Media 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

R.A. Kartini pasti tak akan pernah menduga bila suatu saat namanya menjadi sumber perselisihan. Ironisnya lagi, ini bukan kali pertama. Dua penerbit majalah wanita, yaitu Kartini dan Swara Kartini Indonesia(SKI), saat ini sedang berseteru tentang penggunaan nama wanita pejuang ini.

Bram Tuapattinaya, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Kartini, menyatakan akan menuntut penerbit SKI karena melakukan penjiplakan logo maupun rubrikasi dari Kartini. "Tunggu saja tanggal mainnya," kata Bram. Dua majalah ini memang tak berbeda jauh, baik dari segi penampilan maupun muatannya, kecuali nama depan dan belakang SKI yang ditulis dengan huruf kecil. Gertakan ini tak membuat gentar pengelola SKI. Pemimpin Umum SKI, Ishadi, menyatakan pihaknya telah melakukan pergantian logo dan nama sehingga tidak bisa dianggap menjiplak. Pemimpin Redaksi SKI, Maza Yudha, juga setali tiga uang dengan Ishadi. "Pokoknya, kita siap berjuang untuk menegakkan amanat almarhum Lukman Umar selaku pendiri Kartini," ujar Maza. Kasus Kartini ini menambah daftar media yang pecah dan membuat media baru dengan nama sama, seperti Merdeka dan Rakyat Merdeka serta Bintang Indonesia dan Bintang Milenia.

Konflik tampaknya memang akrab dengan majalah Kartini. Lahir pada 1974, Kartini dibidani, antara lain, Lukman Umar dan Bram Tuapattinaya. Lukman, sebagai penyandang dana, memegang jabatan pemimpin umum, sementara Bram sebagai pemilik surat izin terbit (SIT) dipercaya selaku pemimpin redaksi. Mengingat asas yang dipakai pada awal pendirian adalah kekeluargaan, pembagian saham pun tidak begitu dipersoalkan saat itu. Kartini pun lalu menjadi besar dengan memiliki beberapa anak perusahaan—salah satunya bahkan bergerak di bidang pengiriman tenaga kerja. Kepemilikan saham yang semula bukan masalah besar itu pada 1986 menjadi persoalan serius. Muncullah Kartini kembar, yang akhirnya salah satunya menjelma jadi majalah Pratiwi.

Setelah peristiwa ini, Kartini—dengan duet Bram dan Lukman—relatif sepi gejolak. Sayang, dalam perkembangannya, majalah-majalah di bawah Grup Kartini tidak berhasil mencapai target yang diharapkan. Akibatnya, ketika krisis moneter berkepanjangan, kapal yang terlalu besar ini pun oleng. Kartini pingsan selama satu tahun, sebelum terbit lagi.

Namun, ada cerita kurang sedap di balik kolapsnya Kartini. Bram dianggap oleh sebagian awak Kartini merebut kepemilikan saham Lukman secara kurang jujur. Sementara itu, di sisi lain, Lukman sebagai pemilik saham terbesar terpaksa mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah untuk menanggung utang Kartini. Tentu saja Bram menolak tudingan tak sedap ini, juga masalah tak beresnya pesangon bagi awak Kartini yang lama. Yang pasti, awak Kartini yang kurang puas dengan Bram inilah yang lalu menerbitkan SKI. Menurut Maza Yudha, ada 75 persen awak Kartini lama yang bergabung dalam SKI, walau menurut Bram 90 persen stafnya adalah orang lama. Menurut Wita Lestari, bekas wartawan Kartini yang ikut bergabung dengan SKI, ia tertarik bergabung dengan SKI karena lebih progresif.

Bila tak ada ganjalan persoalan hukum, waktu jualah yang akan menentukan siapa di antara dua Kartini yang paling memikat pembaca dan pemasang iklan.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865909794



Media 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.