Luar Negeri 5/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sebelum sang dewi mengudara

Kapal "dewi demokrasi" di sambut meriah di taiwan. hong kong menolak disinggahi. sedang,singapura tak mengizinkan kapal merapat, tapi membolehkan kapal mengisi perbekalan dan lain-lain di lepas pantai.

i
SEBUAH kapal penangkap ikan yang lalu-lalang di perairan bebas dekat pantai Cina tentu tak akan menarik perhatian pemerintah Beijing. Tapi kapal berbobot hampir 1.150 ton dan berwarna cokelat karat itu diberi nama Dewi Demokrasi. Dan pada 17 Maret lalu kapal dilepas dari Prancis, bukan untuk mencari ikan di Selat Taiwan, tapi untuk mengirimkan siaran radio ke Daratan Cina. Juga bukan sembarang siaran, melainkan siaran khusus berita-berita hangat dan -- ini tujuan utamanya -- pemutaran kembali rekaman wawancara dengan para mahasiswa Cina aktivis gerakan demokrasi. Agar tak mencapekkan pendengar, mungkin, disiarkan juga musik. Bisa dipahami bila sejak awal, Pemerintah Cina menyatakan keberatannya pada negara -negara yang akan disinggahi Dewi Demokrasi dalam pelayarannya, sebelum mencapai perairan bebas di Selat Taiwan. Maka, nasib Dewi Demokrasi -- nama ini diturunkan dari nama patung yang dibikin di Lapangan Tiananmen sewaktu terjadi demonstrasi pro-demokrasi di Beijing, Juni lalu -- tak semulus seperti yang diharapkan. Pemerintah Singapura, yang semula menyatakan siap menerima kapal itu, akhirnya mengambil jalan kompromi. Dewi Demokrasi boleh datang, tapi kapal milik Federasi untuk Demokrasi di Cina (FDC) itu tak diizinkan merapat. Pengisian perbekalan dan lain-lain dilakukan di lepas pantai. Tak sulit ditebak, Pemerintah Singapura, yang volume perdagangannya dengan Cina sangat besar, ditekan Beijing untuk tidak memberi fasilitas kepada kapal yang diawaki 10 warga negara Prancis dan seorang dari Taiwan ini. Hong Kong, sebagai pelabuhan tujuan berikutnya, sudah tegas-tegas menolak kapal itu. Pemerintah Hong Kong rupanya tidak ingin dijadikan ajang perang politik negara lain. "Mana mungkin kami menginjak-injak aturan main kami sendiri," ujar Gubernur Hong Kong, Sir David Wilson, beberapa jam setelah kapal Dewi Demokrasi meninggalkan Singapura, Kamis pekan lalu. Tiga hari berlayar dari Singapura, Dewi Demokrasi masuk pelabuhan Keelung di Taiwan. Di sini sambutan demikian meriah. Tak cuma sejumlah wartawan berebut naik ke kapal melainkan tampak juga sambutan murid-murid sekolah dengan nyanyian dan drumband-nya. Mahasiswa dan pemuda Taiwan mengelu-elukan kapal yang merapat di pelabuhan Keelung itu dengan pidato-pidato. Sementara itu, penguasa Taiwan, yang nampaknya grogi dengan ancaman dari Daratan, tak berani menyambutnya dengan resmi meski tetap memenuhi janjinya memberikan fasilitas. Desas-desus tersebar bahwa sebuah kapal selam RRC kelihatan gentayangan di luar Perairan Keelung. Baru di Taiwan diketahui bahwa Dewi Demokrosi yang disponsori antara lain oleh majalah Prancis Actuel tak membawa seorang aktivis demokrasi Cina yang mengungsi di Prancis. Konon, sebagian sponsor keberatan bila mereka ikut, khawatir memberi peluang buat Pemerintah RRC melakukan tindakan yang bisa sah. Toh, sekarang pun suara Beijing sudah mengancam. Siaran tanpa sensor yang ditujukan ke daratan, itu sama saja aksi subversi. Direncanakan Dewi Demokrasi sudah berada di tempat tujuan pada 4 Juni, dan mulai mengudarakan pesan-pesan demokrasi ke Daratan Cina. Kini dunia menunggu apa yang akan dilakukan RRC terhadap para simpatisan gerakan pro-demokrasi yang memperingati Peristiwa Tiananmen 4 Juni dengan cara kreatif ini. Rudy Novrianto dan ADN

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836364121



Luar Negeri 5/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.