Luar Negeri 1/5

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Israel

Akhir Cerita Barak?

Nasib Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, di dalam negeri ternyata tidak secemerlang prestasinya di dunia internasional. Setelah dia mendapat "applause" dari dunia internasional karena pasukan Israel mundur lebih cepat dari batas waktu dari Lebanon Selatan, ternyata itu tak membuatnya populer di dalam negeri. Padahal, Barak juga sudah menunjukkan sikap kompromistis dalam parlemen dengan menyatukan partai agama garis keras dengan yang sekuler. Tapi, toh itu tak mampu mendongkrak popularitas Barak. Malahan, Knesset (parlemen Israel) menyetujui undang-undang yang membubarkan parlemen.

Semua itu terjadi karena posisi Barak di dalam negeri ternyata sangat lemah. Menurut Ross Dunn, seorang koresponden spesialis Israel, sejak Barak naik sebagai perdana menteri, baik teman maupun lawan politiknya semakin tidak menyukainya. Dunn menyebutkan, Barak telah banyak dikhianati oleh orang-orang yang selama ini diperhitungkan sebagai pendukung posisi politiknya. Buktinya, Shas—partai agama garis keras yang beraliansi dengan Barak—menuntut diadakan pemilihan umum dini. "Bila Barak mundur, masa transisi akan berat," kata Dunn.

Apa arti semua itu? Barak, yang baru setahun menjabat perdana menteri, bisa mundur lebih cepat sebelum masa jabatannya berakhir dan bisa mengakibatkan ketidakstabilan politik Israel. Ini juga berarti perundingan damai Israel dengan negara-negara Timur Tengah terancam kacau. Padahal, Barak sudah berhasil mengusahakan perundingan dengan Palestina untuk kembali ke jalur yang benar.

Lebanon

Kata Sepakat Lebanon dan PBB

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pemerintah Lebanon akhirnya mencapai kata sepakat untuk menentukan perbatasan Lebanon Selatan dengan Israel, Sabtu lalu. Hal ini merupakan berita baik kedua setelah mundurnya tentara Israel dari perbatasan dengan Lebanon, tiga pekan silam. Penarikan mundur dari daerah yang sudah diduduki Israel selama 22 tahun itu lebih cepat dari batas waktu yang disepakati oleh Israel—yaitu pada Agustus 2000—dalam perjanjian perdamaian dengan negara-negara Timur Tengah.

Maka, kini giliran pasukan Suriah yang masih tetap bercokol di Lebanon yang mendapat sorotan tajam dari dunia internasional. Menurut kesepakatan dengan PBB, bila pasukan Israel keluar dari Libanon, "pasukan asing" lainnya juga harus hengkang.

Rupanya, pemerintah Suriah masih enggan melepas pengaruhnya. Menteri Luar Negeri Suriah, Farouq al-Sharaa, menyatakan bahwa kehadiran pasukan Suriah tetap dibutuhkan di Lebanon. Dan itu mendapat kritik keras dari berbagai media massa di Lebanon.

Kosovo

Berakhirnya Mandat Pasukan PBB di Kosovo

Jumat pekan silam, mandat pasukan pemelihara perdamaian (peacekeeping force) Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kosovo telah berakhir. Ini berarti Dewan Keamanan PBB akan segera mengevaluasi tugas 45 ribu orang anggota pasukan perdamaian itu. Selama ini, tugas pasukan perdamaian itu adalah membangun kembali Kosovo dan memelihara perdamaian di salah satu provinsi bekas Yugoslavia itu. Evaluasi tersebut akan menentukan berlanjut-tidaknya mandat misi pasukan perdamaian termahal tersebut.

Akan berlanjutkah mandat tersebut? Sulit untuk menjawabnya karena keberadaan pasukan pemelihara keamanan di Kosovo itu lebih ditentukan oleh lobi di Dewan Keamanan. Yang pasti, Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO berkepentingan untuk tetap bercokol di Kosovo karena Semenanjung Balkan—lokasi negara bekas Yugoslavia—merupakan jalur strategis menuju Rusia dan RRC. Menurut sebuah sumber dari pemerintah Yugoslavia, sikap Yugoslavia yang tidak pernah mau tunduk kepada AS dan negara Barat sejak zaman Bros Tito hingga Slobodan Milosevic membuat AS khawatir. Agaknya semenanjung Balkan memang dianggap penting secara geopolitis.

Karena pertimbangan "keamanan posisi AS dan negara aliansinya" itulah, sikap pasukan penjaga perdamaian ini menjadi tidak netral. Keberadaan milisi Albania, yang juga melakukan praktek-praktek pembunuhan terhadap etnis Serbia di Kosovo, cenderung didiamkan. "Padahal, sudah seharusnya pasukan PBB itu netral," kata sumber itu.

Sementara itu, masih ada masalah lainnya di Yugoslavia yang menunggu penyelesaian adil, yaitu penuntasan tuduhan penjahat perang, baik terhadap Milosevic maupun pasukan NATO yang mengebom Yugoslavia selama 71 hari setahun silam

BB (dari berbagai sumber)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865717853



Luar Negeri 1/5

Sebelumnya Selanjutnya