Kolom 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI Di tengah orang yang lalu-lalang di jalan sempit St Denis di jantung Kota Paris, wanita-wanita berpakaian seronok dengan rok mini dan belahan dada terbuka lebar bersandar di sepanjang tembok. Ada lelaki yang berhenti, menanya. Perempuan itu menyebut sebuah harga (300-400 franc). Jika oke, mereka langsung naik bersama ke bangunan berlantai lima-enam untuk mencapai sebuah kamar. Beberapa waktu yang lalu, ada usaha untuk memindahkan lokasi perempuan yang menempel ke dinding itu ke luar kota. Para wanita tuna susila itu berdemonstrasi ke Kantor Wali Kota Paris. Mereka tidak mengerek kutang dan celana dalam seperti dianjurkan dalam sajak Rendra, tetapi membawa slip pembayaran pajak. Sebagai pembayar pajak yang baik, kenapa mereka tidak boleh melakukan usaha "tradisional" mereka, yang diejek oleh warga sebagai "pelacuran dinding"? Menurut mereka, para imigran gelap dari Asia Selatan yang lebih tepat diusir dari wilayah itu. * * * Perempuan dinding tipe pertama seperti yang digambarkan di atas barangkali bisa disebut sebagai korban lelaki yang menjadi lawan jenisnya. Perempuan dinding tipe kedua yang ingin saya ceritakan adalah warga masyarakat yang menjadi korban negara. Saya ragu apakah pada kedua kategori tersebut dapat dibedakan bahwa yang satu bersifat horizontal dan yang lain vertikal. Perempuan dinding jenis kedua itu terdapat di Indonesia, pada berbagai monumen sejarah seperti Lubangbuaya, Monas, dan lainnya. Mereka adalah perempuan dari kelompok kiri yang telah dihujat selama 30 tahun ini sebagai "tidak bermoral". "Tanggal 30 September 1965 malam, mereka menari-nari tanpa busana di daerah Lubangbuaya, kemudian menyiksa para jenderal, menyayat kemaluan para perwira itu, dan memasukkannya ke mulut mereka." Itulah lukisan yang diberikan dalam buku-buku sejarah di Indonesia dan juga ada di dinding-dinding yang dingin di berbagai monumen historis Indonesia. Setelah Orde Baru berakhir, sejarah dicoba untuk diluruskan kembali. Ternyata foto tentang wanita tanpa busana yang dijadikan bukti sejarah itu adalah hasil pemaksaan terhadap perempuan yang ikut latihan sebagai sukarelawati Dwikora (ganyang Malaysia) di Lubangbuaya. Mereka ditangkap, dipukuli, diinterogasi, lalu dipaksa membuka pakaian dan menari-nari telanjang di depan tentara, sementara yang lain mengambil foto. Lalu, foto-foto itu disiarkan. Bukan hanya itu. Pelacur Emmy, yang berasal dari Senen, ditangkap dan disuruh mengaku sebagai Ketua Gerwani Cabang Jakarta yang ikut dalam penyiksaan kelamin di Lubangbuaya. Pers militer (Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha) ketika itu—sebagaimana diungkapkan oleh Stanley dalam seminar MSI di Serpong, September lalu—berperan penting dalam menyebarkan informasi yang tidak memenuhi kaidah jurnalistik yang baik dan benar (cover both side, balancing of reporting, dan prinsip check and recheck). Istilah yang dipakai terhadap anggota Gerwani adalah "hantu-hantu di siang bolong". Pengalaman yang dialami oleh Letnan Tendean sangat sadistis. "...Sesudah tertangkap, ia disiksa dengan sangat kejam karena para penculik itu mengira ia Jenderal Nasution. Ia kemudian diserahkan kepada sukarelawan-sukarelawan Gerwani. Lalu, dengan tangan dan kaki terikat, Tendean menjadi permainan cabul setan-setan perempuan Gerwani, yang perbuatan mereka merendahkan martabat wanita Indonesia." * * * Dalam kasus pertama, wanita dinding itu fakta. Mereka ada di Paris dan tetap bertahan untuk eksis. Tetapi dalam kasus kedua, wanita Indonesia yang ada dalam buku sejarah dan dinding monumen historis itu tampaknya fiksi belaka, khayalan dari pihak keamanan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Gambaran tentang kebejatan moral wanita tersebut membangkitkan kemarahan rakyat dan akhirnya menjadi salah satu pendorong mereka melakukan pembantaian, pembunuhan massal terbesar dalam sejarah Indonesia, yang memakan ratusan ribu korban. Dinding sejarah yang penuh kepalsuan dan kebohongan itu kini perlu dirobohkan.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836810854



Kolom 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.