Kisah Solfarina Membangun Gerakan untuk Melindungi Gajah Riau - Laporan Khusus - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 3/16

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terenyuh Gajah yang Terluka

Pertemuan Solfarina dengan Dita, gajah betina berkaki pincang, mengubah jalan hidupnya. Bersama Rimba Satwa, Solfarina menjadi tameng pelindung para gajah di hutan-hutan Sumatera.

i Solfarina saat mengunjungi kandang gajah  di Bengkalis, Riau, 20 April 2020./Zulkifli Syukri
Solfarina saat mengunjungi kandang gajah di Bengkalis, Riau, 20 April 2020./Zulkifli Syukri
  • Solfarina mendirikan Rimba Satwa Foundation untuk konservasi gajah di Sumatera .
  • Kini Rimba Satwa Foundation (RSF) sudah memiliki 16 anggota dengan area pengawasan di beberapa suaka margasatwa
  • RSF merupakan gerakan yang unik karena mereka tak berlatar belakang pegiat konservasi alam ataupun pekerja non-government organisation .

BARU berjalan sekitar 500 meter dari pintu hutan Desa Petani, Kabupaten Bengkalis, Riau, rombongan peserta susur hutan dari kelompok pencinta alam Himpunan Pegiat Alam (Hipam) melihat seekor gajah menyuruk di balik sebatang akasia. Kepalanya merunduk, pantatnya mencuat ke atas. Saat gajah berukuran enam kali lipat tubuh manusia itu mulai berjalan, langkahnya lambat dan timpang. Ada luka menganga di kaki kiri depannya.

Solfarina, anggota senior Hipam yang turut dalam rombongan itu, terenyuh. Seusai pertemuan tak terduga dengan sang gajah pincang, Solfarina pun terus gelisah. “Saya ingin menyelamatkan mereka,” kata Solfa—sapaan akrabnya—mengingat peristiwa enam tahun lalu itu.

Gajah yang menyentuh hati Solfa itu lalu dinamai Dita, akronim dari ditingga taruih (ditinggal terus) karena ia kerap terpantau bergerak tanpa rombongan akibat langkahnya incang-incut. Robek di kakinya disebabkan oleh jerat sling besi yang dipasang warga. Solfa bersama rekan-rekannya terus mengawasi pergerakan Dita. Dia juga sempat mendampingi saat Dita diobati oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau. “Infeksinya sudah menjalar dan kakinya membusuk hingga putus,” tutur Solfa.


Setelah bertemu dengan Dita, Solfa dan rekan-rekannya lalu membuat divisi baru untuk konservasi gajah di bawah bendera Hipam. Komunitas yang berbasis di Duri, Kabupaten Bengkalis, itu beranggotakan pencinta alam dari beragam latar belakang profesi. Solfa sendiri adalah guru bimbingan konseling. “Saat itu, kami belum tahu apa-apa tentang konservasi,” ujar Solfa.

Mereka kemudian tahu bahwa gajah adalah hama tak diinginkan oleh warga desa di Kabupaten Bengkalis dan sekitarnya. Jerat dan racun jadi perangkap untuk melumpuhkan hewan berbelalai itu. Tiap mendekati permukiman, gajah-gajah itu akan dilempari mercon hingga terbirit-birit. “Saya pernah melihat bagaimana bunga api dari mercon meledak tepat di atas para gajah,” ucap Solfa.

Setelah bergiat bersama Hipam, Solfa memutuskan mendirikan yayasan terpisah yang berfokus pada kegiatan konservasi gajah. Bersama suaminya, Zulhusni Syukri, dan rekannya, Ade Kurniawan, Solfa meresmikan Rimba Satwa Foundation (RSF) pada April 2016. Kini RSF sudah memiliki 16 anggota dengan area pengawasan mencakup Suaka Margasatwa Balai Raja, yang dihuni empat ekor gajah; Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (GSK), tempat hidup 40-60 ekor gajah; serta Hutan Senepis di perbatasan Dumai dan Rokan Hilir, yang dihuni sekitar 40 ekor harimau Sumatera.

Awalnya kegiatan yayasan ini ditopang dana pribadi. Kantornya menumpang di ruang tamu rumah Solfa dan Zulhusni. Mereka tinggal di sebuah rumah toko. Lantai satu adalah usaha bengkel audio mobil milik Zulhusni, sementara lantai duanya tempat tinggal mereka yang kemudian disekat untuk kantor RSF. “Kami mulai dari apa yang kami punya dulu,” kata Solfa.

Solfarina bersama tim Riau Satwa Foundtion memberikan edukasi tentang pelestarian Gajah Sumatera, di Riau, Januari 2020./Dokumentasi Pribadi

Kelahiran RSF menjadi secercah harapan bagi kelangsungan hidup gajah di Balai Raja dan GSK. Kawasan ini adalah salah satu kantong gajah Sumatera yang tersisa. Berada di birai jalur lintas timur Sumatera, Balai Raja pernah menjadi tempat aman bagi harimau, gajah, bahkan badak. Namun perambahan oleh perusahaan dan transmigrasi warga membuat area itu menyusut.

Sunarto, ekolog satwa dan lanskap World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, menyebutkan kini hanya sekitar 200 hektare area hutan Balai Raja tersisa dari tadinya 18 ribu hektare. Sebagian besar berubah menjadi bentangan kebun sawit. Satwa liar yang tersisa hanya gajah. Itu pun makin terdesak. “Balai Raja sudah hancur-hancuran dan tidak banyak yang peduli. Teman-teman di RSF, termasuk Solfa, ini yang menjadi pejuangnya,” ujar Sunarto.

Sunarto menilai RSF merupakan gerakan yang unik karena mereka tak berlatar belakang pegiat konservasi alam ataupun pekerja non-government organisation. Aksi mereka hanya berlandaskan kepedulian terhadap gajah. “RSF sangat proaktif mencari bimbingan hingga pernah mendatangi saya ke Pekanbaru,” kata Sunarto.

Bersama suaminya, Solfarina adalah motor penggerak RSF. Perempuan 36 tahun itu giat membangun jaringan dengan BKSDA dan lembaga seperti WWF serta menggaet donatur dari dalam dan luar negeri. “Solfarina yang menyiasati agar kami semua di sini dapat berjalan untuk patroli, program edukasi, hingga mengatur anggaran,” kata Hartoni Surono, anggota RSF.

Sejak akhir 2016, Solfa meninggalkan pekerjaannya sebagai guru agar bisa berfokus pada kegiatan konservasi gajah. Berbekal pelatihan manajemen risiko lapangan dan penyelamatan dari Wanadri, dia turun langsung untuk patroli dan monitoring serta memberi pemahaman tentang polah laku gajah dan cara penanganannya kepada warga di desa-desa yang berbatasan langsung dengan rute lintas hewan itu.

Saat ini tersisa empat gajah yang diawasi Solfa dan kawan-kawan di kawasan Balai Raja, yaitu Seruni, Rimba, Getar, dan Codet. Dita, yang tadinya masuk kelompok ini, ditemukan tewas pada Oktober tahun lalu di Jalan Bengkalis Balai Raja, Kecamatan Pinggir. “Kematian Dita jadi pukulan besar sekali. Kami makin tercambuk untuk terus melindungi teman-temannya,” ucap Solfa.

Patroli biasanya berlangsung selama 12-16 hari dalam sebulan oleh tim yang terdiri atas dua-empat orang. Salah satu kegiatan saat patroli adalah mendampingi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Jika ada gajah yang bergerak mendekati permukiman atau perkebunan, mereka akan digiring keluar dengan suara meriam karbit atau meriam spiritus. Metode ini jadi alternatif mengusir gajah yang dikampanyekan RSF kepada penduduk agar tak melukai gajah seperti halnya mercon. Ada juga program penanaman pakan gajah, seperti king grass dan pisang, untuk mengalihkan kawanan dari kebun warga.

Selama patroli, Solfa dan timnya mengawasi pergerakan gajah dalam radius sekitar 30 meter. Pengawasan harus dari tempat tinggi sehingga memanjat pohon berlama-lama bukan hal asing bagi Solfa. Sekali waktu, Solfa memantau pergerakan kawanan gajah di hutan green belt milik PT Kojo ketika tiba-tiba gajah yang diamatinya malah berjalan mendekat. “Saya kaget, tapi berusaha diam di tempat sambil tetap melihat ke arah gajahnya,” tutur Solfa. “Untung dia segera bergerak ke arah lain.”

Namun, menurut Solfa, ia merasa lebih deg-degan saat harus berhadapan dengan warga yang marah-marah dibanding interaksinya dengan gajah. “Kami pernah dihadang warga dan hendak diusir dari desa karena dianggap kamilah yang mendatangkan gajah itu ke sana,” kata Solfa.

Dalam situasi itu, menurut Hartoni Surono, Solfa menjadi juru komunikasi yang andal dan tetap berkepala dingin saat amarah warga ataupun anggota tim lain meninggi. “Solfa sering jadi tameng saat kami berhadapan dengan warga,” ujar Hartoni.

Solfa dapat menenangkan warga dan meyakinkan mereka bahwa manusia dan gajah dapat hidup berdampingan. Belakangan, Solfa dan tim berhasil membangun jaringan solid dengan masyarakat sehingga patroli dapat dilakukan sendiri oleh warga.

Selain itu, Solfa menjadi penanggung jawab program pendidikan terhadap siswa-siswa sekolah. Dia mendatangi tempat pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah atas di Kota Duri untuk memberi pengetahuan tentang lingkungan dan perlindungan satwa liar. Memanfaatkan dokumentasi foto dan video Dita yang berjalan pincang karena luka parah, Solfa berharap hal itu dapat mengetuk hati masyarakat dari usia sedini mungkin agar konflik manusia dan satwa tak terjadi berkepanjangan.

Bagi Solfa, kelangsungan hidup gajah kini sudah menjadi bagian dari darah dan dagingnya. Bahkan, saat usaha suaminya bangkrut karena mereka lebih berfokus mengurus gajah, Solfa dan Zulhusni tak gentar untuk melanjutkan komitmen mereka. Solfa hanya merasa dilematis saat harus meninggalkan dua anaknya yang berusia 6 dan 10 tahun untuk patroli. Ia pun sering membawa anak-anaknya ke hutan agar mereka dapat melihat apa yang sedang diperjuangkan Solfa. “Tak ada yang bisa menghentikan dia,” kata Zulhusni, lalu tertawa.


Solfarina

Tempat dan tanggal lahir: Padang Panjang, Sumatera Barat, 18 Oktober 1983
Pendidikan: S-1 Universitas Negeri Padang
Pekerjaan: Pendiri dan Wakil Koordinator Divisi Pendidikan Rimba Satwa Foundation

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-29 02:42:39

Penjaga alam Solfarina Konservasi gajah Kartini Hari Bumi

Laporan Khusus 3/16

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB