Luar Negeri 13/14

Sebelumnya Selanjutnya
text

Maka bertemulah dua orang salesman

Mikhail gorbachev terbang ke washington. menandatangani perjanjian dengan reagan untuk memusnahkan nuklir jarak sedang. pertemuan kurang mulus. ada gangguan dari sikap mereka dan soal nasib yahudi soviet.

i
SEORANG Amerika di sebuah kota kecil di Iowa pekan lalu menatap baik-baik wajah pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev di layar televisinya. Lalu ia menyimpulkan yakin: "This guy's a salesman." Demikianlah, seperti ditulis wartawan Washington Post Service, bahkan di pedalaman Amerika pun "Rusia" tak lagi merah menakutkan. Orang Amerika biasa menghadapi para juru jual yang menawarkan barang dagangan di dalam hidup mereka, dan jika Gorbachev mirip itu, mereka akan tak ganjil menerimanya. Bahkan presiden mereka sendiri kini, Reagan, dengan senyum dan suaranya yang enak serta mantap, pernah jua dijuluki sebagai "salesman". Kedua pemimpin negara superkuat itu memang seperti bersaing menawarkan ide, dan pengaruh masing-masing, ke sebuah supermarket dunia. Dan Senin pekan ini, "salesman" yang dari Uni Soviet terbang menuju Amerika. Pertemuan puncak pembatasan senjata nuklir, yang akan diselenggarakan pekan ini di Washington, menunggunya. Ia berhenti sebentar di pangkalan militer Norton, London, untuk pembicaraan kilat dengan perdana menteri Inggris Margaret Thatcher, sementara istrinya Raisa, yang menyertainya, mengadakan kunjungan 45 menit ke sebuah sekolah, mendengarkan para murid menyanyikan lagu-lagu Natal. "Saya harap senantiasa ada perdamaian di antara kita," ujar Raisa dalam musibah itu, seolah ikut mempromosikan misi damai suaminya. Dari London, Gorbachev meneruskan menjajakan idenya, seperti direncanakan, ke Washington. Pasangan penting Uni Soviet itu tiba di pangkalan udara militer di luar Washington jam 16.40 waktu setempat. Lalu dengan helikopter, menuju Washington. Di situ Reagan menunggu. Tapi tak seluruhnya pertemuan kedua "salesmen" itu tanpa gangguan. Gangguan pertama adalah sikap kedua pemimpin negara superkuat itu terhadap negeri "pihak sana". Diketahui, setidaknya dalam pertemuan dengan pers Barat, Gorbachev melihat AS dengan kaca mata seorang komunis ortodoks: AS sebagai masyarakat kapitalis yang dikuasai kelompok militer dan industri. Sebaliknya Reagan, seperti dikatakannya sendiri, belum tampak berubah dari pandangannya bahwa Uni Soviet adalah sebuah "kemaharajaan jahat". Gangguan kedua ada di jalanan. Sistem keamanan untuk menyambut kedatangan Gorbachev di Washington pekan ini baru diperketat. Masyarakat Yahudi AS menyambut sang tamu dengan demonstrasi. Mereka memprotes tindakan polisi Soviet memukul seorang wanita tua Yahudi dalam sebuah unjuk rasa di Moskow hari Minggu, sehari menjelang keberangkatan Gorbachev. Di jalanan Moskow memang ada dua aksi unjuk rasa mengantar keberangkatan Gorbachev. Yang satu barisan panjang manusia yang dinamai "Untaian Perdamaian". Inilah pernyataan rakyat Soviet mendukung misi Gorbachev. Yang kedua, demonstrasi kaum Yahudi, yang mendakwa pemerintah di Kremlin menghalangi niat kaum Yahudi untuk hijrah ke AS. Di sinilah insiden pemukulan terjadi. Kaum Yahudi Soviet memang ingin memanfaatkan keadaan. Pekan lalu, berpidato di depan satu kelompok Yahudi Amerika, Reagan berjanji akan memasalahkan sikap Uni Soviet -- dalam pertemuannya dengan Gorbachev -- yang "mengekang kebebasan beragama kaum Yahudi". Kata yang baik bagi orang Yahudi, tapi belum tentu baik bagi hangatnya pertemuan puncak. Bagaimanapun, pertemuan puncak yang berlangsung 7-10 Desember ini harus dapat prioritas: sebuah perjanjian AS-Soviet yang bersejarah ditandatangani. Dan itu adalah kesepakatan memusnahkan peluru kendali nuklir jarak sedang yang tertunda selama hampir 10 tahun. Lebih dari sekadar menghancurkan peluru kendali nuklir jarak sedang -- dikenal sebagai intermediate-range nuclear forces (INF) di puncak juga akan dibahas lebih lanjut kemungkinan pengurangan mesin perang dan pangkal sengketa lainnya. Bahkan kehadiran Uni Soviet di Afghanistan -- terbilang pangkal sengketa yang paling panas -- masuk ke dalam agenda pembicaraan. Padahal, turunnya pasukan Soviet ke Afghanistan di tahun 1979 mengakibatkan terhambatnya perundingan pembatasan senjata nuklir jarak sedang yang baru saja ditandatangani. Di tahun itu, dalam sebuah pertemuan tak resmi di Kepulauan Guadeloupe di Laut Karibia, negara Eropa yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan AS bersepakat akan membatalkan pemasangan peluru kendali nuklir jarak sedang Pershing II di Eropa, bila Uni Soviet bersedia melucuti peluru kendali SS-20 dari jenis yang sama. Konsep ini awal rencana pembicaraan pelucutan INF. Namun, beberapa hari setelah NATO mengajukan konsep perundingan ini, Uni Soviet masuk ke Afghanistan, mendukung satu usaha kudeta oleh partai komunis di sana. Seluruh rencana pembicaraan pun batal. Sejak itu pula persenjataan Soviet berkembang di luar kontrol, mengungguli milik AS. Namun, menguatnya persenjataan Soviet -- juga hadirnya di Afghanistan -- punya risiko. Anggaran militer negara itu membengkak, perekonomin terancam. Gorbachev, pemimpin yang sedang gigih menawarkan ide "pembaruan" sistem sosialisme Soviet itu, cenderung mengutamakan perbaikan ekonomi yang berjalan pelan. Demi itu, Gorbachev diduga berniat mengurangi anggaran militernya. Selain pembatasan INF, Soviet pun mengajukan niat mengurangi kekuatan infanteri -- sejumlah di antaranya juga berkepala nuklir dari Pakta Warsawa di Eropa Timur. Bahkan mungkin siap bersepakat membatasi pengembangan senjata nuklir jarak jauh. Gorbachev tampaknya sudah mengambil langkah yang diperlukan, ke dalam. Komandan Pertahanan Pakta Warsawa kini adalah Marsekal Nikolai Ogarkov. Perwira tinggi ini disingkirkan di tahun 1984 karena berpendapat tak perlu memerangi AS dengan kekuatan nuklir. Gorbachev merehabilitasi Ogarkov, bahkan mengangkatnya ke pos sangat penting. Orgakov, menurut para analis Barat, sudah siap menghadapi perundingan pengurangan senjata di Eropa. Muluskah jalan? Ternyata tidak. Selain persenjataan konvensional seperti kekuatan infanteri itu, ketemunya Reagan -- Gorbachev juga akan memasalahkan senjata masa depan yang dikenal dengan konsep SDI (Strategic Defence Initiative). Persenjataan teknologi superpiawai yang juga dijuluki sebagai persiapan Star Wars ini -- dinamakan berdasarkan film fantasi karya George Lucas yang termasyhur -- dipusatkan sebagai pertahanan ruang angkasa. Andalannya adalah meriam sinar laser yang mampu melumpuhkan peluru kendali antarbenua. Reagan beberapa kali menyatakan akan mempertahankan sistem pertahanan ini. Gorbachev menolak, menyarankan agar AS memperhitungkan kembali sikap itu. Dalam suaranya terkandung gertak. "Uni Soviet juga sedang merintis pertahanan yang sama," ujarnya kepada televisi AS yang mewawancarainya pekan lalu. Hanya saja, "Kami belum berniat menyebarkannya." Benarkah Soviet mampu bersiap berperang di antara bintang-bintang? Betul -- kata orang dari Pentagon, Departemen Pertahanan AS. Di depan Kongres, seorang pejabat pertahanan menyatakan Soviet telah mencoba senjata laser September lalu untuk menghancurkan sebuah bangkai satelit dari basis di darat. Senjata itu juga berhasil "melumpuhkan sama sekali" semua peralatan pesawat mata-mata AS yang mencoba memonitor kejadian itu. Mungkin saja kali ini Pentagon yang menggertak Kongres, agar biaya buat Star Wars tak dipotong. SDI termasuk kategori perangkat antipeluru kendali -- disebut Anti-Ballistic Missile (ABM). Di tahun 1972, AS dan Soviet sepakat untuk tak mengembangkan teknologi pertahanan ini yang di masa itu berupa jaringan radar. Dalam perjanjian itu, ABM hanya boleh diaktifkan di sekitar basis percobaan persenjataan nuklir. Seperti orangnya di Pentagon, Reagan juga berjualan kecemasan di Kongres. Di depan lembaga perwakilan itu, Kamis pekan lalu, Reagan menuding Soviet melanggar kesepakatan 1972 tentang ABM itu. Menurut Reagan, Soviet telah menyebarkan radar ABM di tempat INF akan dimusnahkan. Dalam suasana ingin (kalau bisa) mengurangi defisit anggaran yang raksasa kini, orang di Kongres menolak penilaian Reagan. Dalam perdebatan, sejumlah anggota mengkritik Reagan terlampau cepat menyimpulkan: bukan Soviet melanggar perjanjian, tapi cuma tak menjawab ketika AS ingin melakukan inspeksi yang lebih luas peralatan ABM Soviet di Moskow. Kongres, dengan Partai Demokrat sebagai oposisi yang kian kuat, memang sedang gemar menangkis Reagan, presiden Partai Republik yang sebentar lagi turun itu. Pernyataan Reagan tentang nasib orang Yahudi Soviet akhirnya dinilai tak layak dikemukakan menghadapi pertemuan puncak. Juga komentarnya tentang ABM. Dari sini, sang salesman dari Gedung Putih, yang usianya lebih tua, memang tiba-tiba terasa kurang sukses tampil dibandingkan dengan yang dari Kremlin, yang lebih muda. Gorbachev bahkan, menurut sebuah pol di Eropa, lebih dapat citra baik ketimbang Reagan. Tapi siapa tahu: menjelang orang berucap "damai di bumi" di bawah bayangan pohon terang, dua tokoh yang punya rasa humor tinggi itu bisa bikin kejutan yang hangat. Jim Supangkat, kantor-kantor berita

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866267448



Luar Negeri 13/14

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.