Nasional 8/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ia mimpi disengat lebah dari ...

Kartini ingin membebaskan kaum wanita namun tersandung adat. dari surat-suratnya yang belum disensor, ia mengungkapkan kekecewaannya mulai dari dipingit, tidak jadi belajar ke belanda, dilamar bupati rembang, dst.

i
PADA suatu hari, pada akhir tahun 1890-an, datanglah seorang Belanda ke Jepara. Ia telah mendengar tentang putri-putri Bupati Jepara R.M.A.A. Sosroningrat yang pintar dan cerdas. Ia pun meminta agar bisa ditemukan dengan "para putri" itu. Betapa kecewanya ia, "Bupati" bisiknya, "saya telah membayangkan kegemerlapan pakaian dunia Timur yang gemilang dan fantastis. Tetapi ternyata anak-anak Tuan begitu sederhana." Para "putri" itu dengan susah payah menahan ketawa mereka. Mereka sangat gembira. "Masya Allah, karena sungguh-sungguh dia tidak tahu, ia telah menyampaikan pujian yang setinggi-tingginya," kata salah seorang "putri" itu, Raden Ajeng Kartini. Kartini dan adik-adiknya memang sangat sederhana, meski mereka putri Bupati, suatu jabatan tinggi dalam pemerintahan jajahan Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 itu. "Panggil aku Kartini saja," tulisnya pada Stella Zeehandelaar, ketika mereka mulai berkorespondensi pada 25 Mei 1899. Waktu itu Kartini berusia 20 tahun. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, Jepara. Ayahnya waktu itu menjadi wedana di sana. Ibunya adalah Mas Ajeng Ngasirah, anak Kiai Haji Modirono, seorang guru agama terkenal, yang dinikahi Sosroningrat pada 1872. Pada 1875 Sosroningrat menikah lagi dengan putri ningrat Raden Ajeng Woerjan, putri Bupati Jepara R.A.A. Tjitrowikromo yang kemudian digantikan Sosroningrat pada 1890. Istri kedua inilah yang kemudian menjadi garwa padmi (istri pertama) dan Ngasirah menjadi garwa ampil. Di zaman itu feodalisme begitu kuat dan ketat. Ngasirah sendiri harus memanggil anak-anak kandungnya sendiri Ndoro, sedang mereka memanggilnya Yu. Hanya kepada garwa padmi para putra-putri Bupati Jepara itu memanggil Ibu. Betapa kakunya adat ningrat waktu itu digambarkan oleh Kartini. "Adik saya tidak boleh mendahului saya, kecuali dengan merangkak (mlaku dodok) di tanah. Kalau adik duduk di kursi dan saya lewat, maka ia harus segera turun dan duduk di bawah dengan kepala tunduk, sampai saya jauh melewatinya ...." Toh Kartini beruntung. Ayahnya adalah putra dari Bupati Demak Pangeran Ario Tjondronegoro yang dikenal sangat progresif pada zamannya. Ia adalah bupati pertama di Jawa Tengah yang memberikan pendidikan Barat pada putra-putranya. Sifat ini diwarisi Sosroningrat. Ia menyekolahkan semua anaknya, lelaki dan perempuan, ke Europese Lagere School (ELS), sekolah gubernemen kelas satu yang memakai bahasa pengantar bahasa Belanda. Maka, pada 1885 mulailah masa pendidikan Kartini yang paling dinikmatinya. Untuk diketahui, gadis pribumi yang bersekolah Belanda saat itu amat langka. Menurut catatan, pada 1898 hanya ada 11 gadis Indonesia yang bersekolah di ELS di Pulau Jawa. Betapapun progresifnya Sosroningrat, ternyata ia tetap memegang teguh adat bangsawan yang kolot. Tatkala Kartini berusia 12 1/2 tahun dan telah tamat ELS, ia memerintahkan agar Kartini masuk pingitan. Sambil berlutut dan menangis, Kartini memohon pada ayahnya agar diizinkan menyusul saudara-saudara lelakinya bersekolah HBS di Semarang. Tapi jawaban ayahnya tegas. "Tidak". Maka, rumah kabupaten yang luas dengan tembok yang tinggi menjadi pagar yang mengungkungnya. Itu terjadi pada akhir 1891 atau awal 1892. "Berlalu sudah! Masa mudanya yang indah sudah berlalu! Berlalu sudah semua yang merupakan kegembiraan dalam hidup kanak-kanaknya yang muda. Ia merasa masih kanak-kanak sekali dan ia memang masih anak juga, tapi adat menggolongkannya sebagai orang dewasa," tulis Kartini menggambarkan nasibnya dalam salah satu suratnya pada Ny. Abendanon. Dalam pingitan itulah rupanya Kartini mengasah pemikirannya yang semakin tajam. Ia bertanya, bertanya, dan bertanya terutama pada diri sendiri dan berusaha menemukan jawabannya. Ia tidak menemukan jawaban itu pada buku-buku pelajarannya karena ia segera menemukan bahwa belajar tanpa bimbingan guru ternyata kurang berguna. Empat tahun Kartini dalam pingitan, adik-adikntya Roekmini dan kemudian Kardinah menyusulnya. Baru dua tahun kemudian mereka dibebaskan, berkat desakan terus-menerus dari Residen Sijthoff dan Ny. Ovink Soer, istri asisten residen Jepara. Itu terjadi pada 2 Mei 1898. Hari itu Tiga Saudara -- Kartini, Roekmini dan Kardinah -- diajak ke Semarang untuk merayakan hari penobatan Ratu Wilhelmina. Untuk pertama kalinya Kartini bertiga keluar Jepara. "Itu merupakan kemenangan lagi yang sangat, sangat besar, maka juga sangat kami hargai .... Tapi aku toh tidak puas, masih jauh dari puas. Aku mau merdeka, mau berdiri sendiri, agar supaya tidak bergantung pada orang lain ...," tulis Kartini tentang hari itu. Sekali Bupati Sosroningrat diminta KITLV untuk menyumbang tulisan. Ia mengirim tulisan Kartini, yang ditulis pada 1895 (pada usia 16 tahun) yang berjudul "Upacara Perkawinan Suku Koja". Ternyata, karangan itu dimuat dan nama Kartini pun mulai dikenal. Apalagi setelah tulisan-tulisannya yang lain dimuat dalam majalah-majalah. Lewat iklan di majalah De Hollandse Lelie Kartini kemudian memperoleh sahabat penanya yang pertama Stella Zeehandelaar. Lalu ia memperoleh sejumlah teman pena lain. Maka, mulailah suatu periode baru dalam hidup Kartini. Ia melukiskan dan menguraikan cita-citanya, ulasannva, juga kecaman-kecamannya pada pemerintah Belanda lewat surat-surat itu. Ia berusaha mengenal secara dalam kehidupan rakyat sekitarnya. Ia pun menemukan sesuatu: untuk mengangkat derajat wanita Indonesia, pendidikan bagi mereka mutlak perlu. Untuk itu perlu didirikan sekolah buat wanita bumiputra. Putri Bupati Jepara itu makin terkenal. Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadat, dan Kerajinan J.H. Abendanon dan istrinya -- yang mendengar kecerdasan Kartini dari Snouck Hurgronje -- pun datang ke Jepara. Segera antara mereka terjalin persahabatan yang erat. Muncullah kemudian gagasan itu: mengapa kepada Kartini dan adik-adiknya tidak diberi beasiswa sehingga mereka bisa belajar di negeri Belanda? Yang memperjuangkan agar Kartini bisa memperoleh beasiswa itu adalah Ir. H.H. van Kol, anggota parlemen Belanda yang sebagai insinyur pertanian pernah tinggal di Tegal sampai 16 tahun. Ceritanya, sebelum Van Kol mengadakan perjalanan kembali ke Jawa, permulaan 1902, Stella Zeehandelaar, teman bersurat Kartini, menyarankan kepada Van Kol agar mengunjungi putri-putri Sosroningrat itu. Stella, yang satu partai dengan Van Kol, menjelaskan bagaimana keinginan Kartini dan Roekmini untuk bisa belajar ke Belanda. Begitulah, 20 April 1902, Van Kol yang didampingi wartawan De Locomotief, Stool, tiba di Jepara disambut sebagaimana layaknya orang penting. Maklum, perjalanan ini sebagian dari perjalanan dinas. Begitu ramahnya sambutan Bupati Jepara, sampai-sampai Van Kol, yang sedianya tidur dihotel, menerima tawaran tidur di rumah Bupati. Inilah kesempatan Van Kol mengenal dan berbincang-bincang dengan Kartini, termasuk membicarakan beasiswa itu. Kartini dimintanya membuat permohonan segera. Tentu saja, tak semudah itu Kartini melangkah. Ia memerlukan izin dari orangtuanya. Ia yakin, ayahnya yang progresif dan modern itu akan memberikan izin untuk suatu cita-cita yang mulia. Tapi ibu? Yang masih mengagungkan adat-istiadat feodal itu? "Saya sendiri tidak tahu dari mana saya dapat bersikap dan bicara begitu tenang, tatkala saya menghadap Ibu," tulis Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer. Ibunya, yang semula berusaha mencegah, akhirnya memberikan izin. Yang dimaksudkan ibu adalah R.A.A. Sosroningrat, garwa padmi Bupati Jepara, jadi ibu tiri Kartini, tapi ibu kandung Roekmini. Kartini menulis permohonan kepada Ratu Belanda lewat Ir. Van Kol tertanggal 21 Juni 1902. Dalam surat pribadi yang menyertai permohonan itu, ia menceritakan bagaimana sulitnya mendapatkan izin dari orangtuanya. "Bagi mereka adalah sangat berat untuk melepaskan anaknya yang tercinta, kepada suatu kehidupan yang pasti akan sarat dengan berbagai kesulitan seperti layaknya nasib semua perintis di bidang apa pun dan pada zaman apa pun," tulis Kartini. Van Kol memperjuangkan beasiswa itu dalam sidang Tweede Kamer pada 26 November 1902. Ia orator ulung, apalagi pernah tinggal di Hindia Belanda. Suaranya amat didengar. Menteri Seberang Lautan (yang mengurusi tanah jajahan) A.W.F. Idenburg langsung menyetujui untuk memproses beasiswa itu. Kartini dan Roekmini, yang dikabari kemudian, bersorak lega. "Kami tak akan habis-habisnya berterima kasih untuk segala yang telah Tuan kerjakan bagi kami. Utang kami kepada Tuan tak akan dapat terbayar kembali, utang itu akan kami bawa ke dunia yang lain," tulis Kartini untuk Van Kol tertanggal 3 Januari 1903. Tapi, mengapa Kartini dan Roekmini kemudian batal ke Belanda? Dalam berbagai buku yang terbit selama ini, kegagalan dua bersaudara itu ke Belanda karena dipengaruhi oleh keluara Abendanon. Rupanya, setelah tulisan Stoll di harian De Locomotief yang menceritakan pertemuan Van Kol dengan keluarga Bupati Jepara itu beredar, para pejabat Belanda di Batavia sudah gelisah. Jauh sebelum Van Kol memperjuangkan beasiswa itu di parlemen, istri Abendanon yang kelahiran Porto Rico mengirim surat kepada Kartini dan menyebutkan, pergi ke Belanda hanya akan menjadikan Kartini -- dan anak-anak didiknya di kemudian hari -- menjadi "setengah Belanda". Apa kata Kartini? "Kami sama sekali tidak bermaksud membuat murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa Eropa. Dengan pendidikan bebas itu kami justru membuat orang Jawa menjadi orang Jawa sejati. Orang Jawa yang menyala-nyala dengan semangat dan cinta terhadap tanah air dan bangsanya, yang terbuka haknya." Gagal lewat surat, Nyonya Abendanon mempengaruhi Kartini lewat Annie Glaser, wanita Belanda yang menjadi guru di Jepara. Usaha ini pun gagal pula. Bahkan Dr. Nicolaus Adriani, ahli bahasa yang dikirim ke sini oleh Perkumpulan Kitab Injil Belanda, ikut-ikutan menjegal niat Kartini dengan mempengaruhi Van Kol. Pun tak berhasil. Tapi perjalanan nasib Kartini adalah perjalanan sebuah tragedi. Hari itu, 24 Januari 1903, J.H. Abendanon datang ke Jepara, tanpa memberi tahu sebelumnya. Ia mengajak Kartini mengunjungi Klein Scheveningen, sebuah pantai yang punya kenangan dalam di hati putri ningrat ini. Di sinilah Abendanon membujuk Kartini. Berbagai alasan dijadikan dalih. Antara lain, Kartini bisa jadi dilupakan oleh masyarakat Indonesia, masyarakat yang mau dibelanya. Kartini bisa menjadi nona Belanda. Siapa yang memperhatikan ayahandanya yang sedang sakit? Gadis sederhana yang ingin memperjuangkan wanita sebangsanya ini luluh di depan Abendanon. Ia langsung menyatakan batal ke Belanda dan menyetujui usul Abendanon untuk mengirim permohonan ke Gubernur Jenderal agar diberikan beasiswa untuk bersekolah di Batavia saja. Khawatir Kartini berubah sikap, Abendanon memintanya agar membuat permohonan hari itu juga. Bahkan kalimatnya didiktekan orang Belanda ini. Hanya lampirannya, yang terkenal kemudian dengan Nota Kartini ia tulis sendiri. Esoknya, 25 Januari, dengan mengantungi permohonan atas nama Kartini dan Roekmini, Abendanon kembali ke Batavia. Dan sore itu Kartini tergeletak di kamarnya. "Lama sekali saya memandang pada kertas di depanku ini, tetapi hanya sampai pada pembukaannya saja," tulis Kartini di sore itu untuk surat yang ditujukan kepada Abendanon yang baru saja berlalu. Inilah surat keresahan, "gejolak perasaan dari jiwa yang tercekik", katanya. Dua hari kemudian, Kartini menulis lebih panjang tentang keresahan itu ditujukan kepada putra Abendanon, Eddy. Disusul lagi surat 31 Januari. Cuma, kehalusan tutur bahasa wanita ini membuat keresahan itu tak mencuat karena dibalut rasa hormat. Itulah yang selama ini diketahui lewat kumpulan surat-surat Kartini dalam buku Door Duisternis tot Licht. Ternyata, seperti kemudian terungkap dalam surat-surat Kartini yang selama ini disembunyikan Abendanon, terungkap alasan sesungguhnya mengapa Kartini membatalkan rencananya. Dalam suratnya kepada Abendanon dan istrinya terungkap adanya intrik-intrik di kalangan tinggi pemerintah Hindia Belanda untuk menggagalkan kepergian Kartini ke Belanda (lihat Kami ini Demokrat sampai ke Sumsum). Kartini sendiri sangat menyadari itu. "Kami ingin dan harus menyadari apa latar belakang usul-usul yang ditolak itu. Apa permainan di belakangnya? Tetapi kami khawatir akan terperosok dalam sangkar lebah macam-macam intrik. Permainan apa yang dimainkan Bupati Demak dalam urusan ini? Ah, semua harus tunduk kepadanya," tulisnya pada 12 Oktober 1902. Dalam surat pada Ny. Abendanon itu pula terungkap bagaimana "nekat"-nya Kartini terhadap Bupati Demak yang diduganya ikut menggagalkan cita-citanya pergi ke Belanda. "Bahwa kami tidak mau berlutut di mukanya, ia tahu. Mula-mula ia ramah. Rupanya, ia mengharapkan kami akan berlutut dan mencium tanah di hadapannya. Mukanya yang ramah menjadi merah padam dan makin gelap tatkala ia melihat bahwa kami tidak berbuat demikian. Kami tetap berdiri atau duduk bersama Tuan Residen. Kami tidak mempedulikan mereka, pikiran kami tidak pada mereka ...." Tulisnya lebih lanjut. "Pada waktu pengantin wanita mencium lutut sang pengantin pria, semua yang hadir ikut berlutut. Semua bupati, semua raden ayu duduk di atas tanah. Hanya kami yang lututnya kaku, tetap berdiri seperti lilin di atas mereka yang berlutut". Apa yang dilakukan Kartini itu benar-benar "pemberontakan" terhadap adat dan sistem yang berlaku saat itu. Tidak heran bila Abendanon menyensor surat itu dalam Door Duisternis tot Licht. Surat ini dengan jelas sekali, untuk pertama kalinya, menggambarkan betapa jauh langkah Kartini. Secara terbuka dan sengaja ia telah melanggar "aturan main" saat itu. Bahwa hal itu dilakukan oleh seorang wanita lebih memberi bobot pada keberaniannya. Tidak heran kemudian Kartini makin banyak menghadapi intrikpolitik dan teror untuk membatalkan kepergiannya ke Belanda. Teror untuk dirinya dihadapi dengan berani. Tetapi teror untuk keluarganya? Surat kakaknya itu, panggilan ibunya itu, lalu sakit ayahnya itu, bagi Kartini adalah tikaman. Kartini menghadapi jalan simpang: rasa hormat dan sayang kepada ayah-ibunya, dan cita-cita untuk "mengepakkan sayap terbang mencari ilmu ke Eropa untuk mengangkat derajat wanita bumiputra". Kartini ternyata kembali ke sikap wanita Timurnya: memilih berkorban demi ketenteraman keluarga dan mengorbankan pamrih pribadi. Ia tidak ingin menjadi penyebab kematian ayahnya. Padahal, ia pernah berkata bahwa tidak ada apa pun yang bisa menghalanginya pergi ke Belanda. Ternyata, ia kembali ke sikap yang pernah dikatakannya pada Stella, "Kami ini hanya manusia biasa, wanita Jawa dalam tembok tradisi yang kukuh." Ketika beasiswa dari Belanda benar-benar datang, Kartini mengusulkan supaya yang berangkat Agus Salim, "pemuda Sumatera dari Riau" yang tak dikenal Kartini, kecuali prestasinya di HBS. Tragedi ternyata tidak pernah datang sendiri. Ia selalu membawa kawan. Saat menunggu keputusan beasiswa dari Batavia, tiba-tiba Bupati Sosroningrat menerima utusan Bupati Djojoadiningrat dari Rembang yang membawa surat lamaran untuk Kartini. Kedua bupati ini saling mengenal baik. Dalam surat-surat Kartini yang sudah beredar, ada kesan Kartini tak berdaya menghadapi cobaan itu. Ia lalu menyetujui saran ayahnya untuk kawin, dengan berbagai alasan, antara lain, di Rembang toh bisa meneruskan cita-citanya membuka sekolah didampingi seorang suami yang berpendidikan tinggi dan punya kekuasaan. Keguncangan Kartini tak mencuat. Gambaran seperti ini menjadi sirna dengan terbitnya buku yang baru pekan ini. Ternyata, lamaran ini adalah pukulan dahsyat, teramat dahsyat. Kartini menulis di sebuah kartu pos -- karena tak mampu menulis panjang -- kepada Nyonya Abandenon, 7 Juli. "Roekmini sedang sakit. Mama kurang enak badan. Saya sepertinya demam. Tapi saya tidak sakit. Saya merinding, berganti panas dingin. Mata saya panas. Toh saya ulangi lagi, saya tidak sakit. Saya susah tidur. Apakah Anda punya obat?" Mama yang ia maksudkan dalam kartu pos itu adalah ibu kandungnya, Ngasirah. Kentara bahwa Kartini bingung, karena sebelum menulis di kartu pos itu, ia sudah menulis surat, tapi juga pendek yang isinya (sudah dimuat dalam DDTL): "Besok kami mengajar sembilan orang murid, sebagai pelipur hati kami berdua. Banyak lagi permintaan baru, di antaranya dari orang tua bangsa Melayu. Suatu kemenangan! Demikianlah hidup ini, jatuh dan bangun, tersandung dan maju terus, kalah dan menang." Tragedi macam apakah ini? Saat Kartini bingung di Jepara karena sudah menentukan sikap bersedia kawin, Gubernur Hindia Belanda mengeluarkan keputusan mengabulkan beasiswa Kartini dan Roekmini. Abendanon yang sebelumnya tahu dari surat Roekmini bahwa Kartini dilamar dan menduga belum menentukan sikap -- segera mengirim telegram. Kartini menerima telegram itu 9 Juli. Surat Kartini hari itu seolah menjerit pedih: Berita yang kami harapkan telah datang -- satu hari terlambat. Kemarin surat telah dikirimkan dan hari ini telah diterima oleh si penerima, surat mana adalah pemberitahuan kepada Bupati Rembang, bahwa kami menerima lamarannya. Saya tak dapat menulis banyak pada Anda, pikiran saya bingung .... Walau surat ini lebih panjang dari surat di kartu pos, bagi Kartini yang pernah menulis surat 48 halaman, terasa amat pendek. Dan esoknya, Kartini kembali menulis surat untuk keluarga Abendanon, ia seperti bangkit lagi dengan cita-citanya. Sebagian kutipannya: Teman-teman yang baik. Tentu Anda mengerti bahwa kami masih berusaha untuk dapat ke Batavia. Sedikit harapan, memang. Tetapi, selama ada kehidupan, masih ada harapan. Ada desas-desus bahwa residen akan mencoba menarik permohonan kami. Apakah ini dapat terjadi tanpa permintaan kami? Syukurlah bahwa kami tidak pernah mengandalkan diri pada seseorang, dan kini kami tidak sedih disebabkan pemikiran yang berubah dari semua orang yang semula katanya membantu kami. Kalau Adik (Roekmini maksudnya) sudah sembuh, kami akan ke Semarang. Ada kesan Kartini ingin mendobrak dan kembali nekat ke Batavia. Untuk apa ke Semarang? Sudah ia katakan, ada desas-desus permohonan beasiswanya akan dijegal di keresidenan. Keputusan Gubernur Jenderal memang baru tiba 21 Juli di Semarang dan kemudian diterima Kartini 24 Juli, tak jelas adakah keterlambatan itu karena penjegalan atau birokrasi dan masalah transportasi semata-mata. Begitu SK di tangan, Kartini sudah tak mempedulikannya lagi. "Manusia biasa anak seorang ningrat Jawa" itu sudah tak tahan melihat penderitaan ayahnya yang sakit-sakitan, dan perkawinannya adalah obat untuk ayahandanya. Surat Kartini yang panjang dan diawali dengan kata Pribadi (tak biasanya ia menulis kata pribadi, dan mungkin lantaran itu surat ini disensor ketika Abendanon masih hidup) yang ditujukan kepada Nyonya Abendanon tertanggal 14 Juli, cukup menjelaskan. Kutipannya, antara lain: Saya telah menangguhkan surat saya hingga pikiran saya tenang kembali. Terimalah berita sedih dengan segera, makin lekas makin baik. Kami telah kalah. Saya tak bisa menjadi penyebab kematian ayah saya, yang akan membawa petaka kepada semua yang saya cintai. Lebih baik saya bunuh diri daripada membuat nasib jelek semua yang saya cintai. Saya tak usah menceritakan pada Anda, bagaimana perjuangan saya untuk melawan hati nurani saya yang merupakan keyakinan yang paling sakral. Semoga Ayah dan Ibu tidak mendapatkan buah yang pahit dari terlaksananya keinginan mereka itu. Kini saya tak lain daripada semuanya, seperti beribu-ribu orang lain yang ingin saya tolong. Tetapi saya malah memperbanyak jumlah mereka. Oh Tuhan, Tuhan, ampunilah aku .... Benarkah ini kehendak-Mu, o Tuhanku, ampunilah aku. Dalam surat ini juga dijelaskan bagaimana proses lamaran itu terjadi, bagaimana syair yang diminta Kartini. Mengharukan, karena disini menyangkut perjuangan dasar sejak mula pertama Kartini dipingit, yang antipoligami. Kini ia justru menjadi korban poligami. Bupati Rembang tidak punya lagi garwa padmi, dan justru Kartini itu yang akan dijadikan "permaisuri" untuk mendampingi tiga "selir" yang beranak enam itu. Perkawinan itu belangsung 8 November 1903. Kartini cukup memakai untaian bunga melati, tanpa baju pengantin, tanpa berlutut dan mencium kaki suaminya -- syarat yang ia ajukan sebagai bukti perjuangan emansipasinya. Tiga hari kemudian ia diboyong ke Rembang. Kepada Nyonya Abendanon Kartini meminta kado pengantin berupa buku-buku, dari pengarang terkenal Tolstoi, Ritter, Vosmaer, Jonathan, Limburg Brouwer, Kipling, dan masih banyak lagi. Dari daftar buku ini -- ada novel, filsafat, sajak, drama -- ketahuan bagaimana tingkat intelektual Kartini. Periode Rembang adalah priode kemunduran Kartini -- diukur dari jumlah surat. Dari surat yang jarang itu, kebanyakan ia memuji suaminya, menyatakan kebahagiaannya mendidik enam anak tiri, murid di sekolahnya yang bertambah terus. Ada satu surat panjang tertanggal 8 Juni 1904 kepada Nyonya Abendanon, di situ terselip keinginan Kartini jika anaknya perempuan: Apa yang saya inginkan baginya? Kehidupan yang dimulai oleh ibunya, semoga ia dapat menyelesaikannya. Ia tidak akan dipaksa untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perasaannya yang sedalam-dalamnya. Dua hal tersirat dari sini: Kartini mengalami berbagai paksaan dalam hidupnya dan merasakan itu sebagai penderitaan dan ia ingin anaknya menjadi "pelanjut dirinya". Dalam hamil tua ini, Kartini hanya bisa mengenang masa-masa lalunya dan membandingkan dengan kenyataan yang kini dialaminya. Ia mengenang ibunya yang menjadi istri kedua, membandingkan dengan dirinya yang menjadi istri pertama. Tentang dirinya yang beribu dua ini selama ini belum pernah diketahui perasaan Kartini. Kini dalam surat untuk Nyonya Abendanon, tertanggal 21 Desember 1900, yang baru diumumkan pekan ini, terungkap deritanya tentang nasib ibu kandungnya. Kutipannya: Saya mempunyai dua ibu. Saya tak pernah menceritakan ini pada seorang pun juga tidak kepada Nyonya Ovink, teman yang saya percayai sebagai ibu saya -- bahwa saya telah mengenal neraka dari dekat. Saya hidup dalam neraka itu. Saya melihat orang menderita dan saya pun menderita sendiri melihat kepedihan mama saya, karena saya adalah anaknya. Ada hari-hari yang demikian tanpa harapan, sehingga saya menginginkan akhir kehidupan dan mungkin akan membunuh diri jika saya tidak mencintai ayah saya. Tentang Ibu, tentu ia tak dapat disalahkan bahwa ada waktu ia tak mencintai saya. Apa yang dibebankan kepadanya adalah di luar kemampuan manusia: membesarkan anak tirinya dengan anak kandungnya, sedangkan ia dari hari ke hari harus rela membiarkan ibu anak tirinya ada di sampingnya -- meskipun orang tersebut tidak lebih dan seorang pembantu baginya. Ibuku sayang, mamaku sayang. Mama saya sudah mengetahui bahwa pada suatu hari ia akan mendapat seorang majikan, Ayah tidak pernah menjanjikannya bahwa ia akan tetap satu-satunya istri, dan pada waktu Ibu menikah, ia pun tak mengetahui bahwa Mama ada, anak-anaknya yang sudah ada dan anaknya yang akan datang. Pangkat, kehormatan, kewibawaan, telah menikah .... Memang tragis bahwa kemudian Kartini terjegal oleh kelemahannya sendiri, dan menjadi korban poligami yang ditentangnya selama bertahun-tahun. Toh tampaknya ia berusaha menerima nasib, meski di luar -- melalui surat-suratnya yang semakin jarang -- ia mencoba menunjukkan bahwa ia merasa bahagia dengan kehidupannya yang baru, sebagai first lady di Kabupaten Rembang. Dalam surat-surat itu digambarkannya kebahagiannya bahwa ia akan segera menjadi ibu. Sampai tibanya hari itu, 17 September 1904. Kartini meninggal 4 hari setelah melahirkan anaknya. Adakah kematiannya itu diselimuti kegelapan? Jika ada "dugaan-dugaan", itu karena surat Kartini paling akhir, tanggal 7 September kepada Nyonya Abendanon, ketika Kartini menerima hadiah pakaian bayi. Ia menulis: Pada waktu kemarin kami menerima hadiah Ibu, suami saya mengatakan: "Tulislah surat segera kepada Ibu, jangan-jangan nanti terlambat." Ada lubang kecurigaan di sini, kenapa Kartini, yang hamil tua itu, dipaksa menulis surat segera? Apa maksudnya dengan kata terlambat? Dalam buku yang akan terbit, dimuat juga surat Djojoadiningrat kepada Abendanon, tertanggal 25 September 1904. Isinya: Tuan Direktur yang terhormat, Kemarin saya menerima surat Anda yang saya hormati. Saya sangat berterima kasih untuk ucapan belasungkawa. Tuhan memang telah memberi cobaan berat kepada saya, akan tetapi mudah-mudahan saya dapat tabah menerima nasib sesuai dengan semangat ia yang saya cintai. Mengenai sebab-sebab meninggalnya, dengan ini saya menerangkan: Pada tanggal dua bulan ini ia merasa akan menjadi ibu. Karena dokter umum di sini yakni Dokter Boerma tidak ada, maka saya meminta Dokter V. Ravesteijn dan Pati, yang terkenal sebagai dokter yang pandai. Hari berikutnya, dokter tersebut datang kemari, dan pada malam harinya sekitar jam 9.30 anaknya lahir. Persalinan tidak begitu mudah karena anaknya relatif besar. Dokter Ravesteijn harus memakai alat untuk mempercepat persalinan. Bahwa Raden Ayu merasa sangat lelah dapat dimengerti, tetapi tanpa kekhawatiran dokter pergi ke Pati malam itu juga. Kecuali tegang di perut, Raden Ayu tidak apa-apa. Empat hari kemudian, dokter datang ke sini lagi: ia mengatakan ketegangan adalah akibat dan luka-luka yang disebabkan oleh persalinan. Jadi, suatu gejala yang biasa. Ia memberi Raden Ayu obat, akan tetapi setengah jam sesudahnya ketegangan bertambah dan tidak lama sesudahnya ia mengembuskan napas yang penghabisan dalam pelukan saya dan di tunggui dokter. Salah satu orang yang ingin "mengusut" kematian Kartini adalah Nyonya Nellie van Kol, istri Van Kol. Ia menanyakan kepada Roekmini apakah Kartini, yang dikenal bisa "membaca masa depan", punya tanda-tanda sebelum kematiannya. Roekmini membalas surat itu, 21 Juni 1905. Kutipannya: Tatkala masih gadis dan kami bertiga masih kumpul, Ayunda sering bilang bahwa ia tidak mau hidup lebih lama dari 25 tahun .... Waktu ia mengandung, ia berkali-kali menulis kepada saya: "Kalau saya umpamanya tidak dapat merawat anakku lagi, maukah kau memeliharanya?" Saya kira wanita dalam keadaan hamil kadang-kadang merasa susah, tetapi Ayunda yakin benar. Kalau suaminya bicara tentang hari kemudian dan tentang kemungkinan ia akan meninggal dunia, Ayunda memotong, "Tidak, Kanda, dari kita berdua aku nanti yang meninggal lebih dulu. Lihat sajalah." Kartini tampaknya percaya pada mistik. Menarik bahwa dalam kumpulan suratnya yang terbit pekan ini ada beberapa cerita mengenai itu. Misalnya ini, surat Kartini bertanggal 22 Oktober 1903, kepada Nyonya Abendanon. Telah terjadi sesuatu yang aneh, waktu R.v.R (mungkin Regent van Rembang) bertamu di sini. Segerombolan lebah terbang ke arah kami, masuk ke dalam kamar, ke dalam lemari, dan di mana saja saya duduk dikerumuni lebah. Saya lari, gerombolan lebah tetap mengikuti .... Apakah ini bukan merupakan perlambang bahwa di dalam masa mendatang saya akan disengat lebah dari segala penjuru? Sejarah mencatat, Kartini dan cita-citanya yang luhur itu diserang dari segala penjuru, terang-terangan atau diam-diam. Dan bukan oleh lebah saja.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866213550



Nasional 8/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.