Kriminalitas 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Semangat Ada Cewek

Pengakuan para pelaku penodongan bus jurusan blok m-senen. selain karena tak ada uang, juga keinginan untuk pamer kehebatan di depan cewek. diinstruksikan agar semua pelaku ditangkap.

i
PERANGAI remaja menodong di dalam bus kota mendapat per hatian khusus Rapat Koordinasi Bidang Politik dan Keamanan Senin pekan lalu. Panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno menginstruksikan kepada polisi agar meringkus semua pelakunya tanpa toleransi, meski ada yang masih pelajar. Pembajakan bus Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) jurusan Blok MwSenen itu, menurut Direktur Operasi Perusahaan Umum PPD Darius Djana, merupakan kejahatan terparah kedua, dari jumlah pelaku maupun barang yang dijarah. Yang pertama terjadi tahun 1987. Hingga kini polisi telah menangkap 11 tersangka. Diduga pelakunya 27 remaja, tujuh di antaranya cewek. Empat cewek yang berstatus pelajar SMA itu sudah ditangguk dan kena wajib lapor Senin dan Kamis di Kepolisian Sektor Menteng, Jakarta Pusat. Wajib lapor ini dikenakan untuk tiga bulan. Mereka diduga ikut menikmati hasil penodongan dan tidak mencegah ketika temannya melakukan kejahatan tersebut. Dalam pemeriksaan, Ella, Endang, Emi, dan Entin -- semuanya bukan nama sebenarnya -- rata-rata berusia 17 tahun, mengaku cuma menjadi tumbal. "Gua kapok deh main-main di diskotek," katanya. Mereka mengaku akrab dengan kelompok ini di lantai disko Lipstick kawasan Blok M sejak April lalu. "Tapi kami bukan anggota kelompok mereka," kata Ella. Dan di hari rusuh itu, katanya, mereka pulang seiring dengan rombongan Alexander Lewa Lewi -- yang diduga pemimpin aksi itu. "Kami sama sekali tidak tahu bahwa ada acara penodongan," cerita Ella. Ditambahkannya, mereka juga dian cam dikeluarkan dari sekolah jika terbukti terlibat. Menurut Alexander, hadirnya cewekcewek itu menambah semangat untuk melakukan penodongan. "Tiap lelaki kan ingin memperlihatkan kelebihannya di mata perempuan," katanya pada Jawa Pos. Dan cewek-cewek itu, katanya, tahu bahwa kelompok ini akan melakukan penodongan. Ide untuk melakukan penodongan itu, kata Alex, karena tidak punya uang untuk acara teler malam harinya. Biasanya, setelah minum di disko, mereka melanjutkan begadang dan meminum minuman keras di daerah Kramat Sentiong, Jakarta Pusat. Teman-temannya diakui suka membawa senjata tajam, seperti silet, pisau lipat, celurit, dan golok. Penodongan itu, menurut Alexander, bukan aksi yang pertama. Setidaknya pemuda pengangguran jebolan STM itu sebelumnya pernah ditahan Kepolisian Sektor Tanah Abang. Ia juga pernah meringkuk di Rumah Tahanan Salemba. Dan Alexander menolak dikatakan sebagai pemimpinnya. Sebab pada saat itu tidak ada yang mengomando. Semua bebas bergerak sendiri-sendiri. Pemuda 18 tahun ini mengakui telah melukai salah seorang penumpang dengan goloknya. Karena, katanya, penumpang itu hendak mempertahankan dompetnya. Dan setelah direbut ternyata isinya hanya Rp 3.000. Dalam pada itu, untuk mengejar mereka yang buron, Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya menerjunkan anggotanya ke bus kota. Selain mencegah munculnya lagi kasus serupa, sekaligus untuk menangkal perkelahian pelajar serta perusakan. Menurut Kapolri Jenderal Kunarto dalam praseminar kejahatan perkotaan, akhir Oktober lalu, upaya polisi menanggulangi kejahatan perkotaan tidak akan berarti tanpa dibarengi dengan pengendalian urbanisasi, pengangguran, dan berbagai kebijaksanaan sosial. Boleh jadi Kapolri Kunarto benar. Namun sementara ini, untuk sebatas pengamanan bus kota, tentu tak berlebihan jika tumpuan harapan masyarakat adalah pada polisi. Gatot Triyanto dan Nuniek Iswardani

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833094439



Kriminalitas 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.