Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hiu Berjalan Menunggu Perlindungan

Habitat spesies ikan hiu endemis Halmahera di Ternate terancam akibat pembangunan pelabuhan baru. Butuh perlindungan penuh.

i

ADIT Agoes hanya butuh 15 menit menyiapkan dan memasang perlengkapan selamnya di pinggir Pantai Falajawa, Ternate, Maluku Utara, Sabtu dua pekan lalu. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 20.00 WIT. Saatnya ia dan kelompoknya, Nasijaha Dive Center, menyelam untuk memantau aktivitas hiu berjalan di kawasan pantai Taman Laut Swering Falajawa Ternate. "Ini aktivitas rutin yang kami lakukan setiap akhir pekan. Untuk bisa melihat spesies ini, kita harus menyelam di kedalaman lima meter," kata Adit.

Hiu berjalan Halmahera (Hemiscyllum halmahera) merupakan spesies hiu endemis dari perairan Halmahera. Ini adalah kelompok hiu yang secara taksonomi sering dikenal dengan sebutan hiu bambu (bamboo shark). Disebut hiu berjalan karena ikan ini bergerak di dasar laut dengan memakai sirip pektoralnya sehingga terlihat seperti berjalan.

Lima dari sembilan spesies hiu berjalan yang ada di dunia hidup di perairan laut Indonesia. Empat spesies endemis lainnya adalah hiu berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), hiu berjalan Teluk Cenderawasih (Hemiscyllium galei), hiu berjalan Teluk Triton Kaimana (Hemiscyllium henryi), dan hiu berjalan Aru (Hemiscyllium trispeculare).


Peneliti hiu dari Conservation International Indonesia (CII), Abraham Sianipar, mengatakan penemuan hiu berjalan Halmahera ini bermula dari survei marine rapid assessment program yang dilakukan Departemen Kelautan dan Perikanan Departemen Lingkungan Hidup Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan CI pada 2007. Survei itu bertujuan mendapatkan penilaian cepat terhadap ekosistem terumbu karang dan ikan karang yang menjadi basis dalam menetapkan kawasan konservasi.

161827900063

"Secara tak sengaja, ditemukan spesies ikan hiu berjalan ini di perairan pesisir barat Halmahera hingga Teluk Weda," ujar Sabam-panggilan akrab Abraham. Penemuan ini baru dideskripsikan pada 2013 oleh penemunya, Gerald R. Allen dari Western Australian Museum, Mark V. Erdmann dari CI Marine Program, dan Christine L. Dudgeon dari University of Queensland, Australia, di Aqua-Journal of Ichthyology.

Menurut Sabam, para peneliti hiu itu sebelumnya juga telah mendeskripsikan tiga spesies hiu berjalan yang berbeda di Raja Ampat, Teluk Cenderawasih, dan Teluk Triton Kaimana. Ia mengatakan penemuan hiu berjalan di Halmahera ini cukup menarik karena peneliti menduga hiu berjalan hanya ada di Papua dan Australia. "Sebenarnya masuk akal karena sejarah geologisnya Halmahera merupakan ujung tenggara dari Papua sebelum pergerakan lempeng tektonik pada 14 juta tahun silam," ucap Sabam.

Antarspesies hiu berjalan itu dapat dibedakan dari pola corak dan warnanya. Ciri-ciri hiu berjalan Halmahera, seperti dikutip dari Review of the Bamboo Shark Genus Hemiscyllium (Orectolobiformes: Hemiscyllidae), adalah warna dasar tubuhnya cokelat muda dengan totol-totol cokelat tua dan putih yang tersebar berselingan.

Hemiscyllium halmahera,seperti juga spesies hiu berjalan lain, merupakan hewan nokturnal atau aktif pada malam hari. Makanannya adalah udang-udang dan kerang-kerang yang ada di karang sertaikan-ikan kecil. Hemiscyllium halmahera jantan memiliki panjang 681 milimeter, sedangkan betina 656 milimeter.

Adit Agoes mengatakan spesies hiu berjalan di Ternate dapat dilihat pada malam hari dan hanya pada kedalaman 5-10 meter di lima titik dari 15 titik penyelaman di perairan Ternate. Keseluruhannya merupakan titik penyelaman sepanjang bibir pantai di pusat kota, yaitu sepanjang Pantai Falajawa hingga ke arah utara. "Tapi untuk beberapa spot sudah mulai susah, yang masih gampang ditemukan di Swering Falajawa," ujar Adit.

Keberlangsungan populasi hiu berjalan ini sangat bergantung pada ketersediaan mata rantai makanan dan kondisi pantai. Tingginya kegiatan reklamasi pembangunan pantai dan budaya buang sampah sembarangan di Ternate membuat populasi hiu ini terancam. Sistem reproduksi hiu ini juga lambat sehingga populasinya di Ternate menyusut setiap tahun. "Ini akan semakin parah saat kondisi terumbu karang di Ternate tak lagi baik. Di wilayah selatan Ternate bahkan sudah rusak," ucap Nurholis Wahidin, pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate, yang ikut penelitian bersama Gerald R. Allen dan Mark V. Erdmann.

Soal kondisi terumbu karang itu, Sabam mengiyakan. Menurut dia, keberadaan hiu menjadi salah satu parameter dari ekosistem terumbu karang yang sehat. "Terumbu karang yang sehat biasanya punya hiu yang berlimpah, terutama hiu karang, karena di situ pasti banyak tersedia makanan."

Tempo sempat mengamati kondisi karang di tiga titik habitat hiu berjalan, yaitu Pelabuhan Ahmad Yani, Swering Falajawa, dan Taman Nukila. Di titik Swering Falajawa, kondisi terumbu karang tak lagi terlihat baik. Hamparan pasir sejauh 100 meter ke arah utara terlihat jelas. Tapi di sini mudah dijumpai jenis ikan, udang, dan kepiting yang menjadi mata rantai makanan hiu berjalan, seperti harlequin shrimp, bumblebee shrimp, boxer crab, hairy shrimp, dan tiger shrimp.

Hal yang sama terjadi di titik Pelabuhan Ahmad Yani. Titik yang dulunya ditutupi karang, seperti seafan, sponge, dan bubble coral, kini tak lagi terlihat lantaran ada aktivitas pembangunan pelabuhan baru. Sejumlah spesies ikan yang menjadi makanan hiu berjalan juga tak lagi terlihat.

Kondisi terumbu karang di titik Taman Nukila relatif baik, bahkan bisa hingga kedalaman 22-25 meter. Penyelam harus berenang sejauh 15 meter ke arah laut untuk mendapatkan slope yang terdiri atas pasir. Setelah sekitar 10 meter melewati dasar pasir di kedalaman 20 meter, barulah karang submerged dapat terlihat. Sejumlah jenis ikan yang merupakan makanan hiu berjalan juga terlihat di sini.

Ancaman terbesar bagi hiu berjalan, menurut Sabam, adalah degradasi terhadap habitatnya. Berbeda dengan hiu besar yang bisa bergerak jauh, distribusi hiu berjalan sangat rendah. "Jadi, jika habitat pentingnya itu rusak, dia tidak bisa berpindah jauh sehingga keberlangsungan hidupnya juga terancam."

Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman mengakui belum ada peraturan daerah untuk menjaga habitat hiu berjalan di Ternate. Tapi Pemerintah Kota melarang masyarakat membuang sampah dan menangkap ikan hiu jenis ini secara sembarangan. "Saat ini hiu jenis ini bahkan sudah menjadi ikon pariwisata laut Ternate. Karena itu, pembangunan di Ternate akan diarahkan lebih ramah lingkungan," ujarnya.

Burhan mengungkapkan pihaknya juga belum mengetahui jumlah populasi Hemiscyllium halmahera di perairan Ternate. "Makanya saya sudah perintahkan ikan ini harus dijaga," tuturnya.

Sebenarnya, menurut Sabam, pemerintah dapat menetapkan spesies-spesies seperti hiu berjalan ini sebagai satwa dilindungi penuh melalui peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan. "Harus benar-benar dilindungi karena ini satwa endemis yang hanya ada di Indonesia, Papua Nugini, dan Australia."

Selain itu, Sabam mengatakan, meski belum menjadi isu besar, kini banyak spesies hiu karismatis yang memiliki corak cantik, seperti kelompok Hemiscyllum, Chilocyllium, hiu tokek, dan hiu zebra, yang ditangkap pemilik akuarium besar untuk koleksi. Bahkan mereka berhasil melakukan penangkaran. "Kita belum punya regulasi dan pengelolaan untuk perdagangan satwa untuk akuaria ini," ujar Sabam.

Dody Hidayat, Budhy Nurgianto (ternate)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161827900063



Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.