Sensasi seorang dewi - Nasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Nasional 3/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sensasi seorang dewi

Dewi soekarno tampil tanpa busana dalam buku fotografi syuga. demi seni, duit, atau sensasi? ada yang mengecam, tapi dewi sendiri merasa bahwa ia adalah wanita bebas. ia ingin meninggalkan masa lalunya, termasuk sebagai janda presiden Soekarno.

i
SHE'S a woman for men. Kata-kata itu bisa bermakna pujian, tapi bisa pula sindiran. Yang terang, kalimat puitis itu keluar dari mulut Duke de Sabran Pontives, bangsawan keren dari Prancis, tentang bekas kekasihnya, Ratna Sari Dewi, janda mendiang Bung Karno. Dan Sabran Pontives, pacar Dewi hampir 20 tahun lalu itu, juga menambahkan, ''Karena itu, mungkin ia selalu melihat wanita lain sebagai pesaingnya.'' Mungkin Pontives betul. Pada usianya yang 53 tahun kini, Dewi tampaknya masih ingin menarik kaum pria dengan kemolekan tubuhnya dan kecantikan yang dimilikinya. Ia pun seperti hendak mengingatkan kaum hawa bahwa dirinya masih menjadi pesaing yang layak diperhitungkan. Maka, wanita berdarah Jepang ini pun tak keberatan memamerkan keindahan seluruh tubuhnya, dalam pelbagai pose, lewat sebuah buku berjudul Syuga, yang dilemparkan ke pasar pekan lalu di Tokyo. Judul lengkap buku itu adalah Madame D, Syuga. Artinya, unggul dan molek. Buku 140 halaman itu dirancang necis, dicetak mewah pada kertas luks, berukuran 23 cm x 35 cm. Kata pengantarnya cuma enam halaman, dan selebihnya berupa foto-foto Dewi dalam berbagai pose. Penerbitnya adalah Scholar Publisher's Inc., Tokyo. Untuk edisi pertama ini, buku itu dicetak 150 ribu eksemplar. Peluncuran Syuga itu tentu diramaikan media massa Tokyo, terutama majalah mingguan hiburan dan wanita. Sebuah koran melukiskan buku baru itu sebagai ''kejutan terbesar abad ini''. Dan sebuah majalah memberi judul laporan utamanya ''Telanjang di Usia 53''. Dewi tampaknya benar-benar ingin memberikan ''yang terbaik'' dan menghindari kesan sebagai foto porno. Misalnya, ia duduk di atas sofa tenun ikat, beralas sarung Bali berwarna merah yang terjurai ke lantai, menghadap lukisan figuratif perang dari kisah Ramayana. Walau tak ada selembar benang pun yang melintasi tubuh Dewi, gambar itu tetap menonjolkan keindahan, bukan pornografis. Ada lagi, Dewi dengan pembungkus tubuh ekstra tipis warna krem di tengah jendela kayu berukir. Latar belakang, warna, dan komposisi menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi Fotografer Hideki Fujii dalam menyajikan foto Dewi. Latar belakang Jepang, Eropa, dan Bali dipilih Fujii untuk menampilkan sosok Dewi yang indah pada lebih dari separuh pertama bukunya. Sentuhan artistik berupa lukisan pada tubuh, foto masa lalu, dan Dewi saat ini dalam konteks Jepang mengakhiri rangkaian foto indah. Kendati begitu, toh ada pertanyaan, mengapa janda mendiang Presiden Soekarno itu mesti bugil segala. Dewi sendiri tentu menganggap foto telanjang itu sah-sah saja demi sebuah karya seni. ''Demi keindahan, apa pun diizinkan,'' katanya kepada TEMPO. Lagi pula, ia merasa tak mengusik orang lain dengan foto-foto itu. ''Kehidupan saya kini adalah milik saya pribadi, bukan punya orang lain'' (lihat Selesai Setelah Bung Karno). Sebenarnya, tak cuma kali ini Dewi muncul telanjang di majalah. Sekitar tahun 1974, ketika berusia 34 tahun, Dewi juga dipotret bugil oleh Fotografer David Hamilton. Dewi mengakui, foto-foto Hamilton itu ''puitis'', tapi tak sekuat jepretan Fujii. ''Yang sekarang terasa lebih menggugah,'' kata Dewi bangga. Namun, kebanggaan itu mungkin tak dinikmati keluarga Soekarno yang lain. Karina, anak tunggal Dewi dari hasil perkawinannya dengan Bung Karno, memilih menolak berkomentar mengenai penampilan ibunya itu. Megawati, putri tertua Bung Karno dari Fatmawati, juga memilih menghindar. ''Bu Dewi itu ibu saya. Sebaiknya saya tak komentar,'' kata Mega. Nyonya Hartini, janda lain Soekarno, juga cuma bisa angkat bahu melihat ulah bekas madunya itu. ''Saya tak peduli,'' katanya. Hartini tak pula ingin membahas pengaruh Syuga itu terhadap nama baik Soekarno. ''Mungkin motifnya cuma uang. Tapi sudahlah, kalau semuanya baik, nanti surga penuh,'' katanya kepada Wahyu Muryadi dari TEMPO. Duit? Mungkin itu salah satu yang dicarinya. Menurut penerbit buku itu, Katsuaki Takahashi, kepada TEMPO, tiap buku dijual seharga 4.800 yen. Kalau saja royalti untuk Dewi dan Fujii 1012% dan dibagi rata, Dewi akan memetik duit antara 36 juta dan 43,5 juta yen, atau sekitar Rp 750 juta, dari 150 ribu bukunya. Itu memang angka kira-kira. Sebab, Dewi, Fujii, maupun Takahashi tak menyebut angka pastinya. Yang tahu bagaimana membagi penghasilan, kiranya, cuma Dewi dan Fujii. Sebab, kata Fujii, pemotret kondang lulusan Jurusan Fotografi Universitas Nihon Jepang 1960, buku itu adalah karya mereka berdua. ''Syuga adalah karya Dewi dan sekaligus karya saya,'' katanya kepada TEMPO. Ia kagum karena, selama pemotretan bulan Juni sampai Agustus lalu, Dewi mempunyai sensitivitas luar biasa. Pemotretan dilakukan di Tokyo, Kyoto, Hotel Tanjungsari Bali, dan Prancis. ''Meski usianya sudah 50 tahun lebih, betapa cantik tubuhnya, betapa halus kulitnya,'' kata Fujii. Bahwa foto bugil Dewi kemudian menarik perhatian, tentu wajar saja. Dewi sempat dikenal sebagai first lady Indonesia, setelah resmi menjadi istri Bung Karno Maret 1962. Saat itu ia paling dekat dengan Bung Karno dibandingkan dengan istri yang lain. Prof. Masashi Nishihara, ahli politik Asia Tenggara dari Akademi Pertahanan Nasional Jepang, menggambarkan bahwa Dewi tak cuma menjadi istri paling muda dan paling disayang. Dewi juga istri yang paling berpengaruh terhadap Soekarno. ''Perusahaan Jepang, pedagang Cina, dan pejabat pemerintahan berlomba mendekati Dewi untuk memperoleh bantuan istimewanya,'' tulis Nishihara dalam bukunya The Japanese and Soekarno's Indonesia, yang telah diterjemahkan dalam Sukarno, Ratnasari Dewi, dan Pampasan Perang oleh penerbit Pustaka Grafiti. Sedikitnya ada 60 perusahaan Jepang yang beroperasi di Jakarta ketika itu. Perusahaan Jepang itu mengincar proyek- proyek pemerintah, terutama yang dibiayai dari dana pampasan perang, yang jumlahnya sekitar US$ 223 juta. Dewi punya peran penting di balik proyek-proyek itu. ''Sedikit sekali transaksi yang bisa berlangsung tanpa persetujuannya,'' tulis Nishihara. Doktor ilmu politik lulusan Universitas Michigan, Amerika, itu juga ''mencurigai'' Dewi tahu banyak urusan politik suaminya. Perkenalan Dewi dengan Bung Karno berlangsung Juni 1959, ketika Presiden RI itu berkunjung ke Tokyo. Yang menjadi makcomblangnya adalah Masao Kubo, Direktur Utama Tonichi Inc., yang ketika itu sedang mencari peluang bisnis di Indonesia. Menurut satu versi, perkenalan itu terjadi lewat sebuah pertemuan bisnis di Hotel Imperial Tokyo. Tapi ada versi lain yang mengatakan perkenalan itu terjadi di klub malam Copacobana, tempat Dewi yang ketika itu bernama Naomo Nemoto bekerja sebagai pramuria merangkap penyanyi. Perkenalan itu ternyata membuat Bung Karno ketika itu berumur 58 tahun jatuh hati pada gadis berusia 19 tahun itu. Umpan yang dipasang Masao Kubo mengenai sasaran. Sepulang dari Tokyo, Bung Karno menulis surat bernada mesra kepada Dewi. Lantas, Naomo Nemoto diundang ke Jakarta. Kubo-San memanfaatkan situasi. Naomo Nemoto dibujuk untuk terbang ke Jakarta, tak cuma memenuhi undangan Bung Karno. Ia malah bermukim di Jakarta, dengan status sekretaris perwakilan Tonichi, sejak September 1959. Hubungannya dengan Bung Karno makin akrab. Kedatangan Naomo Nemoto tak sia-sia. Perusahaan Tonichi menggaet sejumlah proyek: tugu Monas, menara transmisi untuk TVRI, gedung Wisma Indonesia berlantai empat di Tokyo, renovasi KBRI di Tokyo, dan pengadaan kapal patroli cepat, serta menjadi subkontraktor pembangunan Hotel Bali Beach di Sanur, Bali, Ambarukmo di Yogya, dan Samudra Beach di Pelabuhanratu, Sukabumi. Bung Karno pun berhasil menggaet Naomo Nemoto, yang setelah menjadi istri sah berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Sejumlah hadiah diberikan Bung Karno untuk Dewi, di antaranya Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, yang sekarang menjadi Museum ABRI Satria Mandala. Lantas pecah peristiwa G-30-S PKI. Posisi Soekarno terancam. Dewi mengaku mencoba menjadi penghubung antara Bung Karno dan Angkatan Darat (lihat Dewi, Antara Bisnis dan Politik). Tapi tindakannya tak menolong. Di tengah situasi yang tak pasti, Dewi disuruh ''mengungsi'' ke Tokyo, membawa janinnya yang berumur lima bulan. Ia terus di Tokyo, dan kembali ke Jakarta menjelang Bung Karno wafat, Juni 1970. Suasana Jakarta pun berubah bagi Dewi. Ia memilih meninggalkan Jakarta, menuju Paris. Ia tinggal di flat-flat mewah, bersama Karina, anaknya semata wayang. Bermodal kecantikan dan predikat janda presiden, Dewi membuka lembaran kehidupan baru, pergaulan glamor papan atas. Jadilah Dewi anggota kaum jetset. Baru setahun menjanda, Dewi kecantol Francisco Paesa, bankir berdarah Spanyol. Hubungannya konon serius, bahkan sempat bertunangan. Tapi kemudian pasangan ini bubar. Lepas dari Paesa, Dewi menggaet cowok-cowok kaya semacam John Bently, Lord Richfield, dan Juan March. Tapi ia tak serius. Kemudian Dewi terdampar ke pelukan Duke de Sabran Pontives. Keduanya, konon, sudah berniat menikah. Tapi keluarga Pontives tak menyukai hubungan itu. Kalau ngotot, ia bakal disingkirkan dari lingkungan keluarganya yang konservatif. Itu berarti Pontives tak akan kebagian harta. Ia, kabarnya, memilih warisan ketimbang Dewi. Kisah cinta itu pun bubar. Dewi melanjutkan kehidupannya yang ''wah''. Tidak jelas betul bagaimana Dewi membiayani kehidupannya yang gemerlap itu. Setelah hubungannya dengan Pontives, tak terdengar lagi Dewi punya pendamping permanen. Dewi kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah sewaan di kawasan Menteng. Ia mencoba membangun perusahaan yang memasok barang-barang kebutuhan beberapa instansi pemerintah. Selain itu, Dewi sering terlihat di pesta- pesta kalangan atas, termasuk mantan Direktur Utama Pertamina, Ibnu Soetowo. Bosan di Jakarta, ia terbang ke New York tiga tahun silam, tinggal di sebuah apartemen mewah yang harga sewa sebulannya US$ 6.000 atau kini hampir Rp 12,5 juta. Alasannya, ia ingin dekat dengan putrinya, Karina, yang kuliah di Boston. Tak jelas pula apa yang dilakukannya di New York. Yang terang, ia sering muncul di pesta-pesta kelas atas. Sampai akhirnya Dewi terlibat cekcok dalam sebuah pesta di Club Logde, di Kota Aspen, Colorado, Januari 1992. Dalam pesta yang dihadiri, antara lain, Aktris Barbara Streisand dan Ivana Trump itu, Dewi bentrok dengan Victoria Marie Osmena, cucu Presiden Filipina Osmena. Pipi Osmena tergores gelas sampanye di tangan Dewi. Urusan masuk pengadilan, dan Dewi divonis 60 hari penjara. Untung, ia cuma menjalani hidup di sel sempit itu selama 34 hari. Untuk urusan pengadilan itu, Dewi harus merogoh dompet sampai ratusan ribu dolar. Setelah itu, ia langsung terbang ke Paris. Di Paris, Dewi membantu badan PBB yang mengurusi perkara lingkungan hidup, United Nations Environmental Programme (UNEP). Tugasnya adalah mengumpulkan dana untuk program lingkungan. Tentu saja gaji di situ tak cukup untuk mengongkosi hidupnya yang mahal. Dan tahu-tahu ia terbang ke Tokyo, dan meluncurlah buku Syuga. Barangkali, itu adalah sebagian dari cara Dewi menemukan dirinya, kembali ke aslinya: wanita yang bebas.Putut Trihusodo, Iwan Qodar Himawan (Jakarta), dan Seiichi Okawa (Tokyo)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-26 07:41:56

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.


Nasional 3/7

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB