Nasional 8/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dua jenderal dari lembah tidar

Tampilnya jenderal feisal tanjung sebagai panglima abri menandai kepemimpinan abri di tangan lulusan amn. masa jabatan edi pendek, tapi banyak pergantian di pucuk pimpinan abri. duet edi-feisal akan menghadapi masalah keamanan yang lebih kompleks.

i
JENDERAL Edi Sudradjat tampak beriringan dengan Jenderal Feisal Tanjung dari gedung utama menuju tempat upacara di Plaza Mabes ABRI Cilangkap. Jenderal Edi, Sabtu pagi itu, membawa Jenderal Feisal ke mimbar upacara untuk acara serah terima jabatan. Acara timbang-terima itu berlangsung singkat. Sebagai inspektur upacara, terlebih dahulu Jenderal Edi membacakan Surat Keputusan Presiden tentang pengangkatan Jenderal Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI. Setelah itu, Jenderal Edi menyerahkan panji-panji pataka ABRI kepada Jenderal Feisal, diikuti penandatanganan berita acara serah-terima. Sejak itulah Jenderal Feisal resmi menjadi orang nomor satu di ABRI. Dengan mengempit tongkat di tangan kirinya, Jenderal Feisal, didampingi Jenderal Edi, untuk pertama kalinya menerima penghormatan dari pasukan sebagai Panglima ABRI. Penghormatan juga terlihat dari undangan yang hadir. Di antara pendahulunya, tampak Jenderal Purn. M. Panggabean. Sementara mantan Panglima ABRI sebelumnya yang tak tampak hadir adalah Jenderal Purn. Try Sutrisno, yang kini menjadi wakil presiden, dan Jenderal Purn. L.B. Moerdani yang kebetulan lagi di luar negeri. Para tamu ''kehormatan'' lain antara lain Menko Polkam Soesilo Soedarman, Menko Kesra Azwar Anas, Menteri Pertambangan dan Energi I.B. Sudjana, para kepala staf dan Kepala Polri serta para panglima kodam. Dalam acara serah terima itu, Jenderal Edi, yang kini tinggal menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan, memesan agar Jenderal Feisal tetap menjaga kekompakan sesuatu yang pernah dilakukan Panglima ABRI sebelumnya. Dan Jenderal Feisal menjawab pesan itu dengan lima perintah harian yang disampaikan pada upacara khusus di Mabes ABRI Senin lalu. Antara lain meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, memantapkan diri sebagai prajurit pejuang, profesionalisme ABRI, menjaga nama dan martabat ABRI, dan melaksanakan tugas dengan tanggung jawab dan disiplin. Singkat kata, kata Feisal seusai dilantik Presiden Soeharto di Istana Negara pekan lalu, yang perlu ditangani di lingkungan ABRI adalah peningkatan mutu sumber daya manusia. Pengangkatan Jenderal Feisal Tanjung, 54 tahun, sebagai Panglima ABRI boleh dibilang membuka babak baru dalam sejarah pimpinan ABRI. Sebab, duet Jenderal Edi sebagai Menteri Hankam dan Jenderal Feisal sebagai Panglima ABRI telah menandai bahwa ABRI kini dipimpin generasi lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) dari Lembah Tidar, Magelang. Edi lulusan tahun 1960 dan Feisal tahun 1961. Tampilnya kepemimpinan ABRI di tangan lulusan AMN sebenarnya diawali dengan pengangkatan Jenderal Edi sebagai Panglima ABRI, menggantikan Jenderal Try Sutrisno Februari lalu. Setelah pembentukan kabinet, Jenderal Edi yang masih merangkap sebagai KSAD juga mendapat tambahan jabatan Menteri Hankam. Jabatan Panglima ABRI yang cuma tiga bulan itu boleh dibilang paling pendek selama Orde Baru. Sebab, masa jabatan Panglima ABRI sebelumnya hampir selalu seiring dengan usia kabinet, selama lima tahun. Jenderal Edi sendiri mengaku dari mula sudah menyadari bahwa masa rangkapan itu tak lama. Sebab, sejak 1982, organisasi Mabes ABRI dan Departemen Hankam sudah dipisahkan. Menteri Hankam merangkap Panglima ABRI terakhir adalah Jenderal M. Jusuf, tahun 1978-1983. ''Sesuai dengan peraturan yang berlaku, saya kan harus menjadi Menteri Hankam saja,'' kata Edi kepada pers seusai pelantikan Feisal. Ia tak mempersoalkan cuma tiga bulan menjadi Panglima ABRI. ''Tak soal, tiga bulan atau tiga tahun,'' katanya. ''Sama saja. Yang penting adalah tanggung jawabnya.'' Walau cuma tiga bulan, tampaknya banyak perubahan dilakukan oleh Jenderal Edi sebagai tanggung jawabnya. Yang paling menonjol adalah pergantian jabatan di pimpinan ABRI. Dari 10 Kodam, enam panglimanya diganti. Termasuk tentunya pergantian sejumlah Kepala Polda dan Komando Daerah Angkatan Udara dan Laut. Tiga Kepala Staf Angkatan dan Kepala Polri baru saja dilantik. Jabatan bintang tiga di lingkungan Mabes ABRI juga dipegang wajah baru seperti Kepala Staf Sospol Letjen Haryoto P.S., menggantikan Letjen Harsudiyono Hartas, Kepala Staf Umum Letjen H.B.L. Mantiri menggantikan Letjen Feisal Tanjung, dan Wakil KSAD Letjen Suryadi mengisi kursi Letjen Wismoyo Arismunandar yang menjadi KSAD. Pergantian besar-besaran di pucuk pimpinan ABRI itu tentu menyodok perubahan-perubahan di lapis bawahnya, baik jabatan perwira tinggi berbintang dua maupun satu. Yang menonjol, pejabat teras ABRI yang diganti rata-rata telah memangku jabatan sejak ABRI di bawah pimpinan Jenderal Try Sutrisno (1988-1993). Ada pula beberapa yang mulai menanjak kariernya ke pucuk pimpinan semasa Jenderal Benny Moerdani menjadi Panglima ABRI (1982-1988). Mungkin karena usia atau memang sudah jatuh tempo akhir masa jabatannya, hingga Jenderal Edi merasa perlu mengadakan serangkaian pergantian itu. Di samping meneken surat keputusan pengangkatan pimpinan baru, Jenderal Edi juga memutuskan pembubaran Komando Pelaksana Operasi (Kolakops) Timor Timur. Likuidasi lembaga itu tentu memberikan citra lebih baik di mata internasional, karena kehadiran ABRI di Tim-Tim tinggal untuk pembinaan teritorial, bukan lagi operasi tempur yang memberi kesan seram. ''Semua sasaran tercapai, sederhana,'' kata Jenderal Edi. Dan serah-terima jabatan Panglima ABRI dari Jenderal Edi ke Jenderal Feisal itu, mungkin, termasuk yang dimaksudnya sebagai salah satu sasaran. Sebab, usia Jenderal Edi sejak April lalu sudah mencapai 55 tahun, usia tertinggi untuk seorang Panglima ABRI bila tanpa perpanjangan. Seperti disebut di atas, ia tak mungkin memimpin dua lembaga, yakni Departemen Hankam dan Mabes ABRI. Namun ada yang menduga-duga soal kesehatan. Padahal, belakangan ketika merangkap sejumlah jabatan, Jenderal Edi justru kelihatan bugar. Kecuali bermain golf, ia masih tangguh di lapangan tenis, sedikitnya empat kali seminggu, plus olahraga menembak. Sabtu pekan lalu, Jenderal Edi langsung diantar sejumlah perwira tinggi meninggalkan Mabes ABRI di Cilangkap setelah seluruh pergantian pimpinan teras ABRI purna. ''Hari ini secara resmi saya meninggalkan tugas keprajuritan. Selanjutnya, saya mempersiapkan diri memasuki masa pensiun dengan bangga,'' katanya. Kini ABRI di bawah Jenderal Feisal. Tampaknya, tak akan ada lagi pergantian besar-besaran seperti masa tiga bulan Jenderal Edi. Duet dua jenderal lulusan AMN ini kiranya akan mewarnai masa depan ABRI serta masalah pertahanan dan keamanan. Menurut pengamat ABRI Brigjen Purn. Soedibyo, yang kini menjadi salah satu peneliti di CSIS dan Lembaga Pengkajian Strategis Indonesia (LPSI), duet EdiFeisal akan lebih banyak berkonsentrasi melihat masalah sosial yang berpengaruh pada keamanan dengan cara yang lebih terbuka. Keduanya saling melengkapi. Edi mencanangkan back to basic, dan Feisal dengan peningkatan sumber daya manusia. ''Soal keamanan bukan dalam arti sempit, tapi dalam konteks sosial ekonomi,'' katanya. Untuk tugas-tugas itu, tentu ada pertanyaan sampai kapan Feisal menduduki jabatan Panglima ABRI. Usia Feisal kini 54 tahun. Namun, untuk jabatan itu, ia bisa diperpanjang setiap tahun sampai usia 60 tahun. Artinya, ada kemungkinan ia bisa menjadi Panglima ABRI sampai 1988. Namun, menurut Brigjen Soedibyo, Presiden mempunyai misi dan constrain, misalnya usia, dalam menunjuk Panglima ABRI. Bila usia mendekati pensiun, memang yang bersangkutan bisa diperpanjang terus. Tapi, katanya, ini akan berakibat karier perwira di bawahnya macet. ''Ini bisa menimbulkan instabilitas di ABRI. Tapi, kalau yang di atas diganti, yang di bawah akan naik. Semuanya tergantung Presiden. Sedikit beda penglihatan pengamat politik militer Dr. Salim Said. Masa jabatan Jenderal Feisal akan berakhir lima tahun lagi, seperti kebiasaan yang berlaku selama ini. ''Sebab, Pak Harto tak suka mengganti orang di tengah perjalanan,'' katanya. Namun, tambahnya, kalau mau, Presiden mempunyai hak prerogatif untuk menggantinya kapan saja. Lain halnya dengan Jenderal Edi yang cuma tiga bulan. Itu semata untuk memberikan kesempatan kepada lulusan AMN angkatan pertama tampil sebagai pimpinan puncak. Ini sebuah kehormatan bagi lulusan AMN. Jadi, kata Salim Said, ''Yang ditekankan adalah peran AMN sebagai tempat kaderisasi pimpinan ABRI.'' Tanda-tanda Feisal bakal naik mulai tampak sejak dipercaya menjadi Ketua Dewan Kehormatan Militer (DKM). Sebuah tim intern Angkatan Darat dengan anggota sembilan jenderal yang bertugas mengusut keterlibatan anggotanya dalam menangani peristiwa berdarah Santa Cruz, Dili, 12 November 1991. Hasilnya, sejumlah perwira ditindak. Pangdam Udayana Mayjen Sintong Panjaitan, misalnya, dicopot dari jabatannya, Panglima Kolakops (ketika itu) Brigjen Warouw diberhentikan dari dinas militer. Atas keberhasilannya, Feisal kemudian ditunjuk menjadi Kepala Staf Umum ABRI, menggantikan Laksdya Soedibyo Rahardjo sepuluh bulan lalu. Kini Feisal tampil menjadi orang nomor satu di ABRI. Siapa yang disiapkan menjadi penggantinya? ''Kalau Presiden tak punya keperluan politis untuk mengganti Panglima ABRI, ia akan mengikuti kebiasaan, yakni menggantinya menjelang sidang umum MPR,'' kata Salim Said. Tentang rencana Feisal lima tahun ini mau meningkatkan sumberdaya manusia, masih menurut pengamatan Salim Said, tentu akan ada implikasinya bahwa peranan langsung politik ABRI akan berkurang. Ini dinilainya sejalan dengan ide Jenderal Edi tentang back to basic, bahwa tentara semestinya mengembangkan dirinya sebagai alat keamanan. ''Inilah yang dicita-citakan Jenderal Purn. A.H. Nasution agar tentara tak terlibat di mana- mana,'' katanya. Yang diharapkan, tambahnya, kehadiran ABRI cukup di tempat-tempat tertentu guna menjaga Pancasila agar tak diselewengkan. Inilah, antara lain, tugas yang harus dilaksanakan duet dua jenderal berbintang empat pertama AMN itu. Agus Basri, Bambang Soejatmoko, dan Indrawan

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836567660



Nasional 8/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.