Lingkungan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menjaga lingkungan daur ulang

Sesudah sukses di Padang, program pengembangan daur ulang limbah akan dimulai 5 juni 1992 di Jakarta. program serupa diharapkan dapat menggalakkan usaha daur ulang di seluruh indonesia.

i
SEBUAH selingan akan menambah jadwal tayangan TVRI pekanpekan mendatang. Acaranya tak sampai semenit, tepatnya hanya 45 detik, itu pun terselip di antara satu acara dan lainnya. Isinya bukan siaran dangdut, juga bukan pesan KB Lestari. Kali ini TVRI justru diminta menayangkan informasi tentang sampah. Mengapa? Di Jakarta, tiap tahun produk sampah sudah mencapai 1,8 juta ton, dan sebagian berupa plastik yang 60% bisa didaur ulang. Potensi itulah intinya. Acara ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Daur Ulang Limbah Indonesia (Peduli) '92, yang sudah dicanangkan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim, Sabtu dua pekan lalu. Serentak dengan itu, TVRI akan mempromosikan Peduli '92 lewat iklan layanan masyarakat, yang menampilkan cuplikan ucapan tokoh-tokoh lingkungan. Agaknya, karena sukses Peduli '92 sangat bergantung pada penyebarluasan gagasan daur ulang sampah, adalah wajar bila Direktur Televisi, Ishadi, dan Ken Sudarto dari Matari Public Relations duduk dalam panitia Peduli '92. "Kegiatan ini perlu dikampanyekan besar-besaran," kata Erna Witoelar, pencetus program tersebut. Alasannya, kesadaran lingkungan masyarakat telah tinggi, tapi belum ada tindakan kongkret untuk pemecahan masalah lingkungan. Dengan Peduli '92, Erna, yang sekarang menjabat ketua organisasi Lembaga Konsumen Internasional dan sedang mengembangkan green consumerism, mengharapkan agar masyarakat bertanggung jawab untuk memperbaiki lingkungan di rumah masing-masing. Aksi dalam skala kecil ini baru akan berarti bila dilakukan bersama-sama. Erna menegaskan bahwa kesadaran sosial ini harus digugah lewat kampanye masal di layar kaca, yang kelak berlanjut ke radio dan media cetak. Peduli '92 berusaha menggalakkan daur ulang di masyarakat sehingga manusia tidak sembarangan menguras sumber daya alam. Daur ulang sebenarnya sudah lama ada di Indonesia, seperti yang termanifestasi pada jumlah pemulung di sini. Mereka menjual sampah hasil perolehannya kepada pabrik untuk diolah menjadi aneka alat rumah tangga. Kini, rantai daur ulang itu diperpanjang. Ibu-ibu rumah tangga diharapkan berperan serta di dalamnya. Mereka diminta memisahkan sampah basah dan sampah kering dalam dua tempat yang berbeda, agar memudahkan kerja pemulung. Pemisahan sampah ini belum juga terlaksana walau sudah dicanangkan beberapa waktu lalu. Kini ditetapkan bahwa aksi itu akan dicanangkan pada Hari Lingkungan 5 Juni depan. Kini, pelbagai persiapan sedang disusun panitia. Mereka, misalnya, membuat kantong plastik hitam bertuliskan "Peduli '92". Kantong dengan tulisan putih khusus untuk tempat sampah kering yang bertulisan kuning untuk sampah basah. Mereka juga giat mencari sponsor yang akan membiayai program. Sampai saat ini, baru Aqua dan Bank Internasional Indonesia yang bersedia menjadi sponsor. Lalu, bersama TVRI, Matari, Dana Mitra Lingkungan, dan Yayasan Dian Pertiwi Indonesia duduk dalam panitia. Badan yang disebut terakhir ini, menurut direktur eksekutifnya, Tukino Dana Direksa, mempunyai lebih dari 30.000 pemulung berarti 60% dari seluruh pemulung di Jakarta. Peduli '92 akan dilaksanakan selama satu tahun dan membutuhkan biaya sekitar Rp 1,6 milyar. Uang sebanyak itu diperlukan untuk mencetak kantong plastik, membuat studi kelayakan, serta memberi pinjaman kepada pemulung dan pabrik, agar mereka giat melakukan daur ulang. Atas saran Yayasan Dian Pertiwi, kegiatan ini akan dimulai dengan tiga daerah percobaan di Jakarta, yakni Pisangan Baru, Kelurahan Sunter, dan Kelurahan Grogol Selatan. Ibu-ibu rumah tangga di sana dapat membeli kantong plastik besar melalui PKK dan kelurahan seharga Rp 100 per lembar. "Daerah itu kami pilih dengan pertimbangan ibu-ibu rumah tangga di sana tidak keberatan mengeluarkan uang untuk membeli kantong plastik. Kalau di daerah miskin, kecil kemungkinan program itu bisa berhasil karena mereka tak sanggup membeli kantong," ujar Alex Yusutardi, koordinator Program Peduli '92. Di tiga lokasi percobaan itu, pemulung akan menggantikan Dinas Kebersihan untuk secara rutin mengangkut sampah. Ibu-ibu rumah tangga di daerah lain bisa saja bergabung. Caranya, telepon saja unitunit pengumpul sampah di wilayah tempat tinggal masing-masing, yang nomor teleponnya akan dicantumkan dalam iklan layanan masyarakat di TVRI. Nanti, para pemulung dari unit tersebut akan mengambil sampah kering dan basah pada hari yang sudah disepakati. Lalu, panitia Peduli '92 sudah menyiapkan pelbagai langkah untuk menampungnya. Untuk sampah basah, mereka sudah mengontak sebuah pusat riset antardisiplin dan konsultasi kebijaksanaan bernama The Center for Policy and Implementation Studies, yang didirikan bekas Ketua Bappenas Prof. Widjojo Nitisastro dan bekas Menko Ekuin Prof. Ali Wardhana. Lembaga yang bekerja sama dengan pemda untuk membuat kompos ini bersedia menampungnya. PD Pasar Jaya, yang punya proyek serupa, telah pula menawarkan diri. Dari sampah kering, target yang dikejar program ini adalah sampah plastik dan kertas. "Kita lihat dulu apakah pengumpulan dua jenis barang itu jalan atau tidak, baru kita pikir jenis yang lain, misalnya beling," kata Erna. Daur ulang kedua jenis sampah tersebut selama ini sudah berjalan. Untuk sampah kertas mulai dari pemulung-pelapak-pabrik, dan untuk plastik dari pemulung pelapak penggiling pembuat bijih plastik pabrik plastik. Peduli '92 berusaha mempercepat agar daur ulang sampah berlangsung lebih lancar. Selama ini daur selalu tersendat karena pabrik baru membayar pelapak empat bulan setelah penyerahan barang. Padahal, pelapak harus selalu membayar tunai kepada pemulung. Tersendatnya aliran uang ini dicoba dijembatani oleh program tersebut. Dana dari para sponsor tersebut akan dijadikan pinjaman lunak berbunga rendah. Pihak mana yang akan menerima (pabrik atau pelapak) dan berapa besarnya kini sedang diteliti dalam studi kelayakan. Program ini diharap juga bisa memperlancar daur ulang di tempat lain. Uang hasil pembelian kantong, yang dikoordinasikan oleh ibu-ibu PKK, misalnya, bisa diputar untuk pengadaan kantong plastik terus-menerus, sekaligus menghidupi aktivitas mereka. Setahun setelah program berjalan, panitia akan membuat evaluasi. Bila diperlukan, Peduli '92 bisa saja diperpanjang. Sangat diharapkan bahwa aksi seperti ini bisa berjalan dengan sendirinya. Apalagi program daur ulang ini bukanlah yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Kota Padang di Sumatera Barat sudah menjalankan daur ulang sejak tujuh tahun silam. Bahkan program itulah yang mengantarkan Padang ke posisi pemenang penghargaan kebersihan Adipura. Akankah tahun depan Jakarta memenangkan Adipura juga? Baiklah, ditunggu saja. Yang pasti, panitia Peduli '92 mengharapkan agar program yang sama akan bergema dan memasyarakat sampai ke kota-kota lain di seluruh Indonesia. Diah Purnomowati

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052111084



Lingkungan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.