Luar Negeri 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

"Mahathir Mendapat Nasihat yang Salah"

i
SEORANG wanita berkerudung putih dan baju kurung hijau membawa sekantong kurma ke Penjara Sungai Buloh, Malaysia. Wanita dan anak-anaknya berhasil berbincang dengan penghuni penjara itu—mantan Timbalan Perdana Menteri Dato Anwar Ibrahim—dari balik kaca pemisah, tetapi sang kurma hanya boleh berhenti hingga di muka pintu. "Padahal, suami saya ingin mengecap kurma karena sedang menjalani puasa Rajab," tutur Datin Wan Azizah Ismail kepada TEMPO, tanpa nada mengeluh. Perlakuan seperti ini sudah biasa dihadapi Wan Azizah (46 tahun), yang sudah mendapatkan, "amanah dari suami saya untuk meneruskan perjuangan untuk mengungkap kebenaran." Ia menghadapi semua "teror mental" itu dengan salat lima waktu dan puasa. "Jika saya menyimpan dendam, saya rugi karena energi saya hanya dikonsumsi untuk sebuah kemarahan. Saya lebih memilih jalan mencari kebenaran dengan cara legal, bersih, dan fair," tuturnya pada suatu pagi pekan silam ketika menerima TEMPO di rumahnya, di kawasan elite di Bukit Damansara. Setelah setahun pemecatan dan penahanan Anwar Ibrahim akibat serangkaian tuduhan sodomi dan korupsi yang dilancarkan oleh Perdana Menteri Mahathir Mohamad—serta vonis enam tahun penjara—Wan Azizah tumbuh menjadi wanita yang kuat, keras, teguh, dan penuh strategi. Kesan perempuan pemalu yang berdiri di balik karir sang suami—dan hanya sibuk mengurus keenam anak dan menjalani profesi dokter—itu kini sirna. Di antara kesibukannya mengurus keenam anaknya—yang bungsu pagi itu "menuntut" ibunya untuk meluangkan waktu dengan dia—Azizah terus melakukan rapat-rapat konsolidasi dengan Partai Keadilan Nasional (PKN), partai yang baru didirikannya bulan April silam, berkeliling negeri untuk berkampanye, dan merancang strategi pemilu. Begitu sibuknya mengurus persiapan pemilu, hingga pada saat pengadilan dua pekan silam, Azizah agak terlambat menghadiri sidang pengadilan sodomi—tuduhan yang kini dihadapi Anwar dan bisa mengancamnya 20 tahun kurungan penjara. Siang itu juga, Anwar dilarikan ke rumah sakit karena ia menderita pusing yang berkepanjangan, sementara Wan Azizah melakukan perjalanan kampanye ke kawasan Dengkil, Selangor. Berikut adalah petikan wawancara Leila S. Chudori dari TEMPO, di ruang tamunya yang dibalut karpet yang sudah berwarna kusam dan berisi kursi-kursi tamu yang telah dimakan usia.

Bisa ceritakan strategi partai Anda untuk pemilu mendatang?

Saya baru saja berkampanye di kawasan Dengkil, Selangor, yang lokasinya dekat Putrajaya (kantor dan tempat tinggal PM Mahathir Mohamad—Red). Ini sebuah kontras karena Putrajaya begitu mewah, besar, dan modern, sementara kawasan Dengkil adalah kawasan yang harus dicapai melalui jalan yang turun-naik tanpa lampu.
Secara garis besar kami sudah membentuk koalisi yang kami namakan Alternative Front. Kami sudah mengeluarkan manifesto bersama dan kami sudah mengeluarkan anggaran dua hari sebelum anggaran nasional dikeluarkan, Kami merasa ide dan strategi kami dijiplak (oleh pihak partai pemerintah—Red). Koalisi Alternative Front sudah bersetuju untuk mencalonkan suami saya sebagai kandidat.

Mengingat suami Anda masih menjalani hukuman penjara dan ada berbagai tuduhan lainnya yang akan memakan waktu untuk proses pengadilan, bagaimana kepemimpinan itu dijalankan?

Kalau Alternative Front menang, kami akan menjalankan judicial review. Dan ketika proses peninjauan undang-undang itu berlangsung, dengan sendirinya akan ada proses peninjauan hukum terhadap suami saya.

Secara realistis, masyarakat Malaysia, terutama kelas menengah-atas, masih menikmati sukses ekonomi negara ini, dan krisis ekonomi di Malaysia relatif tak seberat di Indonesia. Bagaimana Anda mengharap Mahathir bisa dikalahkan?

Anda benar. Ekonomi Malaysia memang lebih baik daripada negara-negara lain di Asia, tetapi ekonomi kami sedang mengalami defisit anggaran. Ada social unrest di mana-mana, perlahan-lahan kelas menengah atas yang menginginkan stabilitas dan demokrasi juga akan mulai menginginkan perubahan. Kesenjangan sosial dan ekonomi akan membuat mereka membutuhkan sebuah alternatif. Kelas menengah atas cukup sensitif merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres karena kenikmatan ekonomi itu tak diperoleh secara merata. Meski mereka hidup nyaman, mereka melihat ketidakadilan yang terjadi dengan cara yang begitu terbuka. Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan akan mematangkan situasi ketika kita akan dipaksa melakukan reformasi. Kami membiarkan rakyat, apakah kelas bawah,menengah, atau atas, melakukan pilihannya sendiri. Kami mementingkan permainan clean and fair.

Tetapi demonstrasi dan protes mahasiswa serta kaum profesional mendingin. Pers Malaysia sangat propemerintah. Bagaimana mengerahkan dukungan?

Demonstrasi mahasiswa memang sudah menurun karena pembungkaman yang terjadi sangat keras. Kami sudah memutuskan untuk ikut pemilu, yang semula dijadwalkan Juni tahun 2000 (kini sudah ditetapkan akan berlangsung akhir November tahun ini—Red). Situasi perlawanan seperti demonstrasi atau pernyataan keras sulit dirasakan efektivitasnya. Jika seseorang simpati terhadap reformasi, dia pasti dipanggil, dicerca, dikirimi surat teguran keras atau dia mengalami penurunan pangkat atau jabatan.
Para mahasiswa juga mengalami kesulitan untuk mengerahkan simpati dan dukungannya terhadap gerakan reformasi kami. Misalnya, putri saya Nurul Izzah dan kawan-kawannya diimbau untuk tidak bersimpati kepada gerakan reformasi. Mereka terancam beasiswanya dibatalkan. Pemerintah kemudian menekankan agar para mahasiswa memusatkan perhatian pada kuliah, no politics. Sebagian besar mahasiswa ini sebetulnya pendukung kami, tetapi mereka belum bisa memilih karena persyaratan pemilih di Malaysia adalah warga yang berusia 21 tahun.

Para pemilih baru, yang jumlahnya ratusan ribu dan rata-rata memilih reformasi, dinyatakan oleh Pemilihan Raya (lembaga komite pemilihan umum—Red) bahwa mereka baru bisa memilih pada akhir Januari tahun 2000.

Sejauh ini, apakah gerakan Anda dan koalisi mengampanyekan ide reformasi terhalang oleh pemerintah Malaysia?

Sejauh ini belum terlalu. Hanya, ketika saya ke Malaysia Timur—Serawak dan Sabah—beberapa hotel menolak menerima kami check-in. Kami mendapat info, ini disebabkan oleh gerakan pemerintah.

Apakah terlihat gejala money politics?

Sejauh ini hanya berkisar pada persoalan fasilitas yang memang dikuasai UMNO (United Malay National Organization). Mereka yang datang ke acara kampanye UMNO biasanya akan diberi makanan, kaus, dan uang saku. Mereka juga punya akses untuk melakukan kampanye di stadium besar, sementara kami tak mempunyai uang seperti itu. Kami tak mungkin mendapatkan dukungan dari komunitas bisnis karena sekali seorang pengusaha bersimpati kepada kami, izin usahanya akan dicabut.

Koalisi Anda pernah mengadakan pol untuk melihat kemungkinan kemenangan front Anda?

Tentu, tetapi kami tak bisa melakukannya terbuka karena rakyat tak berani secara terbuka mengungkap isi hatinya. Orang cenderung berahasia jika kami mengadakan pol tentang siapa pemimpin yang akan dipilih dalam pemilu nanti. Di internet, kami bisa melakukan pol ini karena para peserta bisa menjawab pertanyaan secara anonim. Namun, tentu saja kami harus memperhitungkan kelemahan-kelemahan metode melalui internet. Pol melalui internet ini menunjukkan oposisi bisa meraih 50 persen suara. Setelah menguranginya dengan berbagai kelemahan metode ini, paling tidak kami mendapatkan gambaran kasar pemilih kami.

Jika penuntut berhasil memenjarakan suami Anda lebih dari enam tahun dan situasi memaksa Anda untuk menjadi kandidat, seperti apa yang dialami Cory Aquino , apakah Anda akan bersedia?

(Diam untuk beberapa lama) Saya tak tahu. Kita bisa memikirkannya jika memang situasinya sudah sampai sejauh itu. Saya menghormati pemimpin lain diberi partai lain dalam koalisi.

Jadi, Anda akan memberikan jalan ini kepada Dato Anwar? Anda sendiri tak tertarik terjun ke politik setelah semua ini berhasil? Padahal kaum intelektual sudah bergurau melihat kemajuan strategi Anda bahwa jika Anwar keluar dari penjara, dia akan kehilangan pekerjaan.

(Tertawa) Saya hanya melakukan ini karena saya merasa ada yang salah yang terjadi di negeri ini. Ada suatu kebutuhan yang mendorong saya melakukan ini. Ada suatu amanah dari suami saya untuk mengambil alih perjuangan ini. Itu saja. Setelah suami saya bebas, dia akan kembali ke panggung.

Apa kelanjutan dari dugaan suami Anda diracuni dengan arsenik?

Penelitian dari lab independen melihat adanya kecenderungan itu. Para toxicologist melihat adanya level of arsenic itu dan dari grafik dan melihat kecenderungannya yang menurun setelah beberapa lama. Jika itu organik, misalnya dari kerang, arsenik itu—menurut mereka—akan hilang hanya dalam dua hari. Dan perlu diingat, penjara tak menyajikan makanan semewah itu. Sedangkan arsenik yang ada dalam tubuh suami saya menghilang jauh lebih lama dari itu. Saya tak menuntut karena levelnya menurun dan peracunan itu tak mematikan, sehingga pembuktiannya akan sulit. Kami hanya harus lebih waspada saja setelah peristiwa ini karena meski tak mematikan, gejalanya sudah cukup mengganggu kesehatannya.

Ada beberapa rekan Anwar Ibrahim, yang lari ke Indonesia karena merasa dia dan keluarganya diteror. Apakah kehidupan para pendukung Anwar serta keluarga mereka memang dipersulit?

Itu sudah menjadi makanan rutin kami. Kami diintai, kami tahu bahwa ada orang-orang yang mencatat siapa saja tamu kami, mobil-mobil siapa yang diparkir di kawasan ini, kantor pengacara saya kerap digerebek karena mereka mencari dokumen-dokumen, bahkan kantor dokter yang memeriksa suami saya juga dimasuki orang. Ada teror mental dan cultural fear yang berlangsung, yang membuat kami harus selalu waswas. Caranya, mereka meneror tak terlalu terbuka, tapi cukup untuk membuat kita merasa diintai. Kepada saya pribadi, orang bersikap hormat dan simpati. Orang tahu saya berada dalam posisi ini bukan karena keinginan saya. Orang-orang di penjara dan bahkan di kejaksaan menunjukkan hormat kepada saya.

Bagaimana anak-anak Anda menghadapi tuduhan-tuduhan yang dilancarkan kepada suami Anda, terutama tuduhan ketidaksenonohan yang tak layak didengar didengar anak-anak ?

Mereka mengenal ayahnya, anak tertua saya (Nurul Izzah, 17 tahun—Red) merasa ketegangan di mana-mana, dan ia merasa bahwa ada yang mencemoohnya, baik secara terbuka maupun diam-diam. Tapi kini semakin banyak orang yang mendukung. Anak-anak sudah mulai banyak mendapat kawan yang mengembalikan kepercayaan dirinya. Mereka kini tidak terpengaruh dengan tuduhan apa pun. Tentu yang menjadi problem adalah jika anak-anak yang masih kecil merindukan ayahnya. Anak bungsu saya menggambar dan menulis untuk ayahnya secara reguler. Mereka hanya bisa bertemu dengan ayahnya sebulan sekali selama setengah jam. Terkadang, jika penjaga penjara baik, kami diizinkan bertemu hingga 45 menit. Pertemuan itu bisa terjadi di antara kaca sejak suami saya divonis enam tahun penjara.

Anda tak berniat bertemu dengan kepala-kepala negara Asia, seperti dulu, termasuk presiden baru Indonesia?

Saya melihat Megawati tidak ke mana-mana, tidak ke luar negeri, ketika ia didera problem pada zaman pemerintahan Soeharto. Saya kira saya akan mengikuti jejak Megawati dalam hal ini. Saya harus banyak melakukan berbagai hal di dalam negeri. Memang, saya pernah bertemu dengan Presiden Estrada, Madeleine Albright, dan lainnya untuk sekadar courtesy call. Tetapi saya menghormati politik non-interference di dalam negeri ASEAN.

Anda mengenal Mahathir Mohamad untuk waktu yang lama, ketika ia masih menjadi duo yang kompak dengan suami Anda. Saat itu Anda tak mengira semua akan berakhir seperti ini?

Saya orang yang sederhana dan berpikir dengan sederhana. Saat itu, saya melihat dia sebagai figur bapak, dan selalu bekerja dengan kompak dengan suami saya. Saya biasa menghormatinya dan hingga kini saya tetap menganggap apa yang terjadi sekarang disebabkan Mahathir mendengarkan nasihat yang salah. Saya tak tahu kenapa ia lebih percaya pada orang lain daripada suami saya. Kini, terus terang saya tak mau menumbuhkan dendam dalam diri saya dan anak-anak saya. Sekali kita memelihara dendam, maka dendam itu akan memakan energi kehidupan kita dan destruktif. Dendam itu menghilangkan segala obyektifitas. Saya tetap ingin melakukan segala sesuatu dengan fair, legal, dan bersih, tanpa menusuk dari belakang.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836304882



Luar Negeri 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.