Nasional 8/11

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengapa mereka menyabung nyawa?

Sejumlah pengungsi kamboja terdampar di garut, karawang & jambi. penduduk & aparat setempat memberikan pertolongan sebelum mereka ditampung dipulau galang. kebanyakan mereka orang-orang berada.

i
"HAPPY New Year Khmer". Tulisan hias dari kertas berwarna-warni itu tertempel di atas pintu sebuah kamar di Wisma Ciliwung, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Di dalam bangunan berlantai dua ini memang ada sejumlah pengungsi dari Khmer (Kamboja), ada pula pengungsi Vietnam, dan orang asing lainnya. Kini penghuni wisma itu berjumlah 102 orang. Bangunan ini dulu milik perusahaan swasta, PT Setia Ciliwung, dan pernah digunakan sebagai asrama haji. Dalam beberapa tahun terakhir bangunan ini dijadikan tempat penampungan sementara pengungsi Kamboja yang dikelola oleh United Nations High Commission on Refugees (UNHCR) -- komisi tinggi PBB untuk urusan pengungsi. Menurut seorang petugas keamanan Wisma Ciliwung, rata-rata penghuni wisma tersebut sudah tinggal di sana di atas satu tahun. Sehari-hari seperti yang terlihat di situ, para imigran gelap ini cuma berleha-leha. Ada juga memang, di antara penghuni wisma tersebut yang membuat kursi rotan dan peralatan mebel lainnya. Mereka itu umumnya pengungsi dari Kamboja. Di sana memang disediakan "Balai Latihan Keterampilan" -- ruangan untuk mereka yang ingin bertukang. Hasil pekerjaan mereka ternyata lumayan, dan kelihatan sudah ada pula yang menampungnya. Senin sore pekan ini, misalnya, sebuah truk terlihat sedang memuat sejumlah barang kerajinan mereka, dan tentu saja untuk dipasarkan. Jakarta sesungguhnya bukan kota tujuan para pengungsi itu. Tujuan mereka adalah negara-negara Barat -- terutama Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Indonesia hanya tempat singgah sampai ada negara yang bersedia menerima mereka. Menurut catatan, rombongan pertama para pengungsi itu, sebanyak 10 orang, tiba di Jakarta, 16 Januari 1988. Enam orang di antaranya melapor ke kantor Kedubes Amerika Serikat, dan sisanya ke kantor Kedubes Australia. Enam hari kemudian, setelah diproses UNHCR, kesepuluh pengungsi itu diterbangkan oleh badan PBB tersebut ke Prancis. Sejak itu teman-teman mereka berdatangan terus ke Jakarta dalam bentuk rombongan kecil yang terdiri dua sampai lima orang. Ada yang melapor ke berbagai kedubes negara Barat, dan ada pula yang datang ke gedung PBB di Jalan Thamrin, Jakarta. Untuk selanjutnya mereka ditampung di Wisma Ciliwung -- begitu penduduk sekitar menyebut bangunan bekas milik PT Setia Ciliwung itu. Di samping di Wisma Ciliwung, Pemerintah Indonesia sejak 1979 sebetulnya sudah menyediakan Pulau Galang di Kabupaten Kepulauan Riau sebagai tempat penampungan sementara pengungsi Vietnam dan Kamboja. Meski perang di kawasan Vietnam dan Kamboja sudah mereda, toh para pengungsi itu (populer dengan sebutan "orang perahu") masih saja mengalir. Selama dua pekan terakhir saja tercatat sejumlah orang perahu dari Kamboja mendarat di Pameungpeuk, Karawang, dan Tanjungjabung -- dua lokasi pertama di Jawa Barat dan yang disebut terakhir di Jambi. Kedatangan orang-orang perahu di ketiga lokasi itu cukup menarik perhatian, karena selain jumlahnya cukup besar, mereka mendarat di pedesaan. Tentu saja kejadian seperti ini merupakan suatu peristiwa luar biasa bagi penduduk setempat. Tak heran bila pantai Sontolo, Pameungpeuk, sekitar 80 km dari Garut, yang selama ini sepi tiba-tiba berubah jadi seperti pasar sejak 54 orang Kamboja mendarat di sana 4 Mei lalu. Meskipun ada hambatan bahasa dalam berkomunikasi, toh dengan bahasa isyarat penduduk berupaya ramah dengan tamu-tamu "tak diundang" itu. Beberapa penduduk, misalnya, mengantar mereka berbelanja ke pasar desa. "Kami ingin menunjukkan pada mereka bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah," kata Dodo, tukang potret keliling di desa itu. Tapi cuma dua hari penduduk bebas bergaul dengan para pengungsi itu. Setelah itu "tamu-tamu" tersebut ditampung di Wisma Stasiun Peluncuran Roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Cilauteureun, Pameungpeuk, dan dijaga aparat keamanan. Tampaknya para pengungsi itu datang dari daerah berlainan. Itu terlihat dari cara mereka bergaul dengan sesamanya di tempat penampungan: berkelompokkelompok. "Warna kulitnya juga berbeda. Ada yang sawo matang seperti kita, ada pula yang berkulit kuning dan bermata sipit seperti keturunan Cina," kata Dodo. Kedatangan orang-orang perahu itu diketahui nelayan sepulang melaut pada 4 Mei itu. Mereka kaget melihat ada kelap-kelip lampu di gugus batu karang, sekitar 100 meter dari bibir pantai Sontolo, karena semua nelayan di sana tahu kalau tempat itu bukan jalur yang bisa dilewati perahu. Ternyata kelap-kelip lampu tadi berasal dari sebuah perahu. "Setelah saya hampiri, mereka cuma berteriak-teriak 'Kamboja ... Kamboja'," kata Mastoip menceritakan "penemuannya" pada dini hari itu. Karena penemuannya itu mencurigakan, Mastoip langsung naik ke darat dan melapor pada Koramil dan Polsek setempat. Sekitar pukul 06.00 pagi, dengan dipimpin langsung oleh Danramil dan Kapolsek, sejumlah petugas dibantu nelayan setempat mendatangi gugus karang tersebut. Di sana mereka menemukan sebuah perahu tua berukuran 5 x 12 meter tersangkut di batu karang. Perahu bermesin itu tampak rusak berat: lunasnya patah, lambung kanannya robek -- diduga karena terempas ke batu karang. "Kalau diperbaiki, mungkin biayanya bisa sampai Rp 30 juta," kata Obos, seorang nelayan Pameungpeuk. Di atas perahu itulah ke-54 pengungsi itu berdesakan, karena kapasitas perahu sesungguhnya cuma untuk 20 penumpang. Para pengungsi itu kebanyakan berusia muda, dan beberapa di antaranya anak-anak. Mereka mengaku berangkat dari Kompong Som, pelabuhan terbesar di Kamboja, pada pertengahan April lalu dengan tujuan Australia. Selama satu setengah bulan pelayaran, sebelum terdampar di pantai Sontolo, seperti ditulis Pikiran Rakyat terbitan 7 Mei, mereka mengaku sempat mendarat di salah satu pantai di perairan Indonesia (tak disebutkan di mana) karena mesin perahu mereka rusak. Mereka melanjutkan pelayaran setelah mendapat bantuan dari rakyat setempat. Diduga, merekalah rombongan manusia perahu yang sempat terdampar di Pulau Peucang, kawasan Taman Nasional Ujungkulon. Setelah mesin perahu mereka diperbaiki, petugas keamanan di perairan Selat Sunda itu menggiring mereka ke tengah laut pada 2 Mei lalu. Dua hari kemudian mereka terdampar lagi di Pameungpeuk. Sehari setelah rombongan ini mendarat di pantai Sontolo, peristiwa yang mirip terjadi pula di Tangkolak, sebuah desa pantai di Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang. Sabtu siang, 5 Mei, sejumlah nelayan melihat sebuah perahu berukuran 19 x 3,6 meter (dengan bobot sekitar 5 ton) kandas di batu karang, 1.500 meter dari pantai. Mereka lalu beramai-ramai menolong perahu nahas itu, yang ternyata berisi 65 pengungsi Kamboja -- terdiri dari 7 anak-anak, 43 pria dewasa, dan 15 wanita. "Tamu-tamu" itu kemudian ditampung di rumah salah seorang penduduk di desa itu, Sukadis, lalu orang pun ramai berkerumun melihat tamu asing ini. Tak sedikit di antaranya menunjukkan keramahannya dengan membawa berbagai jenis makanan, kue-kue, dan sebagainya. Malamnya, ketika petugas Muspika memeriksa ke sana, ternyata mereka tak punya surat apa pun selain selembar keterangan tentang ukuran dan bobot perahu mereka. Selama dua hari hubungan penduduk dengan para pengungsi begitu akrab. Sekalipun mereka tak bisa berbicara dengan penduduk setempat, mereka rajin berjalan-jalan keliling desa, ada pula yang bertamu ke rumah penduduk. Bahkan ada penduduk yang bersedia menemani tamu asing itu untuk buang air besar di jamban desa. Malah ketika Kamsuri, salah seorang warga desa, menyiapkan perhelatan pernikahannya, beberapa pengungsi Kamboja itu turut bergadang seperti para tetangga Kamsuri lainnya, dan tentu saja menikmati penganan yang dihidangkan di sana. Baru, mulai 7 Mei 1990, atas perintah Kapolres Karawang Letkol. Supriyadi, para pengungsi itu dipindahkan dari rumah Sukadis ke kantor KUD Mina Samudera Karya, dan keakraban penduduk dan pengungsi pun terputus. Sebab, para pengungsi itu dikawal dua hansip, dua polisi, dan dua tentara. Betapapun ramahnya penduduk desa-desa tersebut menyambut para tamu ini, toh mereka memang harus berpisah. Kamis pekan lalu, 65 pengungsi yang terdampar di pantai Cilamaya itu telah diangkut ke Jakarta. Dua hari kemudian, di tengah siraman hujan lebat, menyusul 54 pengungsi yang terdampar di Pameungpeuk. "Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju Pulau Galang untuk diproses," kata seorang petugas UNHCR kepada TEMPO. Yang tinggal di Cilamaya sekarang cuma perahu tadi. Meski lunasnya bocor dihantam karang, perahu itu masih terlihat utuh terdampar 500 meter dari garis pantai. Sedang di Pameungpeuk, perahu itu sudah jadi puing, papan bekas perahu itu berserakan di tepi pantai. Sebenarnya pada Sabtu yang sama, 79 pengungsi Kamboja yang lain berangkat pula meninggalkan Desa Nipah Panjang, Kabupaten Tanjungjabung, Jambi. Berbeda dengan di Karawang dan Garut, mereka ini diperkenankan berlayar menggunakan kapal trawl (pukat harimau) milik mereka. Malam itu, dengan menggunakan sebuah perahu bermesin, camat, kapolsek, dan komandan koramil setempat mengantarkan pukat harimau berisi pengungsi Kamboja itu sampai ke laut lepas di Selat Berhala. "Agar mereka bisa sampai ke Australia dan tak kembali lagi kemari," kata sebuah sumber TEMPO di sana. Camat Nipah Panjang, Mukhtar Muis, bangga karena ketika diberangkatkan para pengungsi itu dalam keadaan bugar. Selama berada di Nipah Panjang mereka dapat sumbangan bahan makanan dari penduduk. Malah ketika mereka akan berangkat, pejabat dan penduduk Nipah Panjang masih membekali mereka 600 kg beras, 15 drum solar, dan sejumlah pakaian bekas. Padahal, ketika pertama mendarat di sana, mereka kurus seperti mayat hidup karena kurang makan, dan lagi tubuhnya kotor karena berhari-hari tak mandi. Penduduk Nipah Panjang menemukan pukat harimau berisi pengungsi itu dalam keadaan kandas di Tanjungjabung pada 6 Mei. Mereka lalu melaporkan penemuan itu kepada polisi, dan kemudian pukat harimau tersebut diseret ke pantai. Ternyata kapal itu bocor. "Kalau kami paksa berlayar, mereka pasti mati tenggelam," kata Camat Mukhtar Muis kepada Bersihar Lubis dari TEMPO. Maka, Tripida setempat mengerahkan enam tukang kayu dan tiga ahli mesin yang ada di desa itu untuk memperbaiki pukat harimau tersebut. Menurut Camat Mukhtar, mereka menolong manusia perahu itu karena tahu kebijaksanaan Pemerintah Indonesia. "Kita malah menyediakan tempat penampungan di Pulau Galang," katanya. Tapi, selama enam hari kapal itu diperbaiki, para pengungsi tersebut tak diperkenankan tinggal di darat. Mereka ditampung di sebuah tongkang yang berlabuh di Nipah Panjang. Dilihat dari kondisi mereka yang mendarat di Jambi ini -- 26 wanita, 7 anak-anak dan bayi, selebihnya berusia 26 sampai 36 tahun -- mereka bukanlah kere di negerinya. "Kulit mereka bersih, malah ada wanita yang pakai kutek. Yang wanita rata-rata pakai cincin dan kalung, sedang prianya pakai jam tangan," kata Nyonya Bunari, pemilik tongkang tempat mondok pengungsi itu. Begitu pula pengungsi yang terdampar di Pameungpeuk. "Sulit mengatakan mereka menderita di negerinya. Yang pria pakai jam tangan dan wanita banyak mengenakan kalung emas," kata Dodo, tukang potret keliling tadi. Karena itu, banyak yang menduga mereka adalah para pengungsi yang menginginkan hidup lebih layak di Barat, bukan untuk menyelamatkan nyawanya dari perang. Mungkin lantaran itu banyak negara tujuan enggan menerima mereka. Amran Nasution, Bersihar Lubis, dan Rustam F. Mandayun

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836596285



Nasional 8/11

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.