Luar Negeri 4/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Reda oleh titah raja

Kekuasaan pewaris dinasti chakri mula pertama dikebiri partai rakyat. tapi, setiap kali krisis muncul, orang kembali berpaling pada raja.

i
UPAYA Raja Bhumibol Adulyadej mencegah darah tumpah di jalanan kali ini terlambat. Setelah 40 demonstran terkapar tak bernyawa dan 400 lainnya luka-luka diterjang peluru petugas keamanan, pewaris dinasti Chakri itu baru memanggil Perdana Menteri Suchinda Kraprayoon dan tokoh oposisi Chamlong Srimuang ke Istana Chitralada, Bangkok, dan menitahkan mereka untuk menghentikan kerusuhan. Sekalipun raja, menurut konstitusi, tidak berwewenang ikut campur dalam kegiatan legislatif, eksekutif, maupun judikatif, rakyat tetap menganggap raja sebagai satu-satunya tokoh yang paling mampu mendamaikan konflik jika semua jalan sudah buntu. Raja adalah lambang persatuan nasional. Selama hampir setengah abad di tahta dinasti Chakri, Raja Bhumibol sudah beberapa kali melakukan intervensi untuk mengatasi krisis politik yang bisa mengancam kelanggengan kerajaan di antaranya ketika terjadi demonstrasi mahasiswa pada 1973, 1976, dan aksi kudeta kelompok "Turki Muda" pada 1981. Muangthai memang negeri rawan kudeta dan demonstrasi. Hampir setiap dua tahun ada kudeta. Dalam setiap kali demonstrasi biasanya selalu jatuh korban -- salah satu yang terbesar adalah pada 1973 ketika 70 demonstran terbunuh akibat keberingasan petugas keamanan. Tercatat 40 orang tewas dalam demonstrasi minggu lalu. Sekalipun raja cuma lambang, militer hampir tak pernah melakukan kudeta pada saat kepala negara berada di Bangkok. Salah satu aksi kudeta yang banyak dibicarakan orang adalah ketika Jenderal Serm Na Nakhon dengan dukungan pasukan kavaleri menggoyang kursi Perdana Menteri Prem Tinsulanond pada 1985. Waktu itu hampir semua pejabat penting Muangthai tak berada di Bangkok. Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit melawat ke Provinsi Narathirat. Putra Mahkota Vajiralongkorn ke Italia. Pangab Jenderal Arthit Kamlang-Ek keliling Eropa. Prem ke Indonesia. Kudeta itu, menurut Serm, untuk menyelamatkan negara dari kebobrokan ekonomi pemerintahan Prem. Tapi upaya Serm itu segera dipatahkan Jenderal Tienchai Sirisamphan, yang setia kepada Prem, dengan korban 60 orang cedera dan dua orang meninggal seorang wartawan televisi NBC tewas di tempat dan satu lagi meninggal setelah dirawat di rumah sakit. Situasi baru pulih setelah Raja Bhumibol menyatakan dukungannya kepada Prem. Peran Raja Bhumibol dalam mempersatukan bangsa tentu saja bukan sekadar menyelamatkan pemerintahan dan kerajaan dari setiap kali kudeta. Ia juga melakukan gerakan amal yang terbukti mampu membendung gerakan kaum komunis, menyadarkan petani opium, dan mencegah penjalaran gerakan separatis. Pembuatan bendungan irigasi di Muangthai Timur ternyata mampu mendinginkan upaya pemberontakan di wilayah tersebut. Untuk sementara, pemberian keleluasaan beribadat bagi masyarakat Islam di Muangthai Selatan telah meredakan keinginan masyarakat Pattani memisahkan diri. Ceramah keliling yang dilakukan Raja Bhumibol di Muangthai Utara telah berangsur-angsur mengubah tanaman petani dari opium ke tanaman kacang kedelai dan kopi. Maka ketika 14 bulan bulan kemudian Jenderal Suchinda Kaprayoon otak penggulingan Perdana Menteri Chatihai Choonhavan tahun lalu naik sebagai orang pengganti, mahasiswa kembali turun ke jalan memprotes langkah itu. Raja Bhumibol, yang semula merestui Suchinda sebagai kepala pemerintahan baru, sadar bahwa ia melakukan kekeliruan setelah korban berjatuhan. "Baginda harus bicara sesuatu," ratap seorang mahasiswi Assumtion University. Raja Bhumibol kemudian memang angkat bicara dan Muangthai kembali tenang. Upaya mengebiri kekuasaan raja pertama kali dilakukan sejumlah cendekiawan berpendidikan Barat yang terhimpun dalam Partai Rakyat. Aksi kudeta mereka terhadap Raja Prajadhipok pada 1932 telah menempatkan raja pada posisi seperti sekarang -- tak bisa mencampuri urusan pemerintahan. Tahun 1935 Raja Prajadhipok menyerahkan tahtanya kepada Ananda Mahidol, keponakannya yang berusia sepuluh tahun. Gerakan Partai Rakyat itu mengorbitkan Pridi Phanomyong, ahli hukum lulusan Prancis, sebagai keala pemerintahan. Tahun 1938, setahun menjelang Perang Dunia II, Kapten Luang Pibul Songgram menggulingkan Pridi. Enam tahun kemudian Partai Rakyat kembali berkuasa dan Pridi kembali menjadi perdana menteri. Tahun 1946 Raja Ananda tewas di tangan penembak misterius di Istana Chitralada. Ia digantikan oleh Bhumibol Adulyadej, yang belum dinobatkan hingga tahun 1950 karena harus menyelesaikan studinya di Swiss. Tahun 1947 Jenderal Pibul Songgram menggulingkan pemerintahan Pridi dan militer mulai memainkan peran. Selama sepuluh tahun berkuasa, Pibul melakukan sejumlah perubahan penting dalam beleid, antara lain menjadikan Muangthai yang netral menjadi pro-Barat. Sepak terjang Pibul dihentikan oleh Kolonel Sarit Thanarat, komandan Divisi I, yang kemudian jadi perdana menteri hingga wafatnya pada 1963. Sepeninggal Sarit, pemerintahan dikendalikan dua komandan militer -- Jenderal Thanom Kitticachorn sebagai perdana menteri dan Prapas Charusathien sebagai deputi perdana menteri. Tahun 1973 Thanom digantikan Prem dan segera diikuti unjuk rasa besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut diakhirinya pemerintahan militer. Posisi Prem terselamatkan karena Raja Bhumibol berada di pihaknya. Dalam krisis politik minggu silam Raja Bhumibol memilih tak berpihak kepada Suchinda. Keputusan itu pula yang membuat situasi kembali normal. Sekalipun hanya simbol, pada waktu-waktu mendatang baik pemerintahan militer maupun sipil tampaknya tetap saja masih memerlukan uluran tangan raja untuk mengatasi kemelut politik di Muangthai. Sri Indrayati

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052574779



Luar Negeri 4/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.