Pecah Kongsi Ahok dengan Sunny Tanuwidjaja dkk - Laporan Utama - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Utama 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pecah Kongsi Seusai Reklamasi

Sunny Tanuwidjaja menjadi tangan kanan Basuki Tjahaja Purnama sejak Ahok menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Mereka tak lagi dekat setelah kasus suap reklamasi Teluk Jakarta diungkap KPK.

i Sunny Tanuwidjaja di gedung KPK, Jakarta, April 2016. Dok. TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Sunny Tanuwidjaja di gedung KPK, Jakarta, April 2016. Dok. TEMPO/Eko Siswono Toyudho
  • Sunny Tanuwidjaja dan Basuki Tjahaja Purnama berkenalan dalam sebuah acara mahasiswa di Amerika Serikat pada 2010. .
  • Sunny yang sedang menyelesaikan disertasi kemudian menjadi tangan kanan Ahok saat dia menjadi Gubernur DKI Jakarta.
  • Hubungan kedunya merenggang setelah kasus korupsi reklamasi dibongkar penyidik KPK. .

BASUKI Tjahaja Purnama acap gusar ketika memutar memori saat menjadi saksi dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada 25 Juli 2016. Hari itu, jaksa penuntut umum memperdengarkan rekaman sadapan pembicaraan antara Sunny Tanuwidjaja dan Mohamad Sanusi, terdakwa suap reklamasi Teluk Jakarta. Dalam sadapan itu, Sunny menanyakan kepada Sanusi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta, mengapa rancangan peraturan daerah tentang reklamasi tak kunjung rampung.

Ketika rekaman diputar, Ahok—panggilan Basuki—merasa ada sesuatu yang familiar. Dia mencoba menerka-nerka, di mana Sunny berada ketika hubungan telepon itu berlangsung. Pada satu bagian, Ahok sayup-sayup mendengar suaranya sendiri bocor ke dalam rekaman yang diputar. Dia kemudian menyadari, Sunny menelepon Sanusi dari dalam ruang kerja Gubernur DKI. “Gue marah besar,” kata Ahok kepada Tempo pada Rabu, 12 Februari lalu.

Kisruh seputar kasus reklamasi itulah yang membuat hubungan Ahok dengan Sunny merenggang. Sejak itu, Sunny tak pernah terlihat lagi di Balai Kota DKI Jakarta. Padahal, sebelum itu, ke mana pun Ahok pergi, pasti ada Sunny di sebelahnya.

Akibat insiden itu pula rencana mengusung Ahok menjadi calon gubernur independen lewat gerakan “Teman Ahok” ikut berantakan. Sampai keluar dari penjara tahun lalu, Basuki tetap enggan bergabung kembali ke kelompok pendukungnya yang kini banyak aktif di Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dia memilih merapat ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
 

•••

Kedekatan Ahok dan Sunny bermula dari sebuah hajatan mahasiswa Indonesia di Chicago, Amerika Serikat, pada 2010-an. Mahasiswa Indonesia di kota itu mengundang Ahok, yang waktu itu masih menjadi anggota Fraksi Golkar di Dewan Perwakilan Rakyat, untuk berceramah. Ahok setuju datang bercerita mengenai pengalaman politiknya dari menjadi anggota Dewan di daerah, bupati, calon gubernur, hingga anggota parlemen. Panitia pun membelikan tiket pesawat Etihad Airways kelas ekonomi. Pesawat yang ditumpangi Ahok transit di Manchester. “Nginep-nya di Holiday Inn di pinggir kota,” katanya.

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie bersama relawan Teman Ahok di Jakata, Maret 2016.Dok. TEMPO/M. Iqbal Ichsan


Dalam pertemuan selama lima hari itu, bersualah Basuki dengan Sunny, yang ketika itu menempuh pendidikan doktoral di Northern Illinois University. Alumnus kampus ini antara lain Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta Philips Jusario Vermonte, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, dan Ketua Yayasan Populi Center Nico Harjanto. Kepada Ahok, Sunny bercerita sedang menyelesaikan disertasi politik. “Dia ingin ketemu banyak orang,” ujar Ahok.

Sejak pertemuan itu, Ahok kerap “menenteng” Sunny ke mana-mana. Ketika Ahok hendak maju sebagai calon independen dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, Sunny ikut membantu mengumpulkan kartu tanda penduduk. Namun Ahok urung maju lewat jalur ini karena jumlah syarat dukungannya tak mencapai target. Ahok kemudian menyeberang dari Partai Golkar ke Partai Gerindra setelah diusung menjadi calon wakil gubernur berpasangan dengan Joko Widodo, yang dicalonkan PDIP.

Setelah Jokowi-Ahok memenangi pemilihan gubernur dan berkantor di Balai Kota, hubungan Ahok dan Sunny makin intens. Sunny menjadi direktur di Center for Democracy and Transparency, lembaga yang dibentuk Ahok. Tak cuma mengamati kegiatan Ahok berpolitik, tugas Sunny bertambah menjadi pengatur jadwal kegiatan Ahok. Di Twitter, Ahok pernah meminta orang-orang yang hendak bertemu dengannya mengontak Sunny lebih dulu. Alasan Ahok, selain untuk keperluan disertasi, “Dia kan kepala seluruh anak magang.”

Ketika itu, di Balai Kota, jabatan Sunny tak pernah terang. Sekali waktu, Ahok menyebutnya anak magang. Dalam kesempatan lain, Ahok mengatakan Sunny adalah anggota stafnya. Pernah juga Ahok menyebut Sunny sebagai penasihat politiknya. Sunny pernah mengatakan dia memang sering diajak Ahok bertemu dengan pengusaha atau politikus. “Supaya ada saksi. Kalau ada bicara soal politik, supaya saya bisa kasih masukan,” ujar Sunny pada 11 April 2016.

Setelah Jokowi menjabat presiden dan Ahok naik jabatan menjadi gubernur, mulai ada pembicaraan di Balai Kota mengenai kendaraan politik buat Ahok dalam pemilihan berikutnya. Sunny pun membawa mantan politikus Golkar dan pengusaha, Jeffrie Geovanie, ke Balai Kota. Ketiganya mendiskusikan peluang mendirikan partai politik. Politikus PSI yang juga bekas anggota staf Ahok, Rian Ernest, mengatakan partainya semula memang berdiri untuk mendukung Jokowi dan Ahok. “Sebagai partai baru, wajar secara timing kami terinspirasi mereka,” ujar Rian.

Ahok tak banyak bicara saat mendengarkan rencana Sunny dan Jeffrie. Dia sempat mengutarakan pengalamannya ketika mendirikan Partai Indonesia Baru. “Emang lu pikir gampang bikin partai?” kata Ahok. Tapi Sunny dan Jeffrie jalan terus mendirikan Partai Solidaritas Indonesia. Mereka berdua kini duduk di posisi ketua dan sekretaris Dewan Pembina PSI. Partai ini menjadi salah satu pengusung Ahok dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Di tengah proses pendaftaran sebagai calon gubernur, kasus reklamasi meruak ke publik. Dalam kasus ini, Sunny diduga menjadi penghubung antara pengembang reklamasi dan Ahok. Richard Halim Kusuma, CEO Supporting Property Agung Sedayu Group, pengembang pulau reklamasi, kerap menyampaikan pesan ayahnya, Sugianto Kusuma alias Aguan, kepada Ahok melalui Sunny. Komisi Pemberantasan Korupsi bahkan pernah mencegah Sunny, Richard, dan Aguan bepergian ke luar negeri dalam masa penyidikan kasus ini.

 


 

“Emang lu pikir gampang bikin partai?” kata Ahok. Tapi Sunny dan Jeffrie jalan terus mendirikan Partai Solidaritas Indonesia.

 




Hubungan Ahok dan Sunny makin runcing setelah Tempo merilis temuan yang terkait dengan Teman Ahok pada Juni 2016. Dalam laporannya, Tempo menyebutkan ada dugaan aliran dana dari pengembang reklamasi ke organisasi ini yang didesain Sunny bersama Cyrus Network. Teman Ahok memang dibuat untuk mendukung Ahok maju sebagai calon independen. Salah satu yang mencuat dalam kasus ini adalah pembelian Toyota Avanza oleh Cyrus untuk Michael Sianipar, anggota staf Ahok yang kini menjadi Ketua PSI Jakarta. “Aku kaget membaca laporan Tempo,” ujar Ahok. Akibat laporan itu, Tempo sempat diadukan ke Dewan Pers karena dinilai mempublikasikan informasi yang kurang akurat.

Penasaran, Ahok pun memanggil Michael untuk mengklarifikasi informasi itu. Menurut Ahok, Michael menjelaskan asal-usul pembelian mobil itu, yakni dari pinjaman. “Mau meminjam uang juga mestinya setahu gue,” kata Ahok dengan nada tinggi. Hubungan mereka mendingin pasca-insiden ini. Ketika Ahok dipenjara, Michael sempat hendak menjenguk bekas bosnya itu. Namun Ahok menolak. Gagal menemui bosnya, Michael memilih mengirim surat. “Panjang itu suratnya. ‘Nanti kita juga akan ketemu di surga, Pak’,” ujar Ahok menirukan satu bagian surat itu. Michael membenarkan surat ini. “Untuk menjaga silaturahmi dengan mantan bos.”

Setelah perkara reklamasi dan laporan Tempo tentang Teman Ahok mencuat, situasi di Balai Kota berubah. Staf Ahok terbelah menjadi dua kubu. Satu kubu ada di pihak Sunny, satu pihak ada di kubu Ahok. “Pecah, udah kayak musuh-musuhan,” kata Ahok. Michael Sianipar menjelaskan, perkubuan ini muncul karena persoalan beban kerja. Rian Ernest menilai faksi-faksian terjadi karena faktor lain. “Ketika masuk ke Ahok, kami sudah setengah jadi, sehingga kami terbiasa berpikir kritis.” Sunny sendiri tidak membalas permintaan wawancara Tempo.

Sejumlah anggota staf Balai Kota belakangan merapat ke PSI. Misalnya Michael Sianipar, Rian Ernest, dan Idris Ahmad. Adapun anggota staf yang lain tetap bersama Ahok, seperti Sakti Budiono, sementara Ima Mahdiah mengikuti Ahok ke PDI Perjuangan. Pilihan Ahok bergabung ke PDI Perjuangan membuat Rian masygul. “Kekecewaan pasti ada. Kader kami kan kebanyakan ‘Ahokers’ garis keras,” katanya.

WAYAN AGUS PURNOMO, STEFANUS PRAMONO
2020-08-05 06:27:51


Laporan Utama 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.