Kesehatan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Deteksi Pendengaran Sejak Dini

Perhatikan daya dengar anak-anak sejak dini. Meski cukup mahal, metode deteksi dini tetap lebih murah daripada mengobati.

i
Saat si bayi tidur, berarti pula saatnya si orang tua beristirahat. Tapi, jika kepulasan si bayi tak terganggu oleh keributan kakak-kakaknya di sebelahnya, orang tua harus waspada. Jangan-jangan, pendengaran si bayi terganggu. Kekhawatiran ini perlu karena sebuah penelitian membuktikan bahwa ketulian sudah bisa dideteksi—untuk kemudian diterapi—sejak usia dini. Adapun yang melakukan penelitian adalah Dr. Mashari dan I Wayan Primara dari Bagian Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) RSUP Sardjito, Yogyakarta. Menurut staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini, lebih dari 63 persen anak tunarungu yang ditelitinya terdeteksi ketika usia mereka belum mencapai tiga tahun. Hasil penelitian yang dilakukan selama empat tahun (1995-1998) terhadap 520 anak tunarungu di Rumah Sakit Sardjito itu dipaparkan oleh Mashari di kongres dokter THT se-Indonesia akhir bulan lalu. Penelitian tersebut, selain mendeteksi lima faktor risiko terbanyak penyebab ketulian, juga menyimpulkan bahwa lebih dari 33 persen penderita tidak diketahui penyebabnya. ''Bila dikaitkan dengan upaya pencegahan, kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan," kata Mashari dalam kongres yang berlangung di Semarang itu. Pendeteksian dini memang jadi soal penting mengingat jumlah penderita tunarungu di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Hasil survei Departemen Kesehatan yang dilakukan di tujuh provinsi (Sumatra Barat dan Selatan, Jawa Tengah dan Timur, Sulawesi Tenggara dan Utara, serta Nusatenggara Barat) tahun 1994-1996, dengan 21 ribu responden, menunjukan bahwa satu dari seribu anak tuli sejak lahir. Yang lebih gawat, sebagaimana yang digambarkan oleh Profesor Hendarto Hendarmin, Kepala Sub-Bagian Kesehatan Telinga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, jumlah anak-anak yang menderita tunarungu di Indonesia terus meningkat. Meski tak punya data khusus untuk Indonesia, menurut pengelola sekolah untuk siswa tunarungu di Jakarta ini, dalam skala dunia, peningkatan terjadi 10 persen setiap tahunnya. ''Tak mengherankan jika murid di sekolah saya semakin lama semakin banyak,'' kata pemilik dan pengelola Sekolah Tunarungu Santi Rama dan SLB B Tunarungu itu. Menurut dokter spesialis THT, Bambang Udji Djoko Riyanto, ada tiga jenis gangguan pendengaran, yakni ketulian saraf, tuli hantaran, dan gabungan antara tuli saraf dan hantaran. Adapun penyebabnya adalah faktor genetis (keturunan) dan akuisital (bukan keturunan). Dalam kasus di Rumah Sakit Sardjito, ditemukan 18 penyebab munculnya gangguan pendengaran. Namun, lima besar dari penyebabnya adalah trauma kepala (akibat jatuh dari tempat tidur, misalnya), akibat kejang demam (step), sakit campak (morbili), kelahiran prematur, dan karena proses melahirkan yang lama—lebih dari 24 jam atau partus lama. Mengingat begitu beragamnya kemungkinan penyebab terjadinya gangguan pendengaran, pemeriksaan dini merupakan kunci dari pencegahan dan penanganannya. ''Dilakukan saat bayi baru lahir atau paling tidak sebelum usia tiga tahun,'' kata Dr. Bulan Trisna Djelantik, Kepala Bagian THT dan Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Selain agar si penderita segera bisa ditangani, usia nol sampai tiga tahun merupakan masa puncak dari pertumbuhan pusat bahasa di otak si anak. Namun, pendeteksian dini membawa masalah yang lain, yakni soal ketersediaan alat. Sebab, peralatan untuk mendeteksi kesehatan pendengaran bayi yang tersedia di rumah-rumah sakit di Indonesia umumnya masih termasuk ''barang mahal". Tidak semua rumah sakit memiliki alat pemeriksa yang akurat dan murah. Adapun yang biasanya dimiliki rumah sakit adalah alat yang bisa mendeteksi bayi ketika sudah berusia enam bulan, yakni alat yang disebut radiogram. Sayangnya, alat ini sangat subyektif—hanya berlaku untuk pasien yang kooperatif--sehingga hasilnya kurang akurat. Adapun alat yang paling akurat saat ini adalah Otoaccoustic Emmisions. Alat ini bekerja berdasarkan energi bunyi yang disebabkan gerakan sel-sel rambut luar, yakni sel-sel sensorik pendengaran di dalam rumah siput (kohlea), yang terletak di telinga bagian dalam. Sayangnya, alat ini hanya ada satu, itu pun di Rumah Sakit Tarakan, Kalimantan Timur. Padahal, di kota tersebut tak ada sekolah tunarungu. Yang umum dimiliki oleh rumah sakit di kota-kota besar di Indonesia adalah alat yang disebut ERA (Evoked Response Audiometry) dan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry). Alat ini berfungsi sebagai alat pemeriksaan lanjutan, untuk mengetahui kualitas dan kuantitas pendengaran bayi. Dengan alat ini bisa diketahui ambang batas pendengaran pasien. Jika ambang batasnya di atas 30 desibel, dipastikan kualitas pendengaran pasien kurang baik. Jika di atas 40 desibel, si pasien sudah membutuhkan alat bantu pendengaran. Selain itu, alat ini juga bisa mendeteksi jenis gangguan, apakah gangguan datang dari saraf otak atau dari alat pendengarannya itu sendiri. Alat ini juga bisa memberikan petunjuk apakah ada kelainan di telinga akibat adanya tumor. Sayangnya, pemeriksaan dengan alat ini untuk sebagian besar masyarakat dianggap cukup mahal, yakni sekitar Rp 150 ribu sekali periksa. Namun, mencegah timbulnya penyakit tetap lebih murah daripada mengobati. Rustam F.M., Bandelan Amarudin, R. Fadjri, Rinny Srihartini, dan Dwi Wiyana

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865832598



Kesehatan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.