Kritik 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
MASALAH yang menonjol dan menjadi perhatian terbesar saat ini adalah tuntutan rakyat Aceh untuk melakukan referendum atau penentuan pendapat rakyat, agar Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia atau memperoleh otonomi seluas-luasnya. Menurut berita terakhir, Gubernur Aceh dan Ketua DPRD Aceh mendukung tuntutan ini. Bahkan, Presiden Gus Dur pun sependapat soal referendum ini. Tuntutan saudara-saudara kita di Aceh ini sungguh memprihatinkan kita semua. Sejak awal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Aceh telah mengakui berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam sejarahnya, rakyat Aceh memiliki andil yang besar atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat itu rakyat Aceh rela bersatu masuk ke wilayah Negara Kesatuan RI. Karenanya, bila saat ini rakyat Aceh meminta referendum dan berniat lepas dari Negara Kesatuan RI, alangkah disayangkannya. Dan kalau boleh berkata jujur, rakyat Aceh malah mengingkari janjinya sendiri, dan sekarang ikut andil dalam memorak-porandakan Negara Kesatuan RI yang dibangun oleh seluruh rakyat Indonesia dengan jerih payahnya setelah mengusir penjajah Belanda dan Jepang bertahun-tahun yang lalu. Untuk itu, sebagai anak bangsa Indonesia, kami ikut mengajak semua saudara-saudaraku rakyat Aceh untuk berpikir jernih dan dengan hati yang bersih. Negara ini tidak salah. Yang salah adalah para pengelolanya. Maka, kalau memang para pengelolanya salah, mari kita bersihkan. Dan kita kembali ke habitat kita yakni bangsa Indonesia. Cobalah ingat dan perhatikan kami yang kini kebingungan. Keluarga kami saat ini ikut menjadi bingung atas kondisi yang tak menentu di Aceh. Bapak saya orang Jawa, ibu saya asli Aceh. Kalau rakyat Aceh minta berpisah dari Republik Indonesia, bagaimana pula nasib kami dan ratusan ribu anak tak berdosa lainnya yang selama ini ditakdirkan oleh Allah swt. sebagai anak campuran bapak Jawa, ibu Aceh, dan seterusnya. Apakah kami harus melupakan, menghilangkan, serta harus lari dari kenyataan ini? Tak sedikit keturunan Aceh dan keturunan suku-suku bangsa lainnya di Indonesia ini yang sudah bercampur-baur membentuk keluarga yang diridloi Allah sebagai sebuah keluarga. Jangan sampai kehidupan yang sudah menyatu dan memang disatukan Allah swt. ini justru tercerai-berai oleh keinginan untuk mengatur negara atau membuat negara baru. Untuk itu, mari kita tekuni dan amalkan ajaran Rasulullah Muhammad saw bahwa sebagai umat beriman kita harus hidup rukun, damai, selalu membina keutuhan keluarga dan bangsa. Kita jangan bercerai-berai, apalagi bermusuhan. Terus terang, kami sekeluarga sangat prihatin dan tak tahu harus berbuat apa kecuali memohon kepada Allah swt. agar bangsa kita tidak terpecah belah. Selama bangsa Indonesia mengakui bahwa Aceh adalah salah satu bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia, kita juga harus jujur dan adil kepada segenap rakyat Indonesia yang bukan warga Aceh. Bila rakyat Aceh melakukan referendum, semua saudara-saudara kita di 26 provinsi juga harus dimintai pendapatnya. Kiranya hal ini menjadi perhatian dan sentuhan bagi semua saudara-saudaraku di Aceh. DEDY ZAYARSYAF Sabang, Kecamatan Sukajaya Daerah Istimewa Aceh

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836515423



Kritik 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.