Nasional 5/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Putra Mahkota atau Kiai yang Rileks

Bursa calon ketua umum NU beredar. K.H. Hasyim Muzadi disebut-sebut sebagai calon kuat.

i
INILAH kesibukan baru politik Indonesia: organisasi massa dan parpol sibuk mencari ketua baru setelah pimpinannya memimpin negeri. Selain PDI Perjuangan, Partai Keadilan, dan Partai Bulan Bintang, Nahdlatul Ulama juga bersiap-siap mencari pengganti Gus Dur yang lagi repot mengendalikan Republik dari Istana. Minggu kemarin ini, selama sepekan, Muktamar NU ke-30 akan dilangsungkan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ini tentu saja bukan muktamar sembarangan. Soalnya, ketua umum baru dari Lirboyo nanti tidak saja harus bisa memimpin lebih dari 30 juta umat NU, tapi juga harus mampu menjaga jarak dengan pemerintah yang saat ini dikomandani oleh Gus Dur. "Pengurus NU harus mampu memberikan ruang kritik terhadap Gus Dur," kata intelektual muda NU, Ali Haidar. Karena "beban" itulah, persaingan menuju kursi ketua jadi ketat. Sejumlah nama sudah beredar. Di antaranya adalah Hasyim Muzadi (ketua PW NU Jawa Timur), Said Aqil Siradj (khatib am NU), K.H. Mustofa Bisri (pimpinan Pondok Pesantren Rembang), dan M. Fajroel Falakh (salah satu ketua NU). Sementara itu, K.H. Sahal Mahfudz dipastikan manteng di posisi rois am. Gus Dur sendiri sesungguhnya sudah menyebut beberapa nama. Dalam Konferensi Besar (Konbes) NU di Pringgarata, Lombok Tengah, NTB, dua tahun lalu, Kiai Ciganjur itu "membunyikan" figur Fajroel Falakh, Said Aqil Siradj, dan Arifin Junaidi—ketiganya orang dekat Gus Dur di Kantor Pusat NU. Alasan Gus Dur: ketiganya adalah anak-anak muda yang berpotensi membesarkan NU. Tapi, waktu bergulir. Belakangan nama K.H. Mustofa Bisri masuk bursa, begitu pula Sekjen NU Ahmad Bagdja. Namun, di lapangan, dukungan kepada Hasyim Muzadi tampaknya yang paling kuat. Gus Dur sendiri kabarnya sudah lama ingin mengusung Muzadi sebagai penggantinya. "Gus Dur sudah menjadikan Muzadi sebagai putra mahkota," kata anggota DPR asal PKB, K.H. Cholil Bisri. Muzadi, pimpinan Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Malang, itu memang tidak maju dengan tangan kosong. Ia paling tidak sudah mengantongi dukungan dari Jawa Timur. Hasil Musyawarah Kerja Pengurus NU se-Jawa Timur yang diadakan di Batu, Malang, Jumat pekan lalu, sudah mendaulat Muzadi sebagai calon kuat ketua umum NU. Selain itu, menurut keterangan seorang pengurus NU Jawa Timur, alumni Pondok Pesantren Gontor itu juga rajin berkeliling daerah untuk mencari dukungan. Ia kerap berkunjung ke cabang-cabang NU di Lombok dan Kalimantan, dan menyumbangkan seperangkat komputer untuk tiap-tiap wilayah yang didatanginya. Itukah cara Muzadi berkampanye? "Komputer itu diminta pengurus NU Nusatenggara Barat, Lampung, Kalimantan Barat, dan Sumatra Selatan. Mereka minta karena di pondok saya ada beberapa komputer yang tidak terpakai," kata pria berusia 54 tahun itu kepada wartawan TEMPO Zed Abidin. Betulkah Muzadi pasti akan melenggang? Belum tentu juga. Soalnya, dukungan yang kasatmata baru diperolehnya dari Jawa Timur, sementara dari daerah lain belum ada dukungan yang tegas. Selain itu, Muzadi juga harus berhadapan dengan calon lain yang tidak bisa dipandang remeh, misalnya K.H. Mustofa Bisri. Meski dukungan kepada kiai yang juga penyair ini belum tampak jelas, beberapa pengurus NU menyebut Gus Mus—begitu Mustofa Bisri biasa disapa—sebagai calon yang cocok. Bukan apa-apa. Dari sejumlah calon, Gus Mus-lah satu-satunya orang yang bisa dengan rileks dan tanpa pakewuh mengkritik Gus Dur. Peran ini penting untuk menjaga hubungan jarak NU dengan pusat kekuasaan itu tadi. Nah, karena berimbangnya kekuatan tiap-tiap kandidat itulah, banyak warga NU yang tak sabar menunggu hari H muktamar. Persiapan sudah rapi dilakukan. Forum Langitan, yang berisi kiai-kiai khos NU, misalnya, Sabtu pekan lalu berkumpul di Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, milik K.H. Abdullah Faqih, untuk membicarakan masa depan kepemimpinan NU ini. Semula, forum yang dihadiri 10 kiai ini akan mencari "pesan langit" tentang siapa yang sebaiknya menjadi ketua NU. Tapi, belakangan, pembicaraan tentang kandidat ketua NU itu urung dilakukan untuk menghindari bentrokan antarkiai. Tapi, pada prinsipnya, "Para kiai merasa berkepentingan agar muktamar nanti menghasilkan pengurus PBNU yang berani menegur Dus Dur sebagai presiden," kata Ali Haidar, yang memfasilitasi pertemuan Langitan tersebut. Arif Zulkifli, Adi Prasetya (Jakarta), Jalil Hakim (Surabaya)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865815331



Nasional 5/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.