Luar Negeri 7/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Meramal gantinya gorbachev

Presiden mikhail gorbachev mendapat tantangan yang memojokkan dari golongan konservatif, militer,kaum liberal yang menghendaki perubahan ke arah demokra si yang lebih drastis. terbentuk dewan baltik.

i
REPUBLIK Baltik bersatu, dan Gorbachev menghadapi masalah serius. Sabtu pekan lalu di ibu kota Estonia, Tallinn, Presiden Vytautas Landsbergis dari Lithuania, Presiden Arnold Ruut dari Estonia, dan Presiden Anatoly Gorbunovs dari Latvia, meneken terbentuknya kembali dewan yang dulu, pada 1934, bernama Perjanjian untuk Persatuan dan Kerja Sama. Waktu dewan dibentuk pertama kali, ketiga republik Baltik masih negara-negara merdeka (1918-1940). Kini, Dewan merupakan persatuan dari negeri yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan (setidaknya Lithuania dan Latvia), lepas dari Uni Soviet. Dan masih saja seperti dulu, Dewan berniat bekerja sama. Hanya saja, sekarang ini kerja sama itu punya program utama: menangkal apa saja tindakan Moskow yang merugikan kedaulatan anggota Dewan. Sebelum membuka pertemuan yang berlangsung 4,5 jam itu, Presiden Gorbunovs mengatakan, "Kita harus bekerja sepenuhnya untuk mencapai tujuan kita, yang tak lain dari kedaulatan ketiga negara kita." Tak lama setelah Dewan terbentuk, kawat pun dikirim ke Moskow. Isinya, mengajak Gorbachev segera merundingkan masalah kedaulatan. "Kami ajak ia menentukan tanggal perundingan, lebih cepat lebih baik," kata Gorbunovs pula. Dampak terbentuknya Dewan segera terlihat. Bila di awal-awai bulan ini suara kompromi dari Lithuania mulai terdengar, kini tak ada tanda-tanda bahwa negara Baltik pertama yang mengumumkan pembebasan dirinya dari lingkungan Soviet itu akan menyerah. Sementara itu, dampak lain terbentuknya Dewan adalah bertambahnya faktor yang memojokkan Presiden Gorbachev. Dari dalam sendiri pemimpin yang mengubah Eropa Timur ini pun ditekan. Yakni oleh pihak militer, golongan konservatif yang masih bercokol di dalam partai, dan kaum liberal yang menghendaki perubahan ke arah demokrasi yang lebih drastis. Pada 1 Mei lalu, misalnya, dalam festival kesenian dan parade yang berkenaan dengan Hari Buruh, terjadilah insiden serius. Kelompok liberal dan demokrat yang tak sabar dengan kepemimpinan Gorby, yang dianggap lamban melaksanakan demokratisasi dan reformasi, melontarkan yel-yel: "Gorbachev Turun" dan "Ganyang Gorbachev". Akankah sesuatu yang kabarnya dicemaskan oleh Barat terjadi? Yakni Gorbachev terdongkel? Mungkin yang menarik bukan bisakah Gorbachev digantikan, melainkan siapa bakal naik. Majalah Inggris The Economist mencoba meramalkan siapa pengganti Gorby. Perkiraan pertama, Gorbachev terpaksa mengundurkan diri, dan digantikan oleh seseorang yang punya gagasan sama dengannya. Dalam skenario ini yang punya kans besar untuk menggantikannya adalah Alexander Yakovlev, otak di belakang perestroika. Nominasi kedua jatuh pada Menteri Luar Negeri Eduard Shevardnadze, yang selalu mendukung Gorbachev dalam Politbiro. Tapi, lantaran ia datang dari golongan minoritas, yakni dari Georgia, kesempatan itu nampaknya kecil. Ada lagi Perdana Menteri Nikolai Ryzhkov yang cukup populer sebagai tokoh pembaru. Tapi akhir-akhir ini ia makin konservatif dan ingin menghentikan program reformasi. Kemungkinan kedua, terjadi kudeta militer. Konon, tentara kurang puas dengan program dan kepemimpinan Gorbachev. Tapi, ada yang mengatakan kemungkinan ini kecil sekali, karena sejak Tentara Merah dibentuk oleh Trotsky, tetap berada di bawah penguasaan partai dan pemerintah. Selain itu, militer sendiri pada dasarnya tidak monolit. Para perwira muda sangat kritis terhadap perwira-perwira senior yang tak mempercayai perestroika. Bila memang ini terjadi, tokoh yang bakal naik tampaknya bekas komandan pasukan Soviet di Afghanistan, Jenderal Boris Gromov. Kemungkinan ketiga, pecah pemberontakan buruh yang didukung golongan konservatif. Mengingat reformasi sudah berjalan demikian jauh, suatu pemberontakan buruh hanya akan menimbulkan kekacauan. Siapa pun pengganti Gorby, dia tak mungkin menyetop gelombang pasang yang telah melanda Uni Soviet dan seluruh Eropa Timur. Kemungkinan terakhir rakyat tak puas dengan langkah demokratisasi, pembaruan, dan reformasi yang kini berjalan. Sebagai alternatif, dari PKUS akan muncul partai-partai lain yang mendapat dukungan populer. Pemilihan umum yang bebas akan berlangsung. Kalau kemungkinan ini benar terjadi, kans besar bagi Boris Yeltsin, tokoh liberal yang sebentar menguntungkan Gorbachev, sebentar mengancamnya. Dialah yang akan mampu mengalahkan Gorbachev dalam pemilihan bebas. A. Dahana

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836230317



Luar Negeri 7/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.