Nasional 5/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ekstrem kiri, kanan, lainnya

Wawancara tempo dengan pangdam v brawijaya, mayjen r.hartono, 51, selaku direktur latgab 1992. (latgab) ini dirancang untuk menumpas kerusuhan. di masa depan ancaman lebih mungkin dari dalam.

i
PANGDAM V Brawijaya, Mayjen. R. Hartono, 51 tahun, pekan ini sibuk mengurus latihan gabungan (latgab) di Situbondo. Skenario latgab itu pun dirancang untuk menumpas kerusuhan. Bahkan, alumni AMN 1962 kelahiran Pamekasan, Madura, itu yakin bahwa ancaman di masa depan lebih mungkin dari dalam negeri. Jumat pekan lalu, Direktur Latgab 1992 itu menerima Zed Abidien dari TEMPO untuk wawancara khusus. Berikut petikannya: Anda mengatakan ancaman negara dalam 5-10 tahun ini datang dari dalam negeri? Bisa dijelaskan? Bentuknya bisa sampai ke tingkat pemberontakan. Itu bentuk ancaman paling tinggi. Gejala itu harus diwaspadai, baik yang terjadi di dalam maupun luar negeri. Keadaan di luar negeri, sekarang maupun nanti, selalu memberikan dampak. Apa hubungannya? Menurut saya, seseorang atau oknum, atau apa wujudnya yang ada di luar negeri itu, akan mempengaruhi stabilitas di dalam negeri. Jika hal ini tak tertangani, akan meningkat pada pemberontakan dalam negeri. Ancaman dalam negeri itu kan ada dua kategori, ekstrem kiri dan ekstrem kanan? Dan ekstrem lainnya. Ekstrem kanan dan ekstrem kiri jelas. Ekstrem kiri berangkat dari paham komunis. Kalau ekstrem kanan, seperti sering saya katakan, sesungguhnya agama itu tak ada yang ekstrem. Nah ekstrem kanan pengertiannya adalah oknum yang cenderung menggunakan agama sebagai dasar, atau kekuatan pembenaran atas perilakunya. Ekstrem lainnya, di luar itu, menggunakan hak asasi manusia. Begitu ekstremnya sehingga mereka menilai hanya dirinya atau kelompoknya yang paling benar. Ekstrem kanan masih termasuk ancaman, baik sekarang maupun nanti? Semua ekstrem itu harus diwaspadai. Apa misalnya langkah-langkah untuk mewaspadai ekstrem kanan? Bagi saya, saya mendorong para ulama untuk memberikan pengertian tentang Islam itu secara benar dan lengkap. Maka, sering saya katakan pada pertemuan keagamaan, melihat Islam itu harus benar dan utuh. Jangan sepotong-sepotong. Kalau selama ini Anda sering bersilaturahmi dengan para ulama dan mengunjungi pondok-pondok pesantren di Ja-Tim, itu juga untuk menangkal ekstrem kanan? Itu bisa juga salah satu sasaran yang ingin saya capai. Saya berharap, dengan tatap-muka juga mengharapkan bantuan para ulama untuk memberikan pengertian Islam secara lengkap dan utuh. Saya mengingatkan, kata Islam ini sering digunakan sebagai pembenar perilaku yang tak benar. Padahal, Islam tak mengajarkan begitu. Bentuk kegiatan ekstrem lainnya? Ya seperti yang saya katakan tadi. Yang berpura-pura membela hak asasi. Padahal tidak. Yang tak setuju pencalonan presiden termasuk ancaman dalam negeri? Kepala bisa sama, tapi isinya berbeda-beda. Kalau ada yang tak setuju seperti diduga Pak Harto, ya wajar. Kalau bicara Jawa Timur, saya sebagai pembina teritorial dan sosial politik, juga warga NU Jawa Timur kemarin (23-25 Oktober 1992 dengan "Pesan Genggong"-nya yang mencalonkan Pak Harto untuk menjabat kembali), menilai bahwa masyarakat Jawa Timur mendambakan Pak Harto bersedia dipilih kembali. Tapi itu tergantung Pak Harto. Mengapa ketika Australia membeli pesawat F-111 lagi, kita tampak panik? Saya kira tak panik, Kita bersahabat dan banyak kerja sama dengan Australia. Mungkin malah kita bisa saling memperkuat. Kalau bobot 5-10 tahun mendatang masalah dalam negeri, tak berarti kita tak bisa menghadapi invasi dari luar. Kita siap, tapi hubungan internasional tetap akrab.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832842033



Nasional 5/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.