya. Boleh saja kedua kubu itu berseteru, tapi siapa yang bisa memastikan bahwa Mega akan meninggalkan jabatan ketua umumnya? Menurut Mangara Siahaan, wakil sekjen DPP PDI-P, hingga kini partai itu belum memiliki aturan yang membahas jabatan rangkap wakil presiden dan ketua umum partai. "Jadi, bisa saja Mega menunjuk ketua harian dari salah satu ketuanya, sementara jabatan ketua umum tetap dipegangnya," ujar Mangara, yang menganggap hanya Mega-lah yang sanggup mempersatukan PDI-P. Keputusan terus-tidaknya Mega tergantung pada laporan pertanggungjawabannya dalam KLB mendatang. Kalau floor bisa menerima pertanggungjawaban itu dan posisi ketua umum tidak perlu diutak-atik, menurut Mangara, itu sah-sah saja. Atau, bila Mega memilih seseorang dan menyerahkan kepada dewan pimpinan pengurus, barulah kandidat ketua umum bisa dimunculkan. Tampaknya, pemikiran Mangara tak disetujui oleh semua pihak. Taufik Kiemas, misalnya. Setelah calonnya, Soetjipto, diragukan kemampuannya, anggota DPR ini memunculkan kakak iparnya, Guntur Sukarnoputra. "Lihat saja nanti. Saya percaya keputusan di kongres berimplementasi baik untuk semua kader PDIP," tutur Kiemas. Sayangnya, jago yang banyak disebut-disebut itu lebih memilih bungkam. "No comment-lah. Jangan sekarang, deh. Minggu depan saja," ujar Guntur, 55 tahun, mengelak. Putra sulung Sukarno-Fatmawati itu memang alergi dengan politik. Tekanan politik ketika ayahnya jatuh yang membuat aktivis GMNI itu harus meninggalkan studinya di ITB, ditambah aksi pemandulan oleh almarhum Ali Moertopo saat ia akan bergabung dalam Partai Nasional Indonesia pada Pemilu 1971, membuat Guntur selalu menolak bila diajak terjun dalam politik. Selain alasan kesehatan, ia pernah berucap, "Bagi saya, tak mungkin terjun ke dunia politik selama Soeharto masih berkuasa," katanya. Akhirnya Mas Tok, demikian panggilan akrab Guntur, hanya menekuni dunia bisnis jasa konstruksi dan fotografi. Ia bergeming saat ditawari Soerjadi bergabung dalam PDI yang direstui pemerintah. Masuknya nama Guntur membuat berang Mangara. "Memangnya PDI Perjuangan partai dinasti? Guntur, kan, tidak pernah ikut berjuang di partai," sergahnya. Namun, sikap keras di atas hanya diperlihatkan oleh bekas "anak gaul" Blok-M itu. Sikap pengurus PDI-P yang lain mudah diduga. "Kalau dia (Guntur) maju, saya juga mendukungnya, walaupun saya khawatir membuat PDI-P semakin terkurung dalam simbol pemimpinnya," ujar Eros. Kalau begitu suasananya, kalau ada keluarga Sukarno yang maju, sulit ada "orang luar" yang mampu merebut kursi ketua umum PDI-P. Jika benar begitu, jangan-jangan partai ini akan menjelma seperti Partai Kongres di India, yang diisi oleh keturunan dari satu keluarga. "Sebab, PDI itu, kan, identik dengan keluarga Sukarno. Siapa pun yang maju, asal keturunan Bung Karno, pasti didukung," kata Aberson Marle Sihaloho, anggota DPR dari PDI-P. Ahmad Taufik, Agus Riyanto, dan Hani Pudjiarti

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865689883



Nasional 3/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.