Nasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Derai Senjata Intan Jaya

Konflik di Intan Jaya kian meningkat. Penambahan tentara dibalas dengan pengerahan personel TPNPB.

i Jenazah Melianus Nayagau, seorang pemuda yang dikabarkan merupakan seorang siswa kelas II SMP Negeri Sugapa. Dok. Tim evakuasi korban/via suarapapua.com
Jenazah Melianus Nayagau, seorang pemuda yang dikabarkan merupakan seorang siswa kelas II SMP Negeri Sugapa. Dok. Tim evakuasi korban/via suarapapua.com
  • Jumlah korban tewas akibat konflik di Intan Jaya terus bertambah. .
  • Pasukan Egianus Kogeya yang terlibat dalam pembantaian pegawai Istaka Karya juga dikirim ke Intan Jaya.
  • Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyarankan penerapan zona humaniter. .

RENTETAN tembakan terdengar oleh Yustinus Rahangir pada Sabtu, 6 Maret lalu, sekitar pukul 10.00 waktu Indonesia timur. Saat itu, Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Mikael Bilogai, Distrik Sugapa, Intan Jaya, tersebut sedang memberikan bimbingan kepada umat. “Dor… dor… dor… beberapa kali suara tembakan terdengar samar-samar. Setelah itu tidak terdengar lagi,” ujar Yustinus kepada Tempo pada Kamis, 11 Maret lalu.

Beberapa jam setelah terdengar suara tembakan, sejumlah tentara dari Komando Rayon Militer Sugapa mendatangi gereja tersebut. Kepada Yustinus, tentara itu mengatakan mereka telah menembak mati seorang pemuda. Menurut tentara itu, pemuda tersebut anggota kelompok kriminal bersenjata yang mendukung kemerdekaan Papua.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Kolonel Czi Gusti Nyoman Suriastawa membenarkan peristiwa tersebut. kontak senjata terjadi antara anggota Yonif 715/MTL dan kelompok bersenjata di Kampung Puyagia, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Ketika itu, kata Suriastawa, pemuda tersebut terlihat bersama tiga kawannya membawa sepucuk senjata. Tentara juga menembak satu orang di bagian kaki, tapi mereka berhasil kabur. Suriastawa menuding mereka berasal dari kelompok Indius Kogeya. “Masyarakat tak mengenal identitas pemuda itu,” tutur Suriastawa.


Pemuda yang tewas itu adalah Melianus Nayagau. Seorang kerabatnya, Aliando (bukan nama sebenarnya), bercerita kepada Tempo, jenazah baru diserahkan sehari setelah penembakan. Terbungkus kain loreng, jasad itu sempat bersemayam di Bandar Udara Sugapa sebelum dikubur di halaman Gereja Katolik Santo Paulus Baitapa di Kampung Puyagia. Aliando tak mendapat informasi adiknya tewas dari tentara, melainkan dari seorang penduduk kampung.

162444836779

Melianus, kata Aliando, bukan anggota kelompok kriminal seperti yang dituduhkan Tentara Nasional Indonesia. Ia anak bungsu dari empat bersaudara dari ayah bernama Lukas Nayagau. Sang ayah, menurut Aliando, tewas ditembak mati oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pada tahun lalu karena ditengarai sebagai mata-mata TNI. “Jadi bagaimana mungkin Melianus itu anggota kriminal bersenjata?” ujarnya.

Menurut Aliando, Melianus adalah pelajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sugapa. Data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya menunjukkan bahwa Melianus terdaftar sebagai siswa di sana. “Almarhum Melianus Nayagau merupakan seorang siswa (lulusan) SMP Negeri Sugapa yang terdaftar dan tamat tahun 2020,” kata Kepala Dinas Pendidikan Intan Jaya Apolos Bagau kepada tabloid Jubi.

Data itu juga menyebutkan Melianus lahir di Kampung Pesiga, Distrik Sugapa, Intan Jaya, pada November 2003. Aliando mengatakan adiknya tak bisa melanjutkan sekolah karena, selain pandemi virus corona, situasi di Intan Jaya tak kondusif. Sejak 2019 hingga saat ini, situasi di wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Paniai pada 2008 tersebut masih mencekam. Baku tembak antara TNI dan TPNPB kerap terjadi di Intan Jaya. Bukan hanya personel keamanan yang tewas, penduduk sipil pun ikut menjadi korban.

Pada 17 Agustus 2019, dua personel TNI tewas ditembak di Distrik Sugapa oleh pasukan pro-kemerdekaan Papua. Akhir tahun itu, dua anggota TNI juga tewas ditembak. Kontak senjata pun terus berlanjut. Pada 19 September 2020, seorang pendeta bernama Yeremia Zanambani tewas penuh luka. Hasil penelusuran Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyebutkan Yeremia tewas setelah dianiaya sejumlah anggota TNI. Hingga kini, tak ada kejelasan soal pelaku pembunuhan Yeremia.

Awal tahun ini, pada 22 Januari lalu, kontak senjata juga terjadi antara kelompok bersenjata dan TNI. Dua anggota TNI tewas dalam peristiwa tersebut. Pada pertengahan Februari lalu, tentara menembak mati tiga orang yang dituding sebagai anggota kelompok bersenjata. Ketiganya sedang berada di Pusat Kesehatan Masyarakat Bilogai, Distrik Sugapa.

Akibat rentetan kejadian itu, ribuan orang mengungsi dari kampung mereka. “Masyarakat trauma dan tidak berani pergi ke ladang,” ucap Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Mikael Bilogai, Yustinus Rahangir. Roda pemerintahan pun tak berjalan lantaran semua pemangku kepentingan, seperti bupati dan kepala dinas, angkat kaki dari Sugapa, ibu kota Intan Jaya, ke Kabupaten Nabire.

Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) dari Kabupaten Intan Jaya, Ciska Abugau, mengatakan konflik kian marak setelah tentara dikerahkan ke wilayah tersebut. Mereka menempati gedung-gedung pemerintahan yang kosong karena ditinggalkan penghuninya, seperti kantor Komisi Pemilihan Umum, kantor dinas pemerintahan, dan sekolah. MRP, kata dia, sudah meminta kepada pemerintah pusat agar menarik tentara. “Kami mohon tentara tidak usah banyak di sini agar masyarakat tenang dan tidak terjadi pembunuhan lagi. Kalau presiden tak mau dengar, kepada siapa lagi kami mengadu?” ujarnya.

Pengerahan tentara ke Intan Jaya membuat TPNPB juga mengerahkan personelnya ke kawasan itu. Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengatakan Intan Jaya kini menjadi salah satu medan perang utama dengan TNI. Sejumlah kelompok milisi telah menyebar di Intan Jaya. Panglima Komando Daerah Pertahanan III Ndugama, Egianus Kogeya, yang membantai pekerja PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga, mengirimkan satu kompi pasukan yang dipimpin oleh Indius Kogeya untuk menambah kekuatan. Menurut Sebby, semua kelompok itu berada di bawah kendali Sabinus Waker, yang menjadi Panglima Komando Daerah Pertahanan VIII Intan Jaya.

Menurut Sebby, TPNPB juga beranggotakan mahasiswa asal Papua yang kembali dari berbagai daerah. Panglima tertinggi TPNPB, Goliath Tabuni, pun datang ke Intan Jaya. “Di mana ada TNI/Polri, di situ kami hadir,” kata Sebby saat dihubungi Tempo pada Sabtu, 13 Maret. Ia pun mengklaim TPNPB tak pernah melakukan penembakan terhadap penduduk Intan Jaya. Sebby menyatakan organisasinya akan terus melawan pemerintah Indonesia hingga Papua merdeka.

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang juga ketua tim investigasi pembunuhan pendeta Yeremia, Choirul Anam, juga menilai konflik di Intan Jaya memanas. Ia meminta pemerintah mengevaluasi manajemen keamanan di kawasan itu untuk menghindari pertumpahan darah. Anam pun menyarankan penerapan zona humaniter yang membatasi jarak pasukan dengan masyarakat.

Kepala Kepolisian Resor Intan Jaya Ajun Komisaris Besar Sandi Sultan membantah jika wilayah itu kini disebut menjadi ladang konflik. Sandi mengklaim situasi di Intan Jaya berangsur membaik, meskipun roda pemerintahan belum berjalan sepenuhnya. “Aman dan kondusif,” ujar Sandi.

DEVY ERNIS, TABLOID JUBI

Reporter Devy Ernis - profile - https://majalah.tempo.co/profile/devy-ernis?devy-ernis=162444836779


Konflik di Papua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia | Komnas HAM Majelis Rakyat Papua | MRP Kabupaten Intan Jaya

Nasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.