Pada Morse Kita Percaya - Musik - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Musik 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pada Morse Kita Percaya

Deep Purple, grup rock legendaris, menggebrak Jakarta dan Bali untuk promo tour album terbarunya, Bananas.

i
Gillan is God. And in Morse We Trust.

Kalimat itu tertera dalam spanduk yang diacung-acungkan penggemar Deep Purple dalam sebuah konser. Dan itu dapat Anda temukan dalam salah satu foto pada album terbaru Purple, Bananas. Entah itu tur di negara mana, yang jelas dua tahun lalu mereka keliling dunia, menyusuri Eropa Timur ke Jakarta, menembus Cina.

Tapi, memang melihat penampilan Ian Gillan dan Steve Morse di Tenis Indoor Senayan pekan lalu, dapat dimengerti mengapa ada fans sefanatik itu. Gillan, lelaki yang tatkala rambutnya masih terurai panjang sepunggung pernah menjadi Yesus dalam opera Jesus Christ Superstar karya Tim Rice dan Andrew Lloyd Webber. Kini, di usia hampir 60 tahun, masih begitu terjaga staminanya. "Saya kagum sekali dengan teknik pernapasan Ian Gillan, menyanyikan Space Truckin yang tinggi masih dapat," kata Donny Fatah, basis God Bless.

Muncul di panggung dengan pakaian dan celana kombor putih santai, bertelanjang kaki, ia tampak matang, seseorang yang telah makan pahit-manis kehidupan rock tiga dekade. Sedangkan Morse malam itu menjadi bintang pertunjukan. Kocokan gitarnya membekas di ingatan setelah pulang. Dua tahun lalu, ketika Purple datang ke Jakarta, banyak fans yang tergoda melihat keampuhan Morse.


Bagi banyak penggemar, Ritchie Blackmore adalah gitaris tak tergantikan. Penampilan Blackmore yang gahar, liar, ganas, dengan sorot matanya yang misterius, adalah sebuah trade mark. Namun, ketika Morse melakukan solo dan seolah sejarah musik rock mengalir di gitarnya, petilan The Beatles, Jimi Hendrix, The Who, Led Zeppelin susul-menyusul dengan kecepatan tinggi, orang percaya akan kejawaraannya

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6MDI6MzIiXQ

Malam itu Morse kembali membuktikannya. Permainan solo Well Dressed Guitar dan Contact Lost begitu memikat. Morse dikenal sebagai gitaris yang menyerap teknik dari berbagai khazanah. Dua album pribadinya, Major Impact, menunjukkan keluasan wawasannya. Album berisi komposisi Morse yang berkaitan dengan teknik cabikan atau sayatan gitaris lain yang dikaguminya. "Ia menginterpretasi gaya gitaris atau musisi yang mempengaruhinya," kata Andi Julias, ketua Indonesia Progressive Society. Mulai dari Jimi Hendrix, Jeff Beck, John McLaughlin, Steve Howe, Allman Brothers, George Harrison, sampai Crosby, Stills and Nash. Anehnya, tak termasuk Ritchie Blackmore.

Morse dikenal sangat piawai dengan gaya memetik "cakar ayam" (chicken pick) yang sering dimiliki para gitaris blue grass (atau musik country) saat memainkan banyo—teknik petikannya seperti menggaruk. Gaya ini tidak dominan dalam pertunjukan Purple, tapi cukup menyeruak di panggung-panggung solo. Menurut Iwan Hasan, gitaris kelompok musik Discuss, Morse memang memiliki teknik yang susah ditiru gitaris muda tangguh kini seperti Yngwie Malmsteen, Steve Vai, atau Joe Satriani. "Misalnya teknik Apreggio atau broken chord yang menghasilkan nada beriringan. Umumnya jari-jemari gitaris berpindah akor dengan satu gerakan ke bawah menekan beberapa senar serentak, tapi jari-jemari Morse mampu berganti-ganti senar dengan kecepatan tinggi," kata Iwan.

Di depan publik Jakarta dan penonton mayoritas kulit putih di Lotus Pond Garuda Wisnu Kencana Bali, Morse mendemonstrasikan kepiawaiannya itu. "Saya rasa, Morse mempunyai peran yang cukup besar mendongkrak roh Deep Purple," komentar Jaques Anthony, seorang penonton paruh baya asal Paris, kepada Tempo. Simon Gonzales, 49 tahun, menilai sama. Lelaki asal Madrid ini melihat penampilan grup musik yang digandrunginya sejak umur 11 tahun ini tidak jauh berbeda dari "tempo doeloe".

Baik Gonzales maupun Anthony mengaku, perbedaan Deep Purple dulu dan sekarang hanya di karisma. "Pada tahun 70-an, saya nonton konser mereka, karisma Ritchie Blackmore terhadap penonton begitu kuat. Saat itu kami bisa histeris kalau melihat dia mulai memainkan melodinya," kata Anthony, yang kini sudah punya dua cucu. "Tapi dulu memang saya masih muda, dan masih membutuhkan karisma dari sang idola. Tetapi sekarang saya ingin lebih menikmati lagu-lagu mereka untuk mengenang masa muda saya," tambah Gonzales.

Pujian bukan hanya pada Morse, banyak penonton terpikat dengan permainan keyboard Don Airey yang menggantikan "sang pangeran hammond", Jon Lord. Airey dalam solonya menggabungkan cuplikan komposisi Mozart, Turkish March, score musik Star Wars, dan St. Elmo's Fire-nya David Foster. "Caranya merangkum luar biasa. Permainan piano Airey lebih halus daripada John Lord," kata Iwan Hasan. Secara mengagetkan Airey menyelipkan, dengan sangat rock sekali, Indonesia Raya. Di setiap negara yang disinggahi, agaknya ia menyiapkan kejutan dengan mengaransemen cuplikan lagu setempat.

Kedigdayaan teknik Airey membuat Iwan Hasan menyayangkan mengapa dalam album Bananas Airey terlalu menyesuaikan diri dengan gaya permainan Lord. "Seharusnya ia menjadi diri sendiri," katanya. Don Airey adalah figur yang malang-melintang. Ia pernah ikut band Colloseum II, Black Sabbath, Whitesnake, Rainbow, Colloseum II, UFO, sampai proyek-proyek Andrew Lloyd Weber. "Airey seperti bunglon, pada setiap band mampu menyesuaikan diri," kata Andi Julias. Tapi, menurut Andi, bila Airey membuat komposisi sendiri, hasilnya tidak sedahsyat Jon Lord. "Album K2 milik Airey, misalnya, tidak istimewa. Maunya seperti Journey to the Centre Earth-nya Rick Wakeman, tapi tidak kuat," tuturnya.

"Lagu ini dahulu saya buat untuk pacar pertama saya…," demikian Ian Gillan memberikan pengantar pada lagu keempatnya malam itu. Lalu meluncurlah Strange Kind Woman. Dan memang lagu-lagu lamalah yang membuat sekitar 2.500 penonton di Senayan berjingkrak-jingkrak. Penonton tidak mengenal lagu-lagu baru yang dibawakan, seperti You've Got Number, Bananas, Picture at Innocence. Suasana yang sama juga terjadi di Lotus Pond GWK Bali. Dan ini membuat keki John Albert Bradley, penonton asal Liverpool, Inggris. "Ini hanya pentas nostalgia," gerutunya.

Tentu saja tidak ada lagu-lagu era David Coverdale yang dinyanyikan Gillan. Di luar Bananas, yang dinyanyikan adalah hit Highway Star, Woman from Tokyo, Black Night, Perfect Stranger, Knocking at Your Back Door. Pada Lazy, Ian Gillan memainkan harmonika. Tidak ada nyala "lilin-lilin kecil" dari penonton seperti pada pementasan dua tahun lalu, ketika Gillan melantunkan Child in Time, karena semua rokok dan geretan kali ini disita petugas di pintu masuk.

Penonton meledak ketika Gillan menyanyikan Smoke on the Water di ujung pertunjukan. Lagu paling populer mereka, tapi paling sering tak diketahui konteks liriknya. Orang sering menduga, dari menyimak judulnya yang "absurd", komposisi ini dibuat dalam suasana saat personel Deep Purple lagi "on"—mengisap mariyuana. Atau paling tidak berbicara tentang visi dunia "drug". Padahal sesungguhnya ia berangkat dari kisah nyata.

Pada 1971, Deep Purple berada di Montreux, Swiss, untuk merekam album Machine Head. Menggunakan studio mobil Rolling Stones, rekaman direncanakan akan dilangsungkan di Casino—sebuah gedung kuno dengan konstruksi kayu yang disulap menjadi tempat pertunjukan. Sebelumnya, di situ tampil Frank Zappa and the Mothers of Invention. Para anggota Purple ikut menonton pertunjukan Zappa, sampai tiba-tiba beberapa penonton histeris melemparkan api ke atap gedung. Menyala! Sistem pemanas meledak, kebakaran terjadi.

Sekitar 3.000 penonton panik. Pintu keluar terlalu kecil. Akhirnya peralatan panggung dipakai untuk memecah jendela besar. Beruntung semuanya selamat, meskipun bangunan ludes. Asap yang membakar gedung sampai mengembus ke permukaan Danau Geneva. Roger Glover, yang melihat ini, langsung berkilat inspirasi, sebuah lagu berjudul: Smoke on the Water. Liriknya kemudian menggambarkan kebakaran itu … were at the best place around, but some stupid with a flare gun burned place to the ground, smoke on the water. A fire in the sky… seperti teriak Gillan malam itu di Senayan.

Deep Purple adalah Deep Purple. Namanya melegenda, padahal nama itu diambil sembarangan oleh Ritchie Blackmore saat membentuk band ini, dari judul lagu lama yang menjadi kesayangan neneknya. Dari album Bananas kini muncul lagu cukup enak seperti Razzle Dazzle atau House of Pain, yang sayang justru tidak dinyanyikan malam itu. Menurut Iwan Hasan, ada birama ganjil, seperti progressive rock, pada beberapa lagu di Bananas. "Kami tidak ingin terkotak, kami menyerap energi gaya musik apa saja," kata Roger Glover, sang basis, kepada para wartawan Jakarta. Tentunya, meski mereka sudah makin uzur, "kejutan" tetap kita harapkan dari peletak dasar heavy metal ini. Sebab, pada Morse kita percaya.

Seno Joko Suyono (Jakarta), Raden Rahmadi (Bali)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:02:33


Musik 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB