Novel Dekat & Nyaring Karya Sabda Armandio - Laporan Khusus - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 8/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kemiskinan, dari Dekat, Terdengar Nyaring

Susastra kaum muda di luar arus utama terus menyeruak, dengan gejala estetik berbeda, meski temanya klasik: empati terhadap kelas bawah. Benarkah Dekat & Nyaring produk method writing?

i Sastrawan Indonesia Sabda Armandio, di Jakarta. Tempo/Jati Mahatmaji
Sastrawan Indonesia Sabda Armandio, di Jakarta. Tempo/Jati Mahatmaji

FENOMENA penerbitan buku susastra di Indonesia yang disebut indie (dari independent) semula dimaksudkan sebagai alternatif dari dominasi penerbit besar, yang menerbitkan buku-buku arus utama (mainstream), sehingga konsekuensi nonprofit menjadi wajar, dan cukup puas atas posisi gerilya dalam konstelasi kebudayaan. Dalam kenyataannya, apa yang mungkin hanya tampak sebagai gejala pasar sesungguhnya mewakili gejala kebudayaan yang tidak sekadar menawarkan alternatif, tapi juga berjuang merebut dan menggantikan posisi kelompok dominan.

Perlu dicatat, bukan terutama ambisi ekonomi, tapi kebutuhan eksistensial generasi baru--bahwa pembaca baru menuntut susastra yang lain yang menjadi pendorong terpenting gejala ini. Pada gilirannya, buku-buku terbaiknya pun berkimia membentuk komunitas pembaca yang makin luas, yang bagi penerbit besar tak pernah luput untuk dimaknai sebagai pasar baru. Hari ini sejumlah penerbit indie tidak berposisi inferior lagi terhadap penerbit besar, karena fasilitas media baru sesungguhnyalah memberkati dengan daya saing yang tinggi. Dua dekade setelah Reformasi 1998, penerbit besar ataupun penerbit indie menerbitkan buku indie.

Dalam konteks susastra, ketika gejala pasar mewakili gejala kebudayaan, seberapa jauhkah sekaligus menjadi gejala estetik? Sangat menarik untuk menengok gejala estetik ini, yang terandaikan lahir dari konstruksi sosial-politiknya. Apakah kiranya yang secara estetik itu indie?


Dari prosa seperti Dekat & Nyaring gubahan Sabda Armandio, yang sebagai novela tentu sudah merupakan pilihan lain dari novel, pembaca akan mendapatkan latar kemiskinan urban. Ibarat panggung teater: segala peristiwa berlangsung di Gang Patos, yang bukanlah suatu lorong, melainkan permukiman ilegal di luar tembok Permata Permai Residence. Lokasi itu, selain dibelah oleh sungai, sudah ditinggalkan para penghuninya. Kisah ini adalah tentang sisanya, yang bertahan hidup dengan segala cara, jujur ataupun setengah jujur, seperti tergambar dari berbagai kejadian selama 24 jam.

Sastrawan Indonesia Sabda Armandio, di Jakarta. Tempo/Jati Mahatmaji

Realisme? Tentu. Namun bukan dari jenis yang memberikan ilusi realitas, dengan teknik membangun karakter, penyusunan alur canggih, atau mengibul melalui konflik--tapi “standar banget”--yang bertujuan menghibur pembaca agar sejenak melupakan hidup mengenaskan. Bukan. Dalam suatu paragraf yang bersifat metafiksi (fiksi tentang fiksi) menjelang akhir novela Dekat & Nyaring, terdapat ujaran karakter Dea Anugrah seperti berikut: “Jangan menulis novel, nggak akan mengubah apapun.” Mengubah dalam konteks ini jelas terhubungkan dengan penyadaran sosial.

Jika yang terbaca kemudian tetaplah prosa, terdapat juga argumennya: “Berapa kali harus kukatakan sampai kau mengerti? Aku nggak sedang menjadikan mereka bahan eksperimen, ini method writing, aku sedang menjadi mereka. Memangkas jarak dengan mengalami kehidupan kaum miskin kota. Tujuannya jelas, aku ingin menyuarakan penderitaan mereka.” Adapun metode ini, “Perlu komitmen dan pengalaman fisik.”

Ini ucapan karakter Kina dalam prosa ketika menerima dua buku soal politik perampasan tanah, riwayat empat penulis method writing dan efek yang diberikannya, serta daftar kasus yang sengaja dimintanya dari Dea, yang rupanya berfungsi sebagai periset. Artinya, Kina bukan penulis romantik yang hanya bermodal penghayatan dalam pengalaman, tapi juga bermetode akademis.

Istilah method writing mengingatkan pada method acting, pembelajaran seni peran berbasis sistem temuan Konstantin Stanislavsky (1863-1938) di Rusia, yang bersifat organik kreatif, yakni bagaimana aktor menggali dirinya. Sejak 1930, metode itu dikembangkan Actor’s Studio di New York, Amerika Serikat, dengan instruktur Lee Strasberg. Sangat dikenal pendekatan para aktornya, seperti Marlon Brando dan Robert De Niro, bahwa dalam berperan, mereka bukan meniru, melainkan menjadi, sehingga yang disebut pendekatan adalah meleburkan diri dalam dunia yang mereka perankan. Sebelum berperan sebagai petani, sebaiknya menjadi petani lebih dulu.

Demikian pula prosais dengan method writing, menceburkan diri dalam dunia yang digambarkannya dan berangkat menuliskannya tanpa harus menyiapkan format tradisional, seperti struktur tiga babak dan seterusnya. Ini tidak berarti penulisannya tanpa struktur. Dalam Dekat & Nyaring, kisah 24 jam tidak mengikuti jarum jam, tapi tercacah dalam delapan momentum ledakan ataupun suara genta, yang semuanya tersebut sebagai dekat dan nyaring--dan tetap ada kilas balik plus legenda kampung dalam cerita berbingkai, bahkan penutupnya berlangsung 20 tahun kemudian.

Dekat & nyaring

Ledakan, sebetulnya lebih dari delapan kali, tapi yang lain tidak dekat dan nyaring, bisa datang dari tabung gas tiga kilogram, petasan, atau pistol, dan gentanya adalah lonceng yang ditarik tali dekat telinga Edi, pemilik warung tripleks 24 jam yang meneladan toko swalayan 24 jam. Jualannya tentu beda: daging ular sanca yang diaku sebagai kobra, diasap dengan perangkat buatan sendiri, ataupun kembang bokor yang diolah supaya mirip daun ganja. Diakah protagonis? Bukan. Semuanya penting, dan semuanya orang kecil, kecuali jika polisi menjadi perkecualian.

Namun posisi Edi memang unik, karena warungnya melayani pesanan dengan ember bertali yang dikerek menyeberangi sungai. Di sinilah eksterior tempat para pemeran beradegan, saling berteriak dari turap; sedangkan interiornya rumah, jika masih bisa disebut rumah, yang mengungkap drama manusia di dalamnya. Kina, yang diam-diam adalah pengarang tadi, dan Idris; Nisbi dan Anak Baik; Wak Eli dan Aziz.

Dua peristiwa membawa-bawa ledakan: (1) kenangan Nisbi ketika suami polisinya merebut pistol dari tangannya, yang semula hendak digunakannya buat bunuh diri, untuk menembak pacar dalam karung sebelum menyusul juga dengan bunuh diri; (2) tertembaknya Aziz, pemuda 20 tahun bermental 10 tahun yang bentuk kepalanya tak jelas, karena menempelkan pistol ke perut Sam, polisi juga, sehingga berdasarkan pasal Perkapolri 8 Tahun 2009 ia boleh merebut dan menembaknya.

Tidak terlalu penting apakah Sabda Armandio, penggubah novela Dekat & Nyaring itu, sendiri memang menerapkan method writing alias berkubang seperti Kina sebelum menulis, tapi kemiskinan secara obyektif hanya disebutkan sekali. Selebihnya terungkap dalam teks seperti:

Kina tak pernah tahu ada orang yang menjalani hidup yang saking sulitnya sampai harus membolak-balik celana dalam untuk mengirit pengeluaran pakaian.

Pandangan Kina, yang tak pernah tahu, tentu mewakili pandangan orang luar, tapi teks itu adalah pandangan terhadap orang luar tersebut--mungkinkah oleh orang luar yang lain lagi? Kina memiskinkan diri begitu rupa, sehingga persanggamaan pertama dengan suaminya, yang ketemu di situ, berlangsung di sofa. Para penyintas dari dunia miskin tampak heroik, meski ironi tak terhindarkan, seperti ketika Kina memuji Edi sebagai  …menguasai alat produksimu sendiri, sementara pegawai-pegawai yang bekerja di swalayan itu tidak memiliki apa-apa.

Struktur novela ini seperti lingkaran-lingkaran mozaik yang beririsan, tapi metafiksi yang dikabarkan Dea Anugrah merupakan dimensi lain yang seperti mengesahkan sudut pandang intelektualistis sejak awal: tidak ada yang bodoh di Gang Patos, kalau ada cuma pura-pura bodoh. Inilah sebagian dari gejala estetik susastra dalam penerbitan indie: cerdas, sinis, ironis.

SENO GUMIRA AJIDARMA, WARTAWAN

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-28 07:30:22


Laporan Khusus 8/8

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB