Luar Negeri 6/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Setahun setelah pembantaian

211 aktivis demonstran yang ditahan, dituduh menjadi pentolan demonstrasi mahasiswa di tiananmen juni 1989, dibebaskan. ada kaitan langsung dengan peninjauan kambali keringanan-keringanan yang diberikan as.

i
SUATU jurus putar balik dilakukan pemerintah Beijing. Kamis pekan lalu 211 orang yang ditahan, yang dituduh menjadi pentolan demonstrasi mahasiswa di Tiananmen Juni tahun lalu, dibebaskan. Juga diumumkan nama 431 orang lainnya yang masih terpaksa ditahan, karena proses pemeriksaannya belum selesai. Langkah itu cukup menggembirakan, mengingat untuk pertama kalinya Pemerintah Cina mengumumkan jumlah yang pasti, paling tidak menurut versi mereka. Sebab, menurut banyak pihak, ribuan pembangkang yang langsung dikirim ke kamp-kamp kerja paksa tanpa proses pengadilan. Di antara mereka yang dilepaskan adalah beberapa tokoh cukup dikenal. Misalnya saja Dai Qing, penulis wanita terkemuka berusia 40-an tahun, yang sangat berani. Ketika itu, di Tiananmen, ia berpidato dan terang-terangan menghina para pemimpin Cina dan memuji mahasiswa. Dai Qing-lah yang cepat mencium bahaya, dan menganjurkan agar mahasiswa cepat angkat kaki. Tersebut juga nama Cao Siyuan, 44 tahun, pengacara yang mengampanyekan penggunaan jalur konstitusional untuk mencabut UU Darurat dan menggeser Perdana Menteri Li Peng. "Kembali ke rumah serasa mimpi," kata Dai Qing pada wartawan kantor berita AP. Tapi Dai menolak berbicara lebih lanjut, terutama tentang kehidupan dalam sekapan. Sementara itu, Cao sama sekali menolak diwawancarai. Yang lain, di antaranya Li Honglin, bekas direktur Akademi Ilmu-Ilmu Sosial Provinsi Fujian Zhou Duo, karyawan perusahaan komputer yang ikut mogok makan di Tiananmen Yang Baikui, ahli ilmu politik pada Akademi Ilmu Sosial lalu Li Nanyou, penyunting pada Badan Penerbitan Beijing. Wang Dan, mahasiswa sejarah Universitas Beijing dan aktivis paling terkemuka dalam gerakan demokrasi, tak terdapat di antara 211 nama itu. Pembebasan ini oleh pemerintah Beijing tentu saja tak dimaksudkan sebagai peringatan setahun pembantaian Tiananmem. Tapi, kata pengamat Barat, ada kaitannya langsung dengan peninjauan kembali keringanan-keringanan yang diberikan Washington pada sejumlah negara pengekspor, yang kebetulan akan dilakukan pada 3 Juni mendatang. RRC, yang selama ini memperoleh keringanan antara lain bea masuk rendah, termasuk yang ditinjau kembali. Mudah dikaji, langkah Beijing sekarang merupakan upaya membuat Bush berpikir panjang sebelum mencopot keringanan perdagangan dengan Cina. Selama ini hubungan dagang AS-Cina memang lebih menguntungkan Cina. Tahun silam, misalnya, volume perdagangan kedua negara senilai US$ 18 milyar, US$ 13 milyar di antaranya adalah ekspor Cina ke Amerika. Dugaan para pengamat Barat itu tampaknya memang benar. Menurut sebuah sumber yang layak dipercaya, Pemerintah Cina telah mempersiapkan sebuah dokumen rahasia yang ditulis setelah pertemuan tingkat tinggi Beijing-Washington. Dokumen yang hanya beredar di kalangan para pemimpin tertinggi Cina itu antara lain mengatakan, pembebasan para tahanan politik merupakan salah satu dari sejumlah kecil "kartu" yang tersedia untuk mempengaruhi sikap AS. Sumber keterangan yang dapat dipercaya ini adalah seorang diplomat Cina bernama Xu Lin, yang tahun lalu lari ke Barat. Sebelum lari, Xu adalah seorang diplomat yang ditempatkan di Kedutaan Besar Cina di Washington. Menurut Xu, di antara hal-hal yang ditawarkan kepada AS, selain pembebasan tahanan politik, yang lainnya adalah pertukaran mahasiswa lewat program Fulbright dan kemungkinan Cina menerima Peace Corps -- program sukarela pemuda dan mahasiswa Amerika. Dua hal yang belakangan disetujui, April lalu. Yang menarik, dokumen itu tak menyebut-nyebut hari depan dua pembangkang Cina terkemuka, Fang Lizhi dan istrinya, Li Xuxian, yang sejak penindasan terhadap oposisi telah berlindung di Kedutaan Besar AS di Beijing. Padahal, salah satu tekanan Bush kepada Beijing adalah memperbolehkan suami-istri ilmuwan itu meninggalkan Cina untuk berdiam di Amerika atau di negara Dunia Ketiga. Tampaknya, politik luar negeri Bush, yang mengaitkan bantuan dengan hak-hak asasi, ada hasilnya. Itulah kebijaksanaan yang sebenarnya dimulai pada masa pemerintahan Jimmy Carter. Yusril Djalinus (AS) dan ADN

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832988611



Luar Negeri 6/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.