Priming Isu dalam Pilkada Jakarta 2017 - Laporan Utama - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Utama 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Priming Isu dalam Pilkada Jakarta 2017

Hitung cepat pemilihan kepala daerah DKI Jakarta memberi validasi ramalan yang sebelumnya telah diumumkan sejumlah lembaga survei. Putaran pertama pilkada itu meloloskan pasangan nomor dua, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), dan pasangan nomor tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Keduanya menjungkalkan pasangan nomor urut satu, yang semula diduga menjadi pesaing kuat inkumben, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi).

Namun hasil hitung cepat itu tetap menyisakan dua pertanyaan. Mengapa muncul selisih yang besar antara tingkat kepuasan publik yang relatif tinggi terhadap kinerja pasangan inkumben dan perolehan dukungan suara mereka di lapangan? Mengapa pula yang melesat perolehan dukungannya adalah pasangan Anies-Sandi, dan bukannya pasangan Agus-Sylvi?

i

Dodi Ambardi
Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia.

Hitung cepat pemilihan kepala daerah DKI Jakarta memberi validasi ramalan yang sebelumnya telah diumumkan sejumlah lembaga survei. Putaran pertama pilkada itu meloloskan pasangan nomor dua, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), dan pasangan nomor tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Keduanya menjungkalkan pasangan nomor urut satu, yang semula diduga menjadi pesaing kuat inkumben, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi).

Namun hasil hitung cepat itu tetap menyisakan dua pertanyaan. Mengapa muncul selisih yang besar antara tingkat kepuasan publik yang relatif tinggi terhadap kinerja pasangan inkumben dan perolehan dukungan suara mereka di lapangan? Mengapa pula yang melesat perolehan dukungannya adalah pasangan Anies-Sandi, dan bukannya pasangan Agus-Sylvi?


Rekaman jajak pendapat sejak Mei 2016 sampai Februari 2017 menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja inkumben bertengger di rentang 69-76 persen. Namun data hitung cepat menunjukkan bahwa perolehan suara pasangan inkumben hanya mencapai 43 persen. Sementara itu, pasangan Agus-Sylvi sempat meninggalkan jauh perolehan dukungan Anies-Sandi pada November 2016, tapi kemudian tersalip sebulan terakhir menjelang hari pencoblosan.

Kampanye yang bertumpu pada proses priming tampaknya bisa membantu kita menjawab dua pertanyaan itu.

Priming adalah sebuah proses ketika kandidat dan media massa menyeleksi dan memilih sejumlah isu saja dalam kampanye seraya mengabaikan sebagian besar isu-isu lain. Proses yang selektif ini pada gilirannya membatasi jenis informasi yang sampai kepada publik pemilih dan hanya informasi itulah yang akan dijadikan basis evaluasi pemilih terhadap kandidat ketika mereka memberikan dukungan.

Sepanjang kampanye pemilihan kepala daerah DKI Jakarta ini, banyak isu berseliweran. Tapi priming yang dilakukan oleh para kandidat menggumpal pada tiga isu pokok: agama, debat, dan citra personal. Bagaimana priming ini membentuk banyak pilihan politik pemilih?

Tanpa priming, faktor agama untuk pilkada Jakarta sering diartikan sebagai kesamaan agama antara pemilih dan kandidat dan ini lazim dipakai sebagai penjelas distribusi dukungan politik pemilih. Kesamaan pemelukan agama ini membentuk motif pemberian suara pemilih. Tapi rangkaian data survei opini publik yang dimiliki oleh Lembaga Survei Indonesia dan Indikator Politik Indonesia memberikan informasi sebaliknya: sampai Januari 2017, jumlah pemilih yang menimbang agama sebagai faktor penting dalam membuat keputusan ternyata kecil saja, hanya di bawah 10 persen. Justru alasan lainlah lebih banyak disebut.

Sesungguhnya, yang terjadi adalah pembingkaian dan priming peristiwa yang bersangkut dengan isu keagamaan: gubernur inkumben tergelincir dengan ucapannya yang menyenggol ayat 51 Surat Al-Maidah dalam obrolannya dengan warga Kepulauan Seribu, pada akhir September 2016. Ketika obrolan itu memasuki ruang publik, sebagian tokoh publik dan lawan politik membingkai ucapan gubernur inkumben itu sebagai penistaan agama.

Perhatian publik Jakarta, dan bahkan publik Indonesia, semakin terfokus pada isu ini melalui demonstrasi masif pada 4 November (populer dengan sebutan demo 411). Situasi ini bertahan lama dengan hadirnya demonstrasi susulan pada 12 Desember 2016 (demo 212). Meskipun tak sebesar dan tak seterbuka demo-demo sebelumnya, demonstrasi pada 11 Februari (demo 112), yang dilakukan menjelang masa tenang kampanye, semakin melanggengkan bingkai penistaan agama itu di benak publik.

Jadilah proses priming tersebut menghasilkan sebuah narasi kuat tentang penistaan agama oleh inkumben, dan itu menjadi shortcut bagi pemilih untuk menyederhanakan kompleksitas isu sekaligus menutup isu-isu penting dan sudut pandang lain. Narasi telah terbangun, dan publik dengan mudah mengingatnya karena penamaan yang catchy: demo 411, demo 212, dan demo 112. Efek priming lantas tecermin dalam rangkaian survei yang menggambarkan naik-turunnya dukungan publik pemilih terhadap ketiga pasangan kandidat.

Pada Mei-Juni 2016, dukungan terhadap Basuki Tjahaja Purnama masih bertengger di angka 53 persen. Tapi dukungan ini anjlok pada akhir November dan awal Desember 2016 ke angka 27,3 persen. Temuan data survei memberikan potongan informasi penting dalam cerita ini: para pemilih yang menganggap ucapan Basuki Tjahaja Purnama itu sebuah penistaan agama cenderung menolak inkumben dan memberikan dukungannya kepada dua pasangan kandidat lain. Jadi bukan semata kesamaan agama antara pemilih dan kandidat; melainkan proses priming isu penistaan agama itulah yang memangkas dukungan terhadap pasangan inkumben secara drastis.

Meskipun sangat kuat, isu penistaan bukanlah satu-satunya priming dalam kampanye. Debat publik antara ketiga pasangan kandidat ikut membentuk pilihan politik pemilih. Sebagian pemilih memberikan dukungan karena salah satu pasangan dianggap lebih menguasai isu yang diperdebatkan, lebih argumentatif, dan lebih banyak memberikan data untuk menopang argumen. Media pun gencar menjangkau publik dengan memberitakan kandidat yang unggul dan tercecer dalam tiga kali debat publik yang ditayangkan luas melalui televisi tersebut. Efek debat itu terlihat dari naiknya dukungan pada para pemilih yang menonton acara debat. Pasangan Ahok-Djarot serta pasangan Anies-Sandi mencatat kenaikan dukungan pada mereka yang menonton debat.

Berikutnya adalah priming citra personal. Faktor citra personal ini memiliki banyak dimensi, dari ketegasan, kepintaran, kejujuran, integritas, kemampuan memimpin, dan empati pada rakyat. Agregat dari skor kepribadian ini membawa efek penting juga dalam menentukan pilihan politik pemilih. Ini berarti pemilih yang lebih melihat sisi negatif karakter pribadi kandidat akan cenderung tidak memberikan dukungan suaranya. Sebaliknya, suara mereka akan diberikan kepada kandidat yang dalam persepsi mereka lebih memiliki sisi positif persona.

Ringkasnya, ketiga priming inilah yang membentuk dan menentukan dinamika naik-turunnya dukungan suara yang menyebar pada ketiga pasangan kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Meskipun mayoritas pemilih melihat kinerja baik inkumben, sering kali faktor ini tertutup oleh faktor lain melalui priming. Ketika proses ini bekerja, dukungan terhadap inkumben cenderung anjlok, dan sebaliknya.

Pertanyaan berikutnya, apa yang menjelaskan lolos dan melesatnya pasangan Anies-Sandi ke putaran kedua, dan bukannya Agus-Sylvi.

Selain melibatkan media, proses priming berawal dari mobilisasi isu-isu yang dilakukan pasangan kandidat dan tim suksesnya. Merekalah yang memilih dan membingkai isu yang akan dikembangkan dalam kampanye. Dalam ungkapan yang populer sekarang, ini adalah penggorengan isu. Pada titik ini, perbedaan strategi dan teknik priming yang dijalankan pasangan Agus-Sylvi dan pasangan Anies-Sandi menentukan peruntungan politik mereka.

Gelombang sentimen negatif publik terhadap inkumben atas tuduhan penistaan agama Islam dikendarai secara cerdik oleh pasangan Anies-Sandi ketimbang oleh pasangan Agus-Sylvi. Dalam berbagai kesempatan, pasangan nomor tiga, terutama Anies Baswedan, terlihat lebih jeli dan lihai dalam mengasosiasikan dirinya dengan komunitas pemilih muslim yang melakukan demo-demo masif tersebut.

Debat publik yang diselenggarakan Kompas TV pada Desember dan hanya dihadiri dua pasangan kandidat bisa dijadikan contoh. Dengan lihai, di tengah-tengah percakapan perkenalan di depan kamera, Anies menunjuk ke istrinya yang hadir di forum debat itu dengan menyebut sandang jilbab istrinya. Demikian juga ketika ia menunjuk istri wakilnya yang juga mengenakan jilbab. Upaya pengasosiasian ini tidak bersifat random dan terjadi secara reguler. Gerak Anies yang ke kanan ini berlanjut dengan kunjungan yang dilakukannya ke markas Front Pembela Islam di Petamburan, Jakarta Pusat, pada awal Januari 2017. Publik luas tahu bahwa pemimpin FPI bergerak aktif mengkoordinasi gelombang demo kaum muslim yang berurutan.

Dalam talk show di sebuah stasiun televisi pada akhir Januari, Anies menegaskan lagi asosiasinya dengan kelompok pemilih muslim yang berpandangan bahwa gubernur harus seorang muslim. Kehadirannya di Masjid Istiqlal, Jakarta, yang menjadi penutup demo menjelang hari-H lagi-lagi memperkuat asosiasi itu. Semua upaya asosiasi ini tertata rapi, yang berdampingan dengan poster kampanye yang ber-tagline: coblos pecinya. Tentu publik pemilih Jakarta tahu belaka makna peci dalam komunitas muslim. Hasilnya, dukungan suara terhadap pasangan Anies-Sandi yang masih stabil sejak November 2016 sampai awal Januari 2017 di kisaran 24 persen, dan kemudian meroket pada awal Februari 2017 di angka 35,4 persen, sebuah pertambahan yang lebih dari 10 persen. Karena jauh lebih lihai menerapkan strategi dan teknik priming, pasangan Anies-Sandi pun menuai hasil elektoral lebih banyak ketimbang Agus-Sylvi.

Tampaknya, asosiasi pasangan Anies-Sandi dengan komunitas muslim konservatif akan dibawa dan dimanfaatkan terus oleh pasangan ini pada putaran kedua. Alasannya, strategi dan taktik ini memberikan banyak keuntungan elektoral. Yang belum kita hitung adalah implikasi penggunaan taktik priming terhadap perkembangan kualitas politik demokrasi di Jakarta dan Indonesia pada masa mendatang.

2020-08-05 14:50:56


Laporan Utama 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.