Perjalanan Syekh Arsyad Menyebarkan Islam - Laporan Khusus - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 14/20

Sebelumnya Selanjutnya
text

Wali Pengajar dari Banjar

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menulis berbagai kitab dalam bahasa Melayu, bukan Arab, agar mudah dipahami masyarakat. Memakainya untuk dakwah.

i Syekh Muhammad Arsyad Al Banjar.  Ilustrasi: Imam Yunni
Syekh Muhammad Arsyad Al Banjar. Ilustrasi: Imam Yunni
  • Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah wali Nusantara dari Banjar, Kalimantan Selatan. .
  • Syekh Arsyad banyak mengarang kitab fikih hingga tasawuf.
  • Sejumlah judul kitabnya menjadi nama masjid di Banjarmasin. .

LIMA menara, empat kecil dan satu besar, mengelilingi masjid dua lantai berwarna cokelat dan emas seluas 5.250 meter persegi di sisi Jalan Jenderal Sudirman, Kota Banjarmasin. Di depan bangunan utama membentang taman dengan kolam serta pancuran air. Di dalam kompleks masjid juga terdapat sejumlah bangunan, seperti kantor pengurus masjid, kantor Majelis Ulama Indonesia Banjarmasin, dan area parkir.

Masjid yang berdiri di atas lahan 100 ribu meter persegi itu dibangun pada 1974 dan diberi nama Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Nama itu diambil dari nama salah satu kitab karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama besar yang bermukim di ibu kota Kalimantan Selatan tersebut.

Sabilal Muhtadin bukan satu-satunya kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang dijadikan nama masjid. Di Kelurahan Alalak Tengah ada masjid bernama Tuhfaturraghibin, yang juga diambil dari salah satu kitab karya Arsyad. Setidaknya ada 20 kitab yang dia tulis semasa hidupnya.


Guru Ahmad Daudi, keturunan ketujuh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari menunjukan kitab dengan tulisan tangan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Muhammad Robby

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjkgMDU6MjQ6MzAiXQ

Kitab-kitab itu menyebar dan menjadi kajian di berbagai lembaga pendidikan Islam dari Kalimantan, Sumatera, Malaysia, hingga Brunei Darussalam. “Syekh Arsyad berdakwah melalui kitab,” kata Guru Ahmad Daudi, keturunan ketujuh Muhammad Arsyad, di rumahnya di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kamis, 7 Mei lalu. “Masyarakat mengenangnya melalui kitab-kitab karya beliau.”

Menurut laki-laki 57 tahun itu, Arsyad lahir pada 15 Safar 1122 Hijriah atau 17 Maret 1710 di Kampung Lok Gabang, yang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar. Dia terlahir dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah. “Abdullah dari Mindanao, Filipina,” ujarnya.

Soal asal-usul Syekh Arsyad juga tercatat dalam kitab Matahari Islam yang ditulis Shaghir Abdullah yang terbit pada 1983. Menurut Shaghir, Abdullah adalah keturunan Sultan Sulu, Abu Bakar Balewa, yang melarikan diri dari serangan Portugis. Kesultanan Sulu adalah pemerintahan muslim yang berdiri pada 1457 di Filipina Selatan.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin, di Jalan Jenderal Sudirman Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Muhammad Robby

Dalam catatan Shaghir, Arsyad anak yang cerdas. Saat berusia 7 tahun, ia sudah lancar membaca Al-Quran sekaligus pandai melukis. Kecerdasan dan kepandaiannya membuat Sultan Kesultanan Banjar, Hamidullah, terpesona. Sultan lalu menjadikannya anak angkat dan memboyongnya ke istana. Di sini, Arsyad melanjutkan pendidikan dari sejumlah guru agama istana.

Hamidullah adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam pemikiran Arsyad. Dalam kitab Sabilal Muhtadin, Arsyad menulis bahwa Hamidullah adalah sosok sultan yang mampu menyeimbangkan urusan agama dan pemerintahan.

Saat berusia 30 tahun, Arsyad menikah dengan seorang perempuan Banjar bernama Bajut. Dari pernikahan itu, ia memiliki seorang anak perempuan bernama Fatimah. Setelah kelahiran anak pertamanya, Arsyad berangkat haji sekaligus melanjutkan pendidikan agama ke Arab Saudi.

Selama 25 tahun Arsyad belajar di Mekah dan 5 tahun di Madinah. Dia berguru kepada sejumlah ulama besar. Salah satunya Syekh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi, ulama asal Kurdistan. Ia juga mengaji kepada Syekh Muhammad Abdul Karim Samman al-Qodiri al-Khalwati al-Madani, pendiri tarekat Sammaniyah.

Tarekat Sammaniyah lalu dibawa Arsyad ke Banjar dan diteruskan keturunannya. Salah satunya Kiai Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul (1942-2005), yang merupakan keturunan ketujuh Arsyad.

Meski bertahun-tahun hidup di Arab Saudi, Arsyad tidak larut dalam budaya Timur Tengah. Ia bersama sejumlah ulama lain asal Nusantara—seperti Syekh Abdussamad al-Palembani, Syekh Abdurrahman al-Masri al-Batawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis—gencar mengenalkan budaya dan bahasa Melayu di sana. “Saat itu, bahasa Melayu sempat menjadi bahasa kedua setelah bahasa Arab di Mekah dan Madinah,” ujar Humaidy, pengajar di Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Antasari, Banjarmasin.

Humaidy pernah menulis tesis tentang peran Syekh Arsyad dalam pembaruan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan. Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan itu juga pernah melakukan kajian terhadap kitab-kitab yang ditulis Arsyad.

Menurut Humaidy, setelah 35 tahun belajar di Arab, Arsyad pulang ke Banjar. Saat itu, pemerintahan Kerajaan Banjar sudah berganti. Sultan Hamidullah telah lama meninggal. Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Tahmidullah bin Sultan Tamjidillah, yang bergelar Susuhunun Nata Alam (1761-1801). “Selama Syekh Arsyad belajar di Arab, telah terjadi dua kali pergantian sultan di Kerajaan Banjar,” kata Mansyur, sejarawan Kalimantan Selatan yang mengajar di Universitas Lambung Mangkurat.

Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, di Dalampagar Ulu, Martapura, Kalimantan Selatan. Muhammad Robby

Kedatangan Arsyad membawa sejumlah perubahan di Kerajaan Banjar. Sultan Tahmidullah memintanya membentuk Mahkamah Syariah atau lembaga peradilan agama dan menunjuk Arsyad sebagai mufti atau Ketua Hakim Tinggi. Arsyad bersedia. Ia mengubah nama Mahkamah Syariah yang bernuansa Arab menjadi Kerapatan Kadi yang bernuansa Banjar.

Kerapatan Kadi memiliki pejabat pengadilan yang berjenjang dari tingkat provinsi hingga desa. Kadi pengadilan agama berada di tingkat provinsi, khalifah tingkat kabupaten, penghulu tingkat kecamatan, dan kaum di tingkat desa. Sejak saat itu, Banjar memiliki sistem peradilan yang terstruktur dan modern.

Arsyad juga membangun perkampungan kecil bernama Dalam Pagar yang khusus menampung para santri belajar agama Islam. Ia membuat model pendidikan yang mengintegrasikan permukiman dengan sarana belajar dalam satu lokasi. Sejak saat itu, warga Kalimantan mulai mengenal pondok pesantren.

Di pesantren itu, Arsyad mengajarkan ilmu agama, pertanian, hingga perdagangan. Banyak lulusan pondok pesantren yang menjadi ahli agama sekaligus saudagar. Mereka berdakwah di seluruh pelosok Kalimantan, bahkan sampai Malaysia dan Brunei Darussalam.

Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary di Masjid Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, di Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Muhammad Robby

Menurut Humaidy, Arsyad terkenal sebagai penyebar agama Islam yang luwes sekaligus menghormati tradisi lokal. Ia juga rajin menulis kitab, dari fikih hingga tasawuf. Sebagian besar kitab ditulisnya dalam bahasa Melayu. “Saat itu, tidak banyak orang yang paham bahasa Arab,” tutur Humaidy. Walhasil, kitab-kitab Arsyad cepat menyebar ke berbagai daerah dan menjadi acuan di sejumlah pondok pesantren.

Meski begitu, dakwah Arsyad tidak mudah. Ia banyak ditentang kelompok bangsawan Banjar saat itu. Salah satu sebabnya, Arsyad kerap mengkritik para bangsawan yang masih gemar melakukan mambuang pasilih dan manyanggar banua, ritual memberikan sesaji kepada makhluk gaib.

Arsyad menilai ritual tersebut memiliki dua kesalahan: mempercayai makhluk gaib sebagai penyelamat dan membuat makanan terbuang sia-sia. Dalam kitab Tuhfaturraghibin, Arsyad menyatakan ritual adat itu sebagai bidah. Meski begitu, ia mengizinkan ritual asalkan dilakukan bila tidak mengandung dua kesalahan tersebut.

Arsyad meninggal pada usia 102 tahun, 13 Oktober 1812. Ia dimakamkan di Desa Kalampayan Tengah, Kecamatan Astanbul, Kabupaten Banjar. Di atas makam itu lalu dibangun Masjid Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Saat Tempo berkunjung ke sana pada 7 Mei lalu, pintu masjid terkunci. Penjaga melarang sejumlah peziarah masuk ke dalam masjid.

Marjuki, 37 tahun, penjaga makam Syekh Arsyad, mengatakan pengurus terpaksa menutup masjid untuk mencegah penyebaran wabah virus corona sejak dua bulan lalu. Kabupaten Banjar masuk zona merah pandemi virus pneumonia ini. “Kalau tidak ditutup, bisa ribuan peziarah berkumpul di sini setiap hari,” ujarnya.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-29 05:24:30

Wali Songo Wali Nusantara

Laporan Khusus 14/20

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB