Cara Najmatul Millah Mendidik Santri Agar Siap di Dunia Kerja - Laporan Khusus - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 8/14

Sebelumnya Selanjutnya
text

Amunisi Baru Nyai Najma

Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Islami membangun balai latihan kerja sinematografi. Agar santri dan dakwah tak ketinggalan zaman.

 

i Najmatul Millah (kanan) saat mengajar di kelas sinematografi di Pondok Pesantren  Nurul Jadid Al Islami, Jember, 15 Juli 2020. Heru Putranto
Najmatul Millah (kanan) saat mengajar di kelas sinematografi di Pondok Pesantren Nurul Jadid Al Islami, Jember, 15 Juli 2020. Heru Putranto

DUA tiang beton penyangga atap teras membuat bangunan yang berdiri di bagian belakang kompleks Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Islami itu tampak mencolok. Gedung seluas dua kali lapangan voli tersebut lebih modern, baru selesai dibangun tahun lalu. Sudah setahun pula balai latihan kerja (BLK) ini beroperasi. “Dalam satu tahun ada dua pelatihan,” kata Abdul Muhaimin, Kepala Sekolah Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Islami, Rabu, 15 Juli lalu.

Abdul Muhaimin adalah suami Najmatul Millah, Ketua Yayasan Nurul Jadid Al-Islami. Sedekade terakhir, pondok pesantren yang didirikan pasangan tersebut kian berkembang. Tak hanya menjadi pusat belajar kitab-kitab Islam, tapi juga sebagai fasilitas pendidikan formal dan informal.

Yang terbaru, pada Februari 2019, pengurus pesantren menelurkan Akademi Komunitas—perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi setara dengan diploma II. Adapun BLK berfokus menjadi wahana pelatihan sinematografi yang bisa diikuti santri Nurul Jadid dan santri pondok pesantren lain. “Saya ingin anak-anak tak sekadar mengkaji kitab, tapi juga punya basic skill yang terpakai,” ucap Najma—begitu Najmatul biasa dipanggil.


Sejauh ini peralatan yang tersedia di BLK belum lengkap. Baru ada beberapa unit kamera, drone, dan pengeras suara untuk mendukung kegiatan 16 peserta di setiap periode pelatihan. Dengan alat-alat ini, para peserta setidaknya bisa menghasilkan film pendek setelah mengikuti pelatihan selama sebulan. Muhaimin pun kini bersiap menambah perlengkapan berupa alat tata cahaya.

Untuk merangsang minat santri mengikuti pelatihan, Yayasan Nurul Jadid Al-Islami memberikan modul, seragam, makan siang, dan kudapan secara cuma-cuma. Yayasan juga mengirimkan seorang instruktur BLK untuk belajar di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta dan menularkannya ke peserta.

Menurut Najma, kegiatan vokasi semacam ini diperlukan agar pandangan para santri terhadap dunia di luar pondok pesantren makin terbuka. Selain itu, penguasaan teknologi, termasuk dalam produksi gambar bergerak, kian penting untuk keperluan pengembangan dakwah. “Mengingat sekarang musim media sosial,” ujarnya.

AISHA SHAIDRA, DAVID PRIYASIDHARTA (JEMBER)



Najmatul Millah 

(Pendiri dan pemimpin Yayasan Nurul Jadid Al-Islami, Jember, Jawa Timur)

Tempat dan tanggal lahir: Lumajang, Jawa Timur, 10 Maret 1983

Pendidikan:
• Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Syarifudin
• Program S-1 Sastra Arab Sekolah Tinggi Agama Islam Malang (2000)
• Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember (2009)

Organisasi:
• Anggota Perhimpunan Rahima (2010-sekarang)

2020-08-11 14:20:41

Nurul Jadid Al Islami sinematografi Pesantren

Laporan Khusus 8/14

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.