Kolom Pembaca 4/9

Sebelumnya Selanjutnya
text

Soal kepadatan lalu lintas jakarta

i
Uji coba 3 in 1 pada jalan protokol Sudirman-Thamrin dan Gatot Subroto pada jamjam tertentu sudah memasuki minggu kelima. Hasil yang diperoleh tampaknya masih dipertanyakan. Tapi, menurut pengamatan saya, hasilnya sangat sedikit. Upaya ini terasa merupakan pemecahan yang tak mendasar. Bagaimanapun, pengalihan beban kepadatan dari satu ruas jalan pasti ditampung ruas jalanjalan lain. Perencanaan Kota Jakarta memang sudah salah sejak semula. Daerah perkantoran dan bisnis dibangun di dalam kota. Tempat permukiman dibangun di luar kota. Dengan demikian setiap saat, dan terutama pada jamjam puncak, terjadi arus manusia dari luar masuk ke dalam kota dan sebaliknya. Kondisi semacam ini tak mungkin dielakkan. Bayangkan saja bagaimana kepadatan itu akan berkembang pada tahun-tahun mendatang bila tanah-tanah yang masih kosong di daerah kota saat ini terus dibangun sedangkan jalan-jalan yang ada tak mungkin diperlebar apalagi diperpanjang. Di samping itu sarana angkutan umum sama sekali tidak memadai dalam segala segi. Karena itu, salah satu pemecahannya adalah membangun jalan bertingkat pada jalan-jalan yang padat, seperti di Jalan A. Yani sampai Tanjungpriok. Namun, untuk itu diperlukan banyak biaya. Dana masyarakat, terutama dari masyarakat pemilik kendaraan bermotor, sebenarnya dapat dikerahkan. Tapi, sayangnya, dana tersebut pada saat ini hanya terhambur jatuh pada orang-orang tertentu secara tidak adil. IR. R. SUFSIDI Jalan Kepodang VII/17 Bintaro Jaya Jakarta Selatan (12330)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052351639



Kolom Pembaca 4/9

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.