Nasional 7/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Setelah Clinton 'Digertak'

Presiden Wahid akhirnya mendarat di Gedung Putih. Apa saja bantuan yang diharapkan Jakarta?

i
GEDUNG Putih menabur angin musim rontok yang menusuk pori-pori. Suhu menunjuk 10 derajat Celsius. Sejumlah petugas keamanan yang mengenakan overcoat tampak siaga. Satu-dua tupai berlompatan di rerumputan. Dua limusin hitam merapat ke pintu utama "istana" serba putih di jantung kota Washington, Amerika Serikat, Jumat siang pekan lalu. Presiden Abdurrahman Wahid turun perlahan ditemani ajudan. Menteri Luar Negeri Alwi Shihab dan Duta Besar Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menyusul di belakang. Presiden William J. Clinton sudah menunggu di ruang oval. Menteri Luar Negeri Madeleine Albright, Menteri Keuangan Lawrence Summers, dan Ketua Dewan Keamanan Nasional Sandy Berger ikut pula menyambut. Kedua kepala negara berpose sejenak di depan kerumunan pers cetak dan elektronik. Presiden "Gus Dur" Wahid dan Clinton sempat menjawab segelintir pertanyaan wartawan dalam 10 menit. Acara yang sedikit diundurkan itu dilanjutkan dengan perbincangan tak resmi selama 45 menit—seperempat jam lebih lama dari rencana semula. Clinton rupanya peduli dengan keutuhan wilayah Republik, yang belakangan digoyang dengan pelbagai tuntutan separatis. Soal Timor Timur juga disinggung, termasuk masalah ratusan ribu pengungsi yang masih bertahan di Timor Barat. Gus Dur menjanjikan happy ending: mengurus pengungsi dan bersama Wakil Presiden Megawati akan bertemu dengan tokoh utama Xanana Gusmao dalam waktu dekat. "Clinton menyambut gembira karena, dengan begitu, sebagian masalah di sana bisa diatasi," kata Presiden Wahid saat memberikan keterangan pers di udara. Sekitar 60 anggota rombongan dari Jakarta berangkat dengan pesawat khusus Boeing 747-400 Garuda bernomor GA-001. Pertemuan informal ini memang terbilang istimewa. Inilah pertama kalinya seorang presiden negara superkuat menerima kehadiran presiden Republik setelah Soeharto jatuh pada 21 Mei tahun silam. Hubungan kedua negara sempat "dingin" ketika Habibie berkuasa. Washington menghentikan bantuan militer untuk TNI—melalui program IMET—akhir September lalu. Kejadian ini dipicu sikap tegas Jakarta yang menolak percepatan kehadiran pasukan khusus PBB di Timor Timur. Padahal, Clinton dan sekutunya, termasuk Australia, menganggap militer RI gagal mengamankan situasi di Bumi Loro Sa'e seusai jajak pendapat itu. Dili dijadikan bumi hangus. Jakarta akhirnya "menyerah" dan pasukan Interfet masuk. Begitu Gus Dur dan Megawati berkuasa dan kabinet "persatuan nasional" terbentuk akhir Oktober lalu, suara dari negeri adidaya itu masih sumbang berkumandang. Ini dipicu kejadian "salah paham" antara Menteri Keuangan Bambang Sudibyo dan Duta Besar AS di Jakarta, Robert Gelbard. Saat mereka bertemu di Niaga Center di kawasan Sudirman, Jakarta, akhir bulan lalu, Gelbard "membisiki" Bambang agar Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Glenn Yusuf tidak diganti. Menteri Bambang tersinggung dengan tindakan yang disebutnya sebagai campur tangan ini. Ketua MPR Amien Rais, yang dilapori, ikut meradang. Ia menganggap tindakan itu "tidak etis dan tidak beradab." Washington kabarnya semakin kecewa ketika Presiden Wahid memutuskan hendak melawat ke negara sahabat di ASEAN, Cina, dan India ketimbang harus "menghadap" negeri polisi dunia itu. Kiblat Republik bakal bergeser dari Gedung Putih ke Tiananmen? Spekulasi inilah yang dicoba diluruskan. Pertemuan Gus Dur-Clinton ini diharapkan bakal menepis salah paham itu. Tegasnya, Indonesia sama sekali tak bermaksud meninggalkan Barat. "Mereka itu kawan kita di saat-saat kritis. Termasuk IMF dan Bank Dunia. Tapi kita juga tidak mau setiap kali butuh harus ke Barat," kata Menteri Alwi Shihab. Bertemu dengan dua lembaga donor itu agaknya tak menjadi soal. Gus Dur sudah bertemu dengan Direktur Pelaksana IMF Stanley Fischer dan Direktur IMF Urusan Asia-Pasifik Hubert Neiss di Hotel Watergate, Washington, DC, Jumat pagi pekan lalu. Di hotel tempatnya menginap itu pula Presiden Bank Dunia James Wolfensohn dan Presiden US-Exim Bank James Harmann diajak berbicara khusus. Agendanya apa lagi jika bukan peluang dikucurkannya dana pinjaman buat menyehatkan perekonomian yang masih lesu. Penyelesaian skandal Bank Bali dan restrukturisasi perbankan tak lupa dibahas. "Kami tak bicara detail, tapi proses yang dilakukan pemerintah mulai bergerak maju," kata Stanley Fischer kepada TEMPO. Artinya, soal kontroversi nama-nama di dalam temuan long form PricewaterhouseCoopers tak disinggung. Puncak acara adalah bertemu dengan Clinton di Gedung Putih. Meski akhirnya terlaksana, prosesnya berjalan lumayan alot. Sumber TEMPO di Washington menuturkan betapa kontak lobi menjadi faktor penentu. Semula Clinton enggan memberikan waktu. Lantaran tak ada kepastian dari Washington, rombongan Gus Dur yang sedianya langsung bertolak ke AS seusai muhibah di negara-negara ASEAN sampai-sampai terpaksa memutus rute. Presiden balik ke Jakarta lebih dulu, dan sempat memimpin rapat kabinet. Kebetulan, saat itu, demo sejuta manusia menuntut referendum marak di Aceh. Tapi Gus Dur menganggap Amerika lebih penting disambangi lebih dulu, sementara Aceh diurus para menteri. Tapi bagaimana dengan sikap AS yang semula "menolak" kunjungannya? Gus Dur enteng saja menjawab, "Kan, bisa lain kali. Toh, saya ke sana cuma berobat mata." Jalur diplomasi yang sempat tersendat akhirnya diperlicin. Ditempuhlah lobi "rekan-rekan lama". Bekas duta besar Paul Wolfowitz, karib Gus Dur, yang juga pernah menjadi penasihat kementerian pertahanan, sibuk meyakinkan koleganya, termasuk Duta Besar AS di PBB Richard Halbrooke. Sejumlah eks duta besar dan diplomat di Jakarta yang tergabung dalam Usindo, US-Indonesia Community, turut nimbrung. Menteri Alwi Shihab "memainkan" lobinya di kampus-kampus terkemuka. Dering telepon Jakarta-Washington disambung berulang-ulang, tak terkecuali di hari Minggu. "Kami juga meyakinkan bahwa meski Cina dikunjungi, hubungan dagang dengan Israel bakal dilakukan," kata Christianto Wibisono, analis ekonomi yang ikut menjadi penghubung bersama Wolfowitz-tim sukses Partai Republik pro-Bush Jr. Trik berdagang dengan kaum Yahudi ini kabarnya membuat Menteri Albright terkesan. Apalagi disertai gertak sambal: jangan sampai Gus Dur sewot, sehingga sang ayatullah negeri mayoritas Islam yang dikenal demokratis ini malah berubah menjadi sosok menakutkan bagi AS lantaran berpaling ke Cina dan Timur Tengah. Akhirnya, Clinton mengangguk. Presiden Wahid pun melenggang tenang di ruang oval. "Banyak hal yang bisa dibantu AS, termasuk penanaman modal," kata Gus Dur. Harian terkemuka The Washington Post, Jumat pekan lalu, spontan memuji Gus Dur, yang disebut sebagai seorang pembela demokrasi yang bercokol bertahun-tahun di bawah rezim otoriter Soeharto. Tajuk The Post diakhiri dengan seruan buat IMF dan Bank Dunia: kini saatnya merayakan dan menyokong, bukan memberikan sanksi dan pelajaran. Jika nanti kucuran dana kembali ke kantong Jakarta, lawatan penting—sembari berobat—ini agaknya akan menghidupkan banyak harapan untuk ekonomi Republik yang tengah "senen-kemis". Wahyu Muryadi (Washington, DC)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836840531



Nasional 7/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.