Nasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Putus Sebelum Gaji Terakhir

Anak di bawah umur menjadi buruh di pabrik kembang api yang meledak di Kosambi, Tangerang. Bekerja karena sekolah tak lagi gratis.

i

MASIH mengiang di benak Isah tema obrolan dengan anak sulungnya sebelum berangkat tidur pada Rabu malam dua pekan lalu. Selepas isya, sebelum masing-masing masuk kamar, Neli tiba-tiba menasihatinya. "Bapak dan Ibu kalau punya uang jangan lupa ditabung," kata Isah menirukan Neli, anak sulungnya itu, pada Rabu pekan lalu.

Isah, 40 tahun, bertanya mengapa Neli tiba-tiba membicarakan soal tabungan. Neli mengambil kacamata hitam dan memakainya. "Saya mau beli sepeda motor," ujarnya, bertolak pinggang. "Kacamatanya sudah punya." Mariasin, ayah Neli, tertawa mendengar polah anak gadisnya yang beranjak 16 tahun itu. Isah mengatakan ia akan membeli sepeda motor jika menang arisan di tempat kerjanya.

Hari berangkat malam. Obrol-obrolan satu keluarga yang tinggal di rumah petak enam meter persegi di Gang Pipa Desa Belimbing, Tangerang, Banten, itu terputus karena mereka harus segera tidur. Pagi-pagi sekeluarga ini harus bekerja. Isah menjadi buruh di pabrik karet bergaji Rp 50 ribu sehari, Neli bekerja di pabrik kembang api tak jauh dari rumahnya, Mariasin tak punya pekerjaan tetap, sementara si bungsu masih bersekolah.


Esoknya, Mariasin sudah ke luar rumah pagi sekali. Ia hendak mencari pekerjaan di sekitar kampung. Apa saja, tergantung orang menyuruhnya. Lalu Isah setelah sarapan. Kepada ibunya, Neli mengatakan segera menyusul karena ingin menyapu rumah mereka lebih dulu. "Tumben-tumbenan dia mau menyapu," kata Isah.

161829926924

Rupanya, setelah bebersih itu, Neli menyambangi rumah sepupunya di mulut gang, Siti Subaikah. Selain akrab sejak kecil, keduanya bekerja di perusahaan yang sama, PT Panca Buana Cahaya Sukses, yang pabriknya satu kilometer dari gang itu. Hari itu Suryadi, ayah Subaikah, tak sedang bekerja dan menawarkan diri mengantar keduanya dengan sepeda motor.

Tak seperti hari-hari jika ia mengantar, beres menurunkan kedua gadis itu di depan pintu pabrik kembang api, Suryadi bergegas pulang. Biasanya ia mampir nongkrong di pangkalan ojek di persimpangan Jalan Raya Selembaran Kosambi di depan pabrik. Pagi itu matanya memberat oleh kantuk.

Baru saja hendak terpejam di ruang tengah rumah petaknya, Suryadi mendengar dentuman sangat keras. Laki-laki 45 tahun ini menghambur ke luar rumah. Ia melihat asap hitam membubung dari arah pabrik kembang api. Lupa dengan kantuk, Suryadi memacu sepeda motornya menuju arah asap.

Di tikungan depan Kantor Desa Cengklong, jantungnya serasa berhenti berdegup. Asap hitam itu mengepul dari arah pintu pabrik kembang api, dua meter dari tempatnya berhenti saat menurunkan anak dan keponakannya lima menit sebelumnya.

Setelah memarkir sepeda motor, Suryadi menghambur ke sisi timur pabrik. Jeritan para pekerja kembang api lindap oleh gelegar api yang melahap seluruh bangunan pabrik. Di kepala Suryadi hanya ada wajah anak dan keponakannya. Bersama penduduk lain, ia mendobrak tembok pabrik hingga jebol dan masuk ke dalamnya.

Suryadi berserobok kolam di dalam pabrik. Di sana ada tujuh orang yang menyelamkan diri. Api kian besar dari arah ruang pembuatan kembang api. Suryadi melihat seluruh pabrik menghitam. Mayat-mayat terpanggang menjadi ruhak, meruapkan bau hangit daging terbakar. Pekerja pabrik yang terluka tunggang-langgang ke arah lubang yang ia jebol.

Suryadi tak melihat anaknya. Suaranya yang meneriakkan nama mereka lindap oleh gemuruh jeritan buruh pabrik yang kalut. Ia memutuskan balik badan karena api semakin besar. Ia berharap anak dan keponakannya itu ke luar pabrik dari pintu lain. Tapi dari mana? Tak ada pintu lain karena pintu utama terhalang bubungan api. Ia pasrah.

l l l

DUA perempuan ini belum genap tiga pekan bekerja di pabrik itu. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kosambi dua tahun lalu, Ikah dan Neli memutuskan tak melanjutkan ke SMA karena sekolah lanjutan itu tak lagi gratis di Banten.

Lowongan itu baru muncul pada awal Oktober lalu, ketika Sutrisna, tetangga mereka di Gang Pipa, menawarkan bekerja di PT Buana Cahaya dengan gaji Rp 55 ribu sehari. Sutrisna tak lain mandor pabrik. Tentu saja tawaran itu segera bersambut.

Bekerja di PT Buana hanya memerlukan satu syarat: menyetujui tawaran Sutrisna. Mandor pabrik itu tak meminta kartu tanda penduduk atau kartu identitas, apalagi surat lamaran kerja yang diketik memakai komputer atau curriculum vitae dengan foto yang paling manis. Istri Sutrisna, Rohini, adalah pegawai pabrik bagian perekrutan. Begitu mereka setuju dengan tawaran Sutrisna, Rohini akan mencatat nama keduanya di daftar pegawai PT Buana.

PT Buana sedang giat mencari karyawan karena baru beroperasi dua bulan.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Tangerang Nono Sudarno mengatakan perusahaan milik Indra Liyono itu mendapat izin pada 2015. Setahun kemudian, mereka mendapat izin mendirikan bangunan dan industri. "Semua izinnya lengkap," katanya.

Suryadi dan Isah juga setuju anak mereka bekerja di pabrik kembang api. Selama dua pekan itu, Isah melihat anaknya rutin berangkat kerja pukul 08.00 dan pulang pukul 17.00. Pada Jumat mereka mendapat gaji mingguan sebesar Rp 250 ribu sebagai pegawai bagian pengepakan.

Gaji pekan pertama sesuai dengan janji Sutrisna. Tapi, begitu gaji kedua, mandor itu memotong gaji Neli menjadi Rp 40 ribu sehari dengan alasan tak memenuhi target mengepak 1.000 kembang api sehari. Pada Jumat kedua, Neli hanya menerima Rp 200 ribu. Kerja lemburnya, dua jam melebihi jam kerja umum, tak dihitung dalam komponen gaji.

Kepada Isah dalam obrolan sebelum tidur pada Rabu malam dua pekan lalu itu, Neli mengatakan akan mundur setelah menerima gaji Jumat pekan tersebut. Ia akan pindah kerja ke pabrik ban. "Saya minta bersabar," ujar Isah. "Sekarang saya menyesal mengapa tak menyuruh berhenti saja malam itu juga."

Obrolan menjelang tidur itu adalah obrolan terakhir mereka. Nama Neli dan Subaikah berada dalam daftar buruh yang terpanggang api setelah polisi menyisir pabrik sehari setelah ledakan. Polisi melihat mayat sebagian besar ada di sisi barat pabrik. Mereka tak bisa keluar menerobos api yang menghalangi pintu ke luar atau lubang yang dibuat Suryadi di sisi timur.

Hingga Kamis pekan lalu, petugas Rumah Sakit Bhayangkara R. Said Sukanto, Jakarta Timur, mencatat 49 orang meninggal akibat insiden ini, dari 103 buruh. Sebanyak 47 orang tewas di tempat, 2 lainnya setelah dirawat di rumah sakit. Sedangkan 46 orang lainnya mengalami luka bakar.

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya menetapkan tiga orang sebagai tersangka tiga hari setelah kebakaran. Mereka adalah pemilik pabrik, Indra Liyono; Direktur Operasional Andri Hartanto; dan tukang las Subarna Ega. Tukang las ini diduga tewas dalam insiden tersebut. Namun jenazahnya belum ditemukan.

Menurut juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono, api diduga berasal dari percikan las yang mengenai 4 ton bahan baku petasan di bawahnya. Para tersangka dijerat dengan pasal kelalaian dan Undang-Undang Ketenagakerjaan. Selain Neli dan Ikah, dari 27 warga Desa Belimbing yang meninggal, 9 orang di antaranya masih berada di bawah umur. Angka ini belum memasukkan penduduk desa lain.

Pada Selasa pekan lalu, petugas rumah sakit mengirim jenazah Ikah dan Neli ke Masjid Baiturrahman, tempat keduanya biasa mengaji setelah bekerja, untuk disalatkan. Isah, yang menyaksikan peti mati bertulisan nama anaknya, hanya bisa duduk pasrah. Sekarang keduanya dikubur di Pemakaman Umum Desa Belimbing. "Kami kubur mereka berdempetan agar tetap berteman," kata Suryadi.

Syailendra Persada, Ayu Cipta, Johniansyah (kabupaten Tangerang)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161829926924



Nasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.