Luar Negeri 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Seorang Nenek Bernama Nancy

Berasal dari keluarga politisi penentang kebijakan Bush. Meniti karier hingga menjadi perempuan pertama yang menempati posisi ketua parlemen Amerika Serikat.

i

Mereka tersengat. Seorang nenek 67 tahun telah menyelinap dari pintu belakang, lalu terbang menemui sosok yang selama ini mereka kenal sebagai musuh. Ya, semua telah menyaksikan di televisi bahwa Nancy Pelosi bertemu dan bersalaman dengan Presiden Suriah Bashir al-Assad di Damaskus, awal bulan ini.

Tak ada yang berubah tentang Su-riah: negara yang dicap pendukung teroris, bagian dari kelompok yang dalam istilah Bush sebagai Poros Setan.

Orang-orang konservatif di Gedung Putih pun kehabisan kata-kata selain: itulah selingkuh, khianat. Ketua parlemen Amerika Serikat itu dinilai layak diseret ke pengadilan. Ia telah melanggar Logan Act, undang-undang yang melarang warga negara Amerika melakukan negosiasi dengan negara lain. Tanpa permisi, Pelosi telah mengambil alih wewenang pemerintah. Pelanggaran atas undang-undang ini diancam sanksi tiga tahun penjara.


Itulah Nancy Pelosi. Sosok yang tahan berjam-jam berbicara tentang enam orang cucunya di Texas dan Arizona, juga pembicara yang piawai membawakan pandangan-pandangan progresifnya di sidang-sidang parlemen. Nancy Patricia D’Alesandro Pelosi lahir pada 26 Maret 1940 di Baltimore, Maryland, Amerika, tapi tak begitu jelas apakah ia lebih mendekati Amerika atau Italia. Yang terang, ia pemeluk Katolik dan memiliki banyak anak (baca: lima) untuk ukuran orang Amerika.

161871407731

Nancy lahir dari keluarga imigran Italia yang sadar politik. Ia bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya, Thomas D’Alesandro Jr., duduk sebagai anggota Kongres sejak 1937 sampai 1947. Setelah itu, ia dipercaya sebagai Wali Kota Baltimore selama tiga periode berturut-turut. Ibunya, Anunciata, seorang feminis yang berjuang untuk menentang diskriminasi perempuan di negara itu. Nancy memutuskan terjun ke dunia itu setelah anak-anaknya berhasil menyelesaikan sekolah. Alesandro, sang ayah, adalah mentor pertama Pelosi dalam politik.

Pernikahannya dengan Paul Francis Pelosi Sr., pengusaha sukses, pada 1962 memperkuat basis finansial untuk karier politik Pelosi. Lengkap sudah persyaratan yang dibutuhkan untuk mantap berkarier di bidang politik. Karier politiknya dimulai di Partai Demokrat California sebagai ketua partai. Kepiawaian dalam berpolitik membawanya melaju cepat. Kemampuan Sala Burton, anggota Kongres dari Partai Demokrat San Francisco, membaca masa depan Nancy menjadi titik terpenting dalam melanjutkan karier politiknya.

Hari itu tanggal 29 Januari 1987. Sala, 61 tahun, tak lagi mampu mengikuti rapat-rapat di Kongres. Kanker usus besar yang dideritanya tidak menyisakan ruang buatnya untuk beraktivitas, sehingga ia terpaksa membatalkan keikutsertaan dalam pemilihan kembali anggota Kongres. Namun, Sala tidak mau meninggalkan kursinya kosong. Diam-diam ia sudah menyiapkan penggantinya untuk mengisi kursi ”Burton” di Kongres. Saat Sala memintanya mengisi kursi ”Burton” di Kongres, Nancy menjabat Ketua Partai Demokrat California. Tawaran itu disambut Nancy. ”Sala melihat sesuatu yang sangat spesial dari ibu lima anak itu,” kata John Burton, mengenang almarhum Sala, kakak iparnya.

Pilihan Sala tepat. Sejak itu Partai Demokrat terus berkibar di tangan Nancy. Sala jadi mentor keduanya. Ia pun piawai bernegosiasi. Dan, hasilnya, ia melahirkan sejumlah peraturan, di antaranya program perumahan bagi penderita AIDS dan akses asuransi kesehatan bagi penyandang cacat.

Ia juga menjadi anggota tetap parlemen untuk Komisi Intelijen selama 10 tahun. Setelah peristiwa 11 September, Nancy mendesak revisi kebijakan intelijen dan badan keamanan nasional. Karya monumental Nancy adalah lahirnya amendemen yang mewajibkan lembaga internasional membuka akses kepada publik untuk mengetahui dampak pembangunan terhadap lingkungan dalam setiap program pembangunannya. ”Amendemen Pelosi” menjadi alat yang signifikan bagi lembaga-lembaga internasional untuk melestarikan lingkungan dalam proyek-proyek pembangunan mereka di berbagai negara.

Karier politik Nancy terus melejit hingga akhirnya berhasil menembus gedung parlemen pada 4 Januari 2007. Ini ironi di sebuah negara pengawal demokrasi dan hak asasi manusia, sebab posisi politisi perempuan ternyata masih kelas dua di negara tersebut. ”Ini momen sejarah bagi perempuan Amerika, momen yang telah kita nantikan lebih dari 200 tahun,” ujar Nancy.

Kepemimpinan Nancy memberi warna baru di parlemen. Ia punya ”indra” tajam dalam melihat peluang. Ia tahu persis kebutuhan konstituennya. Ia pintar merangkul suara-suara dari Partai Republik yang kecewa terhadap kebijakan Bush.

Ia menggarisbawahi politik antikekerasan dalam setiap bernegosiasi dengan ”musuh”. Sejak awal berkarier sebagai politisi, Nancy teguh berprinsip antikekerasan. Ia mengkritik pemerintah Cina dalam peristiwa berdarah Tiananmen. Begitu juga ia mendukung perjuangan damai pemimpin Tibet, Dalai Lama. Ia pengagum Dr Martin Luther King, penentang apartheid.

Di bidang ekonomi, secara terbuka Nancy menentang garis kebijakan Bush. Menurut dia, Bush telah sesat dalam menggunakan anggaran. Ia menuntut agar parlemen tak lagi mengeluarkan dukungan penggunaan anggaran untuk melawan Irak, sebab anggaran tergerus drastis. Sedangkan investor pun satu per satu ngacir.

Alhasil, kualitas kesejahteraan rak-yat Amerika menurun tajam di masa pemerintahan Bush. Penyebabnya, antara lain, pemotongan anggaran pendidikan tingkat menengah hingga US$ 12 triliun. Harga bahan bakar minyak meningkat dua kali lipat dalam tempo lima tahun, yakni mencapai US$ 3 per galon. Enam juta rakyat Amerika saat ini tak terlindungi asuransi kesehatan karena berkurangnya anggaran untuk itu mencapai 70 persen.

Baginya ambisi Bush sudah tak rasional lagi. Apalagi partai Republik tak mampu menunjukkan formula untuk penyelesaian Irak. Ini memperparah perekonomian Amerika Serikat yang terancam inflasi.

Nancy telah menunjukkan konsistensinya. Ia tunjukkan sikapnya itu secara terbuka. Ia tahu konsekuensinya. Nancy juga percaya membangun hubungan baik kembali dengan Suriah, akan membuka peluang untuk membangun perekonomian Amerika kembali.

Setidaknya, ini langkah bagus bagi Nancy untuk menuai suara terbanyak dalam pemilihan umum 2008. Dan, tampaknya peluang itu semakin terbuka lebar bagi dirinya. ”Si se puede, yes we can!” ujar Nancy mengutip ungkapan Cesar Chavez dalam peringatan kelahiran sang pengacara terbesar Amerika, 31 Maret lalu. Pelosi percaya diri. Sudah 27 tahun ia bergelut dalam dunia itu, dunia politik.

Maria Hasugian (BBC, Washington Post, International Herald Tribune)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161871407731



Luar Negeri 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.