Nasional 2/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Derita Panjang Setelah Gempa

Bantuan dari pemerintah pusat terkesan lamban dan tidak sampai ke semua korban.

i
Menjelang tengah malam itu, Nyonya Sutiyem baru saja menjejalkan puting susunya ke mulut bayinya, Prayitno. Desa Siabun tempat tinggalnya, di Kecamatan Sukaraja, Bengkulu, tenggelam dalam ketenangan. Sundino, suaminya, tengah asyik menonton televisi. Namun, tiba-tiba kegemparan terjadi. Bumi berguncang. Teriakan minta tolong besahutan di seantero desa. Sutiyem Cuma bisa menelungkup, mendekap bayinya, melindunginya dari empasan tripleks, kayu, dan dinding batu. "Menjelang subuh baru kami bisa mengeluarkan mereka berdua dari reruntuhan," kata Sundino. "Mereka selamat." Sutiyem dan bayinya kini bergabung bersama ribuan korban yang selamat dalam kamp penampungan. Namun, derita mereka belum berakhir, setelah Bengkulu poranda oleh dua gempa berkekuatan besar—7,3 dan 6,3 pada skala Richter—pekan silam. "Gempa susulan diperkirakan masih akan terjadi terjadi selama 15 hari ke depan," kata Soeharjono, Koordinator Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika. Hingga akhir pekan silam, Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam (Satkorlak) mencatat 87 jiwa tewas, 642 luka berat, dalam gempa terbesar sepanjang sejarah daerah itu. "Jumlah di beberapa daerah terpencil, seperti Enggano dan desa kecil di Bengkulu Selatan, belum bisa diketahui," kata Iskandar Ramis, Ketua Harian Satkorlak. Puluhan ribu rumah dan bangunan luluh-lantak. Akibat bencana itu, puluhan ribu warga terpaksa menginap di penampungan umum, yang sebagian besar terdiri dari tenda darurat. Tidak hanya sarana dan prasarana yang hancur, pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum praktis putus akibat musibah. Jika tidak segera diatasi, dikhawatirkan bencana lain akan melanda. "Warga Bengkulu bisa terserang diare karena sulitnya air bersih," kata Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu, Zulman Zuri Amran. Melihat kondisi tersebut, korban jiwa dipastikan akan bertambah. Apalagi, korban yang luka parah tidak mendapat perawatan semestinya. "Tiga rumah sakit yang ada di sana tidak berfungsi dengan baik karena bangunannya rusak," kata Mar'ie Muhammad, Ketua Palang Merah Indonesia. Celakanya, bantuan pemerintah yang mereka harapkan ternyata tidak sampai ke semua korban. Seperti yang dialami Rosmaniyah. Ibu lima anak yang rumahnya tinggal puing itu, hingga Kamis pekan silam, belum tersentuh uluran tangan pemerintah. Derita serupa juga dialami Fadillah, warga Kecamatan Slebar. "Kami tidak tahu harus bagaimana, padahal katanya bantuan itu ada," ujarnya. Aksi protes pun digelar. Ratusan korban, Kamis pekan silam, menutup jalan menuju Bandara Padangkemiling. Bahkan Ketua MPR Amien Rais, yang berkunjung ke sana, sempat disandera warga. Namun, setelah diberi penjelasan akhirnya rombongan bisa lewat. Amien sendiri menyesalkan sikap pemerintah yang terkesan kurang peduli terhadap nasib rakyat. "Padahal, negara luar seperti Thailand dan Jepang begitu cepat menurunkan bantuan," ujarnya. Kedatangan presiden maupun wakil presiden sebagai bentuk simpati banyak diharapkan warga setempat. Namun, Presiden Abdurrahman Wahid sedang melakukan lawatan ke luar negeri, dan Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri harus berada di Jakarta karenanya. Selain itu, petugas dari berbagai instansi yang diterjunkan ke lapangan juga tidak mencukupi dan kurang koordinasi. Dari pantauan TEMPO, banyak warga yang tidak tahu harus ke mana mencari bantuan. Mereka berduyun-duyun mendatangi posko Satkorlak. Menghadapi serbuan korban itu, petugas tampak kerepotan. Bisa jadi, pembubaran Departemen Sosial—diturunkan menjadi Badan Kesejahteraan Sosial Nasional—yang selama ini berpengalaman menangani korban bencana, ikut mempengaruhi kinerja lapisan pegawai bawah. Pejabat di kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan membantah kelambatan bantuan tersebut. "Begitu terjadi gempa pertama, kami sudah menginstruksikan kepada Gubernur agar membuka posko-posko pertolongan," kata H.B. Burhanudin, Asisten Bidang Penanggulangan Bencana Menko Kesra. Selain itu, bantuan beras dan obat-obatan juga mengalir terus dari Jakarta. Burhanudin juga membantah pembubaran Departemen Sosial sebagai biang lemahnya koordinasi antarinstansi. "Kami sudah melakukan kerja sama dengan instansi sesuai prosedur," ujarnya. Bahkan bantuan asing yang mengalir juga atas koordinasi pihaknya. Menurut catatan yang masuk ke Asisten Menko Kesra, Thailand sudah membantu US$ 20 ribu. Selain mengirim tenaga medis, Jepang juga membantu berbagai peralatan seperti tenda dan tempat tidur plastik. Amerika Serikat berjanji akan mengirim US$ 25 ribu. Sedangkan Australia bersedia membantu A$ 500 ribu. Negara lain yang juga membantu adalah Singapura dan Belanda. Satu hal yang harus diwaspadai adalah soal penyaluran dana itu sendiri. Bukan mustahil, di tengah penderitaan masyarakat, ada pihak yang meraup keuntungan dengan cara mencuri sumbangan tersebut. Penyelewengan bantuan untuk korban gempa Liwa, Lampung Barat, pertengahan Februari 1994, bisa menjadi contoh. Duit Rp 99 miliar ternyata masuk kantong pribadi pejabat setempat. Johan Budi S.P., Dewi R. Cahyani

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866179161



Nasional 2/8

Sebelumnya Selanjutnya