Tanpa Internet dan Gawai, Perjuangan Guru dan Murid Belajar Saat Pandemi - Nasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Nasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rindu Aku kepada Guru

Di sejumlah daerah, pendidikan tak lagi berjalan. Guru pun kesulitan menyambangi rumah murid.

i Sejumlah siswa mengikuti proses belajar mengajar dalam jaringan (daring) di bekas posko COVID-19 di Desa Madang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan,4 Agustus 2020. ANTARA/Bayu Pratama S
Sejumlah siswa mengikuti proses belajar mengajar dalam jaringan (daring) di bekas posko COVID-19 di Desa Madang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan,4 Agustus 2020. ANTARA/Bayu Pratama S

HANYA berbekal masker, Shopia Ping Luhat, 48 tahun, hampir tiap hari bepergian membawa setumpuk buku dan kertas kosong. Bergantian dengan satu pengajar lain, guru Taman Kanak-kanak Abdi Mulya di tepi Sungai Mahakam, Desa Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, itu menyambangi rumah 20-an muridnya. “Anak-anak tidak datang lagi ke sekolah karena takut kena corona,” kata Shopia saat dihubungi Tempo, Selasa, 4 Agustus lalu.

Pada Maret lalu, Dinas Pendidikan Kabupaten Mahakam Ulu menerbitkan surat edaran penghentian sementara kegiatan belajar tatap muka di sekolah lantaran wabah corona. Belakangan, pada 17 Mei, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu sempat mengeluarkan larangan masuk-keluar kabupaten itu. Risiko penularan di Desa Long Tuyoq pun dianggap cukup tinggi karena berbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Akses keluar-masuk di sana tak sepenuhnya ditutup.

Masalahnya, tak mungkin menggelar pembelajaran jarak jauh di Desa Long Tuyoq. Desa yang masuk kategori 3T atau terdepan, terluar, dan tertinggal itu tak memiliki jaringan listrik. Hanya ada genset yang dipakai bersama-sama secara terbatas, mulai pukul 06.30 hingga 22.00. Meski Internet masuk kawasan itu pada Juli lalu, hampir semua orang tua murid berpenghasilan rendah dan tak memiliki telepon pintar.

Sophia dan rekannya sadar, mereka tidak bisa mengandalkan orang tua untuk mengajari anak-anaknya. Sebab, kebanyakan orang tua murid hanya lulusan sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Tak mau anak-anak itu berhenti belajar menulis dan membaca, Sophia dan rekannya memilih “turun gunung”. “Kami kasihan melihat anak-anak tak bisa bersekolah,” ujarnya.

Namun keduanya malah kerap kesulitan menemui murid-murid. Setelah sekolah tutup, para orang tua memilih membawa anak-anaknya ke ladang. Salah satunya Katerina Tuko, 44 tahun, yang mengajak Angel, putrinya yang berusia empat tahun, ke ladang padi yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Dia beralasan tak ada yang menjaga Angel jika ditinggalkan di rumah. Padahal, sebelum pandemi, Katerina selalu mengantar Angel ke sekolah tiap pagi.

Selama pandemi, Katerina mengaku kesulitan mengajari Angel membaca dan menulis. Anaknya tak bisa mengikuti pendidikan online. Jangankan untuk membeli pulsa dan kuota Internet, untuk makan sehari-hari saja dia mesti berjuang. “Enggak ada uang buat beli kuota,” ujar Katerina.

Setelah berkeliling beberapa pekan, Sophia dan temannya menilai kegiatan mengajar ke rumah murid tak efektif. Anak-anak yang diberi materi belajar pun tak mendapat bimbingan orang tua. Sophia kini memilih hanya sesekali menemui murid-muridnya.

Mati suri pendidikan juga menimpa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Makki, Lanny Jaya, Papua. Sejak tiga bulan lalu, sekolah itu tak lagi didatangi para murid. Guru SMAN 1 Makki, Maruntung Sihombing, mengatakan pembelajaran jarak jauh tak mungkin dilakukan di daerah tersebut. Hanya tersedia jaringan EDGE dengan kecepatan yang naik-turun. Sebelum muncul wabah corona, para guru juga kesulitan memberikan pelajaran tatap muka. “Jumlah guru terbatas. Saya mesti merangkap mengajar SD dan SMP,” Maruntung bercerita.

Maruntung mengaku ingin menjemput bola, mendatangi rumah para muridnya, untuk mengajar secara tatap muka. Namun, pada akhir Juni lalu, juru bicara Satuan Tugas Covid-19 Papua, Silwanus Sumule, mengumumkan kasus positif corona pertama di Lanny Jaya. Jumlahnya pun kian bertambah hingga mencapai sekitar 20 orang. Berada di zona merah dan tak dilengkapi alat pelindung diri, Maruntung mengurungkan niatnya itu.

Supaya murid-muridnya tetap belajar, Maruntung mengaktifkan kembali taman bacaan yang dibikinnya pada 2016. Di sana, dia menaruh buku-buku agar murid bisa membaca. Namun hanya ada satu-dua anak yang datang untuk membaca. Menurut Maruntung, sekolah segera menggelar rapat untuk membahas nasib para murid. Laki-laki yang sudah tujuh tahun mengajar di Lanny Jaya itu khawatir pelajar di wilayah tersebut akan tertinggal jauh atau putus sekolah. “Di sini sudah tertinggal, lalu akan makin tertinggal lagi,” katanya.

Di sekolah swasta yang berada di pesisir pantai, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq D'Armandville, Kabupaten Nabire, Papua, pembelajaran jarak jauh juga belum maksimal. Neles Woge, siswa kelas XII di sekolah itu, mengaku tak bisa belajar daring ketika berada di kampungnya di Kabupaten Dogiyai. Pada Maret lalu, Neles harus kembali ke Dogiyai karena sekolah berasrama itu memutuskan memulangkan para murid. Ia tetap belajar sendiri dengan membaca buku yang dibawanya dari asrama sekolah.

Sejak awal Agustus lalu, SMA Adhi Luhur kembali menggelar belajar tatap muka. Kepala Sekolah Kolese Le Cocq D'Armandville, Christophorus Aria Prabantara, mengatakan pembukaan kembali sekolah itu berdasarkan hasil pemeriksaan gugus tugas Covid-19 daerah. “Kami menerapkan protokol ketat untuk memulai sekolah," kata pastor dari ordo Serikat Yesus itu. Neles pun kini sudah kembali ke asrama dan mulai belajar. “Saya mau masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri,” ujar Neles.

Di Pulau Jawa, bahkan di Ibu Kota, kesulitan belajar daring juga dirasakan para murid. Ajeng Satiti Ayuningtyas, pendiri Yayasan Sekolah Cinta Anak Indonesia yang mendampingi anak-anak miskin di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, bercerita bahwa seorang anak asuhnya hampir dikeluarkan dari sekolah lantaran tak pernah mengerjakan tugas yang dibagikan secara online. Sebab, anak itu tak memiliki telepon pintar. Menurut Ajeng, pihak sekolah sempat tak mau memahami kondisi anak tersebut. Yayasan lalu bertemu dengan pengajar di sekolah itu dan menjelaskan kondisi sang anak. Akhirnya, anak itu tak jadi dikeluarkan.

Sejumlah kelompok pun bergerak membantu mereka yang tak memiliki telepon pintar. Sejak akhir Juli lalu, jaringan Gusdurian membagikan telepon seluler. Ketua Umum Gusdurian Peduli, A’ak Abdullah Al-Kudus, mengatakan program tersebut baru berjalan di Jawa Timur. Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Wartawan Lintas Media membuka donasi yang sama. Mereka membagikan lebih dari 100 ponsel ke murid-murid di Jakarta, Bogor, Bekasi, Aceh, dan Papua agar para murid bisa belajar.

Khairul Nugroho, siswa kelas III SD Negeri Gondangdia 03, mengaku kangen kembali ke sekolah. Selama ini, anak didik Yayasan Sekolah Cinta Anak Indonesia itu pergi ke rumah tantenya dan meminjam telepon seluler untuk belajar secara daring. Jika tantenya tak memiliki kuota Internet, Khairul pun gigit jari. “Aku mau corona cepat selesai supaya bisa ketemu guru dan belajar lagi,” katanya.

DEVY ERNIS, EGY ADYATAMA

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-09-21 23:02:07

Pembelajaran Jarak Jauh | PJJ Belajar di Tengah Pandemi Virus Corona Sekolah

Nasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.