Kasir Partai Mengincar Senayan - Nasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Nasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kasir Partai Mengincar Senayan

Setya Novanto semakin aktif menggalang dukungan untuk pencalonan Ketua DPR. Menjadi sponsor koalisi pro-Prabowo.

i

RAPAT di ruang Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat seusai makan siang Rabu pekan lalu dibuka Aziz Syamsuddin, Wakil Ketua Komisi Hukum dari partai itu. Pesertanya politikus enam partai pengusung calon presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Rapat membahas rancangan tata tertib DPR. Undangan dikirim langsung dari telepon seluler Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto dua hari sebelum acara.

Dua jam berlangsung, rapat ditutup dengan kesepakatan rancangan tata tertib itu dibawa ke Badan Musyawarah DPR. "Rencananya disahkan dalam sidang paripurna Selasa pekan depan," kata Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan Hasrul Azwar kepada Tempo, Kamis pekan lalu. Tata tertib ini adalah turunan Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3), yang salah satunya mengatur pemilihan pemimpin DPR.

Pertemuan Rabu pekan lalu itu merupakan rentetan rapat partai politik pengusung Prabowo-Hatta. Sejak mengukuhkan "koalisi permanen" pertengahan Mei lalu, mereka acap bertemu. Tuan rumah bergiliran. Kadang di ruang Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Demokrat, atau Fraksi Golkar.


Melalui koalisi ini, Golkar mengincar kursi Ketua DPR. Mereka sukses mengubah mekanisme pengisian kursi pemimpin Dewan. Sebelumnya sesuai dengan perolehan suara, aturan diubah dengan sistem paket dan melalui pemilihan langsung. Mereka mengatur strategi agar tak kalah melawan koalisi yang dimotori Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan didukung Partai Kebangkitan Bangsa, Partai NasDem, serta Partai Hanura. Seorang politikus Golkar bercerita, Setya Novanto, yang merupakan Bendahara Umum Golkar, menjadi motor penggerak agar koalisi ini tetap solid.

Sepekan sebelum Lebaran, mereka kembali bertemu di lantai 9 ruang Fraksi Demokrat. Gerindra diwakili Desmond J. Mahesa, sedangkan PKS oleh Fahri Hamzah. Selain Setya, hadir Ketua Fraksi Demokrat Nurhayati Ali Assegaf dan Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edy.

Wakil Bendahara Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo menuturkan pertemuan ini menghasilkan beberapa kesepakatan penting pengikat koalisi. Demokrat diplot mengisi kursi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Golkar menjadi Ketua DPR. "Wakil Ketua DPR diisi semua anggota koalisi," ujar Bambang. Anggota Komisi Hukum DPR ini mendukung Setya mewakili partai beringin menjadi Ketua DPR.

Desmond mengaku telat hadir dalam pertemuan itu. Namun dia membantah kabar bahwa mereka menyepakati Setya menjadi calon ketua. "Kami rasional, apakah Setya nanti ditunjuk oleh Golkar?" katanya. Sedangkan Nurhayati menuturkan pertemuan itu hanya untuk membahas rancangan tata tertib DPR. "Sisanya saya tak mau berkomentar," ujarnya.

Setya rajin mengumpulkan mitranya. Malam menjelang pidato Presiden membacakan nota keuangan pada 16 Agustus lalu, mereka kembali bertemu di lantai 12 Gedung Nusantara I, Senayan, markas Fraksi Golkar. Agendanya sama: membahas tata tertib Dewan, plus membicarakan sengketa pemilu presiden yang sedang disidangkan di Mahkamah Konstitusi.

Di lingkup internal Golkar, tiket pencalonan Setya relatif aman. Sejumlah nama awalnya muncul menjadi pesaing, seperti Ketua Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid, Wakil Ketua Umum Golkar Fadel Muhammad, dan Ketua Golkar Ade Komaruddin. Namun pelan-pelan peluang ketiganya terkikis. Nusron Wahid dipecat karena mendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Fadel acap dianggap tak seirama dengan keinginan partai. Ia, misalnya, dituduh membocorkan kepergian Aburizal Bakrie menemui Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Bali, yang mengacaukan keinginan Golkar berkoalisi dalam pemilihan presiden. Fadel juga dianggap melangkah di luar keputusan partai saat hadir pada deklarasi koalisi PDIP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Mei lalu. "Saya diundang televisi melapor ke ketua umum," mantan Gubernur Gorontalo ini menjelaskan alasan kepergiannya saat itu.

Kans terbesar jatuh pada Setya Novanto terutama karena keputusan soal ini diserahkan kepada Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie. Meski mengaku juga dekat dengan Aburizal, Ade merasa peluangnya lebih tipis dibanding Setya. "Keputusannya begitu, mau apa lagi?" kata Ade sembari mengangkat bahu.

Jalan untuk memuluskan lingkaran dekat Aburizal menjadi pemimpin Dewan sudah lama dikunci. Mekanismenya ditetapkan dalam Rapat Pimpinan Nasional Golkar V pada November 2013. Lampiran bernomor 02/Rapimnas-V/Golkar/XI/2013 antara lain mengatur mekanisme pemilihan dan penetapan pemimpin DPR.

Pasal 3 menyatakan penetapan pemimpin Dewan dilakukan melalui rapat pleno partai yang dipimpin ketua umum dan mesti diambil melalui musyawarah mufakat. Poin yang menguntungkan Setya adalah klausul terakhir. Bunyinya, jika mufakat tidak tercapai, keputusan diserahkan kepada Ketua Umum Golkar.

Aburizal mengatakan Golkar belum memutuskan nama calon Ketua DPR. "Belum disiapkan apa-apa," ujarnya saat halalbihalal Golkar, Rabu pekan lalu.

Setya juga diuntungkan karena menjadi ketua fraksi meski hanya 42 dari 91 legislator Golkar yang akan tetap bertahan di Senayan pada periode mendatang. Seorang politikus Golkar bercerita, agar tetap kompak, Setya perlu duit tak sedikit untuk mempertahankan dukungan. "Politik transaksional di Golkar itu biasa," kata politikus ini. Soal bagi-bagi duit itu sudah mulai terdengar di lingkup internal Golkar.

Setya membantah sudah meraih restu dan menyiapkan diri menjadi Ketua DPR. Ia menjelaskan, rapat Koalisi Merah Putih bukan untuk menggalang dukungan, melainkan hanya buat menyiapkan tata tertib DPR. Disebut sebagai kandidat terkuat, ia menjawab sambil tertawa, "Masih banyak yang lain, Bos."

Ketua Partai Golkar Firman Subagyo mengatakan Setya dekat dengan Aburizal. Selain dia, lingkaran dalam Aburizal adalah Sekretaris Jenderal Idrus Marham serta dua ketua, yaitu Fuad Hasan Mansyur dan Rizal Mallarangeng. Saat pemilu legislatif dan pemilu presiden, Setya wira-wiri bersama Aburizal. Namun, menurut Firman, peraih tiket calon Ketua Dewan harus dibicarakan di lingkup internal partai.

Desmond menuturkan partainya masih menunggu keputusan resmi setiap partai tentang calon pemimpin Dewan. Menurut dia, Setya mesti berhadapan dulu dengan kader Golkar lain. Gerindra, kata Desmond, masih menunggu uji materi Undang-Undang MD3 di Mahkamah Konstitusi.

Hasrul Azwar dari PPP yakin Golkar memilih Setya karena dia paling aktif berkomunikasi dengan partai lain di Koalisi Merah Putih. "Dia yang paling intens berkomunikasi dengan kami," ujar Hasrul.

Wayan Agus Purnomo

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-22 08:21:30


Nasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB