Terjepit Dua Perisai - Luar Negeri - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Luar Negeri 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terjepit Dua Perisai

Kelompok perlawanan Irak menggunakan taktik sandera untuk melemahkan pasukan pendudukan Amerika Serikat.

i

Namanya Noriaki Imai. Usia 18 tahun. Seperti adegan kekerasan dalam tonil, remaja Jepang ini digiring dengan mata yang dibebat dan tangan diborgol. Di sebelahnya Soichiro Koriyama, 32 tahun, dan seorang perempuan, Nahoko Takato, 34 tahun. Semuanya dalam kondisi tak berdaya. Mereka dikelilingi lelaki bersenjata api di dalam ruangan dengan dinding penuh lubang bekas peluru. Pada saat lain, kamera menampilkan mereka duduk di lantai di bawah todongan senjata api dan pisau. Ketiga warga negara Jepang itu tampil di layar televisi lewat tayangan televisi Al-Jazeera, Rabu malam dua pekan lalu. Terdengar narasi yang dibacakan penyiar: "Tiga anak kalian (Jepang) telah jatuh ke tangan kami. Kami menawarkan pada kalian dua pilihan: tarik pasukan kalian atau kami akan membakar mereka hidup-hidup". Penculik memberikan waktu tiga hari setelah penayangan rekaman video itu.

Ancaman kelompok perlawanan Irak lewat rekaman video itu melesat ke Shapporo, Jepang, dan masuk ke gendang telinga Naoko Imai, 51 tahun, ibu kandung Noriaki. Naoko pun meratap agar Perdana Menteri Junichiro Koizumi segera menarik pulang 550 pasukan bela diri Jepang dari Irak. "Kami ingin melakukan apa saja agar ia bisa pulang," ujar Naoko terisak. Noriaki hanyalah remaja yang baru saja tamat SMA pada Maret silam.

Gandrung pada gerakan antiperang, dia nekat ke Irak untuk meneliti akibat penggunaan uranium terhadap penduduk Irak. Milisi Saraya al-Mujahidin menangkapnya pada 8 April lalu bersama Koriyama, bekas tentara yang kini menjadi jurnalis foto, dan Nahoko Takato, relawan yang membantu anak jalanan Irak. Sejak saat itu, foto ketiganya setiap hari muncul di televisi Jepang.


Tangis Naoko menyeret langkah 600 orang ke kediaman Koizumi di Tokyo. "Perdana Menteri, jangan biarkan mereka bertiga terbunuh," mereka menjerit dan menandak-nandak di depan rumah pemimpin pemerintahan Jepang itu. Ratusan orang lainnya berkumpul di parlemen dan meminta penarikan pasukan Jepang dari Irak. Ketakutan Naoko beralasan. Sebab, Fabrizio Quattrocchi, tenaga keamanan perusahaan Italia di Irak yang diculik bersama tiga rekannya, dieksekusi mati oleh penculik, Rabu pekan lalu. Quattrocchi dieksekusi sehari setelah Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menolak tuntutan penyandera agar pasukan Italia hengkang dari Irak. Belakangan malah gerilyawan Irak menculik dua lagi warga Jepang.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTE6NDI6MzciXQ

Inilah taktik baru gerilyawan Irak melawan pasukan raksasa dari berbagai negara pimpinan Amerika Serikat (AS) sejak meletus konflik bersenjata antara milisi Syiah dan pasukan Amerika. Targetnya jelas: meruntuhkan mental negara yang ikut-ikutan menempatkan pasukan di Irak, atau negara yang ikut pesta-pora melahap kue pembangunan kembali Irak. Maka, aksi culik dan sandera jalan terus.

Dimulai dengan penangkapan dua pekerja kemanusiaan Korea Selatan oleh milisi Syiah di selatan Kota Nasiriyah pada 5 April lalu serta penculikan terhadap kontraktor Inggris, Gary Teeley. Mereka dicokok saat terjadi kontak senjata antara pasukan Italia dan milisi Syiah. Sejak itu berturut-turut setiap hari hingga Rabu pekan lalu sekitar 22 warga sipil asing dari kontraktor, pekerja kemanusiaan, rohaniwan hingga wartawan, dikabarkan hilang. Tapi sehari berikutnya mereka muncul di televisi dengan status sandera. Seorang sopir truk warga AS, Thomas Hamill, diculik di Fallujah. Penculik mengancam akan menghabisi Hamill jika pasukan AS tak mengakhiri gempuran ke Fallujah. Ada empat rohaniwan Korea Selatan yang diciduk di dekat Bagdad. Seorang warga Korea yang lolos dari penculikan, Kim Sang-mee, menyebut penangkapan mereka berkaitan dengan rencana pengiriman 3.600 pasukan Korea Selatan ke Irak.

Namun ternyata korban penculikan tak cuma warga yang negaranya mengirim pasukan ke Irak. Tujuh warga Cina asal Provinsi Fujian diculik di jalan raya antara Mosul dan Fallujah. Padahal kita tahu belaka bahwa Cina menentang aksi unilateral AS dan Inggris menyerang Irak. Cina juga tidak mengirim tentara ke Irak. Diduga mereka diringkus karena penculik mengira ketiganya warga negara Jepang atau Korea Selatan.

Siapa pelakunya? Televisi Qatar, Al-Jazeera, yang selalu memperoleh rekaman video pernyataan penculik, tak memberikan informasi yang jelas. Selain itu, penculik bisa memakai kelompok apa saja semau mereka. Para penculik, yang akhirnya membebaskan tiga sandera asal Jepang pada Kamis dua pekan lalu, menyebut dirinya kelompok "Pasukan Mujahidin" yang bisa saja berasal dari berbagai kelompok perlawanan Irak. Tapi tak ayal tudingan tertuju pada milisi Syiah dan Sunni yang belakangan rukun dalam satu front melawan pasukan pendudukan AS dan sekutunya.

Salah satunya pasukan Mahdi yang dipimpin Muqtada al-Sadr (lihat Menembus Batas Seribu Tahun). Mereka ini sengit dengan pasukan AS. Tayangan televisi menunjukkan sandera dikelilingi orang bersenjata memakai pakaian hitam khas milisi Mahdi. Selain itu kebanyakan penculikan terjadi di sekitar wilayah Fallujah, basis perlawanan Muqtada al-Sadr. Tapi Amir al-Hussaini, orang dekat Muqtada al-Sadr, membantah kelompoknya menjadi dalang penculikan itu. "Kami justru berdoa agar mereka dibebaskan," kata Amir.

Sejauh ini taktik penyanderaan cukup membuat gusar Gedung Putih. Presiden AS George W. Bush memutuskan mengirim 20 ribu pasukan ke Irak, sebagai pasukan pengganti. Tapi perlawanan milisi Syiah dan Sunni, termasuk lewat aksi penculikan, memaksa Wakil Presiden Dick Cheney bergegas terbang ke Tokyo untuk membesarkan hati Perdana Menteri Koizumi. Hasilnya, Koizumi mengabaikan ratapan rakyatnya. "Gerilyawan Irak pengecut," ejek Koizumi. Begitu juga halnya dengan Italia. Perdana Menteri Berlusconi tak terusik atas kematian seorang warganya di tangan penculik.

Tapi lain lagi langkah Presiden Filipina Gloria Arroyo. Dia mempertimbangkan kemungkinan penarikan pasukan Filipina dari Irak. Rusia sudah jelas-jelas akan mengevakuasi warganya dari negeri Teluk itu. Adapun lembaga bantuan internasional mulai membatasi kegiatannya di sana. Repotnya, Amerika tak cuma butuh tentara di Irak. Amerika juga membutuhkan sokongan aneka lembaga internasional yang kini mulai dilanda demam "mudik". Mengutip ucapan Vanja Mildred, seorang wanita Rusia-Inggris: "Mendingan boyongan ke luar Irak sekarang ketimbang mati terjepit perisai Amerika dan Irak."

Raihul Fadjri (Arab News, BBC, The Independent, LA Times)


Mimpi Buruk Warga Asing

5 April
Kelompok Syiah menangkap dua pekerja kemanusiaan warga Korea Selatan di selatan Kota Nasiriyah saat kontak senjata antara pasukan Italia dan milisi Syiah. Hari yang sama, milisi Syiah juga menangkap kontraktor Inggris, Gary Teeley.

6 April
Dua warga Korea Selatan itu dilepas.

7 April
Pekerja kemanusiaan warga Kanada diculik.

8 April
Kelompok bersenjata menyandera tujuh misionaris Korea Selatan di dekat Bagdad. Mereka dibebaskan hari itu juga.

8 April
Televisi Iran menayangkan rekaman video dua orang Palestina penduduk Yerusalem Timur yang ditangkap milisi Irak dengan tuduhan sebagai mata-mata Israel. Keduanya bekerja untuk lembaga riset AS.

8 April
Tiga warga Jepang disandera kelompok Saraya al-Mujahidin. Ketiganya adalah Noriaki Imai (penulis lepas), Soichiro Koriyama (jurnalis foto), Nahoko Takato (relawan). Kelompok ini menuntut penarikan pasukan Jepang dari Irak.

9 April
Sopir truk warga AS, Thomas Hamill, diculik di Fallujah. Penculik mengancam akan membunuh Hamill jika pasukan AS tak mengakhiri gempuran.

11 April
Tiga pekerja perusahaan energi Rusia dan lima pekerja asal Ukraina diculik di Bagdad. Mereka dibebaskan sehari kemudian.

11 April
Tujuh warga negara Cina diculik di jalan raya Mosul-Fallujah. Pekerja asal Provinsi Fujian ini dibebaskan sehari berikutnya.

11 April
Dua awak televisi Chek hilang.

11 April
Alexandre Jordanov, wartawan Capa Television, Prancis, dan kamerawan Ivan Ceriex diculik saat meliput serangan terhadap iringan pasukan AS di Fallujah. Keduanya dituduh sebagai agen rahasia Israel. Ceriex dibebaskan sehari kemudian, sedangkan Jordanov dibebaskan setelah disekap empat hari.

14 April
Seorang dari empat petugas keamanan perusahaan Italia yang diculik, Fabrizio Quattrocchi, dibunuh.

14 April
Dua warga Jepang yang diduga wartawan lepas diculik di dekat Bagdad.

15 April
Tiga warga Jepang, Noriaki Imai, Nahoko Takato, dan Soichiro Koriyama, dibebaskan di Bagdad.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:42:37


Luar Negeri 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB