Pengaruh gamelan di barat - Musik - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Musik 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pengaruh gamelan di barat

Liberty manik menyatakan ada pengaruh gamelan pada musik barat abad 20. penggunaan tangga nada pentatonis dari slendro dan pelog. karya debussy dan britten diambil sebagai contoh. (ms)

i
BICARA tentang gamelan, musikus Liberty Manik Desember yang lalu sempat diundang oleh Goethe Institut untuk rnembicarakan pengaruh gamelan pada musik abad XX Barat. Pengarang lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" yang lebih dari 20 tahun mengembara di Eropa ini telah merampungkan gelar doktor untuk studinya tentang musik musik Timur. Pada dasarnya Manik bertolak dari penggunaan tangga nada pentatonis, yang terdiri dari slendro dan pelog yang berbeda dengan tangga nada diatonis barat. Dcngan memperdengarkan beberapa buah ciptaan jelas terasa bagaimana gamelan lewat susunan tangga nada itu menyelusup ke khasanah musik barat. Memang rupa-rupanya pengaruh gamelan tidak hanya pada jenis tangga nada, tetapi juga dalam hal timbre atau ritme. Tapi Manik rupa-rupanya memang sengaja mempermudah masalahnya supaya jadi lebih jelas. Untuk ini dengan menarik dikemukakannya sebuah transkripsi dari gending Bali, Pamungkah dan Gambangan yang ditulis untuk dua piano oleh Colin McPhee. Bartok Untuk musik Barat abad ke-XX Manik mulai memperlihatkan pengaruh tersebut, yang diketemukannya pada Debussy. Komponis ini rupa-rupanya jelas nyerempet gamelan, lantaran rajinnya berkunjung ke "Expo Paris" sekitar tahun 1889. Ia mengambil karya Debussy yang berjudul "Nuages". Di dalam ciptaan itu jelas terdengar adanya pemakaian unsur seperti "balungan" dalam birama 33 sampai 53. Mungkin pada beberapa orang hal ini tidak begitu esensiil. Yang lebih jelas lagi adalah hadirnya musik gamelan yang begitu impresionistik, seakan-akan menjadi bagian idiom yang menaburi seluruh karya tersebut. Karya Debussy yan lain "Cloches a trevus le femilles", yang merupakan kumpulan lagu dalam "Images"nya, untuk piano. Di sana ada penggunaan tangga nada penuh atau Debussian, yakni oktap yang dibagi menjadi 6 interval sekunde besar (c - d - e - fis - gis - ais dan bis yang identik dengan c). Manik mengatakan, bahwa penemuan Debussy ini merupakan hasil dari pemikiran yang "slendroistis". Tak dijelaskan apakah penggunaan tangga nada seperti itu sebelumnya oleh Lizts dan komponis-komponis Rusia - yang diambil dari lagu-lagu rakyatnya -- dan diketahui dengan baik oleh Debussy, juga bukan merupakan sumber lain karya tersebut. Kemudian Manik menunjuk pada Bartok, untuk memperkuat hipotesanya. Tanpa menyinggung bahwa Bartok memperoleh penggunaan nada penuh dari musik rakyat Slavia, Manik menunjuk "From The Island Of Bali" yang dicomot dari buku piano "Mikrokosmos". Di sana terasa pemakaian tangga nada pelog dengan garapan yang licin dan manis sekali. Kendatipun Bartok lebih terasa di sini mempergunakan pelog tersebut sebagai "materi", dan bukannya dipengaruhi. Diketengahkan juga seorang komponis Perancis yang mengenal musik gamelan lewat tangan Suryabrata - tokoh musikolog kita. Namanya Poulenc. Disayangkannya kenapa komponis tersebu tidak dapat memanfaatkan perkenalan itu dengan baik. Dalam karyanya, sebuah konserto untuk dua piano yang diambil Manik sebagai contoh, Poulenc memperlakukan pelog dengan agak "cabul". Terdengar murip musik tambal sulam yang disabet dari sana-sini. Akhirnya komponis yang paling menarik dari sekian contoh yang dibahas pada kesempatan itu adalah orang Inggeris yang bernama Benyamin Britten. Karya berjudul "Prince of the Pagoda" dari Britten, adalah garapan musik untuk balet. Berkisah tentang seorang puteri yang lari dari sebuah kerajaan dan berkelana hingga hanyut ke negeri "Pagoda" yang tak lain daripada Bali. Dalam adegan pertemuan puteri itu dengan seorang pangeran dari negeri Pagoda, Britten menampilkan musik Bali dengan sangat polos, melalui instrumen-instrumen biola yang diperlakukan seperti rebab. Vibraphone memegang peranan gender. Ditambah dengan flute dan sebuah gong. Di sinilah kita melihat Britten menggarap permainan "reong" Bali dengan khas sekali, meskipun kadang kita tetap dapat merasakan juga tempelan-tempelan yang agak kasar. Secara keseluruhan Britten adalah contoh yang baik untuk topik yang menjadi perhatian Manik ini. Bahwa memang benar ada perembesan pelog dan slendro itu ke daerah sana.
2020-07-09 04:57:51


Musik 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.