Kesehatan 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Segar Tapi Kurang Cerdas

Dr. Deddy Muchtadi dari IPB Bogor meneliti kadar kafein pada teh. Hasilnya, kadar kafein pada teh lebih murni dan punya efek negatif pada perkembangan kecerdasan anak. Harus diimbangi dengan gizi yang baik.

i
PESTA ulang tahun si upik belum lengkap tanpa minum teh. Tapi harap hati-hati: minuman ini bisa menurunkan tingkat kecerdasan dan menimbulkan anaemi gizi pada anak. Ini kesimpulan Dr. Deddy Muchtadi, 41 tahun, dari IPB Bogor. Ia baru selesai meneliti kadar kafein pada teh dan pengaruhnya terhadap bayi dan anak-anak, akhir Oktober lalu. Menurut Kepala Laboratorium Biokimia Pangan dan Gizi IPB itu, kafein mudah diserap darah. Lebih dari 99 persen kafein yang dikonsumsikan akan diserap darah, lantas secara cepat didistribusikan ke seluruh tubuh. "Tidak ada suatu zat pun yang mampu menghalanginya untuk sampai di otak," kata sarjana teknologi pangan dan gizi lulusan Universite des Science et Techniques du Languedoc, Montpellier, Prancis, ini. Apakah kafein itu ? Ia merupakan zat penyegar yang mampu merangsang kerja sistem saraf pusat. "Bila Anda merasa segar sehabis minum teh atau kopi, sesungguhnya disebabkan oleh kafein," Deddy Muchtadi menjelaskan. Soalnya, selama ini banyak orang menyangka, kafein itu hanya terdapat pada kopi. Padahal, teh, cokelat, dan minuman ringan jenis cola juga mengandung kafein. Analisa yang telah dilakukan terhadap beberapa merk teh dan kopi di Bogor menunjukkan, kadar kafein teh tidak berbeda dengan kopi, yakni sekitar 0,6 persen. Bahkan, kata Deddy, kadar kafein pada teh lebih murni ketimbang pada kopi. "Kopi yang beredar sudah banyak yang dicampur jagung atau kedelai. Teh mana ada yang dicampur?" ujarnya. Pada dosis rendah, efek negatif yang paling menonjol dari kafein ini menyebabkan susah tidur. Tapi pada dosis yang lebih tinggi, kafein dapat menimbulkan rasa gelisah, merangsang pernapasan, mempengaruhi kerja jantung, mengakibatkan sering kencing, dan meningkatkan sekresi cairan lambung. "Tapi jarang sampai keracunan, kecuali kalau seseorang minum teh atau kopi setara 75 cangkir dalam tempo 30 menit," kata Deddy setengah berkelakar. Selain mudah diserap, kafein sebaliknya, tidak mudah dikeluarkan kembali dari tubuh. Lebih dari 98 persen kafein yang sampai ke ginjal pun, bukannya dibuang bersama urine tapi diserap kembali oleh darah. Dan khusus pada bayi, "Kafein sulit dimetabolisasi," kata Deddy tanpa merinci. Karena mempengaruhi sistem saraf pusat, dan anak-anak lebih sensitif, ia mensinyalir adanya efek negatif kafein terhadap perkembangan otak sehingga mempengaruhi kecerdasannya. Padahal, kafein pada teh juga bisa menyebabkan anaemi gizi. Di samping itu, menurut Deddy, teh juga mengandung tanin, sejenis zat yang biasa dipakai menyamak kulit. "Kalau Anda minum teh, selain menyegarkan juga ada rasa sepet. Nah, rasa sepet ini karena ada zat tanin di dalam teh yang bereaksi dengan protein mukosa di mulut," katanya. Yang jadi masalah bukan rasa sepetnya. Tapi zat ini dapat mengikat mineral yang berguna untuk tubuh. "Apabila zat tanin itu bereaksi dengan mineral makanan di dalam tubuh, maka mineral itu tak berfungsi lagi dan langsung dibuang bersama kotoran," kata Deddy lebih lanjut. Analisa Deddy sejalan dengan hasil studi yang dilakukan Wona Amitai yang dimuat dalam buletin Food Laboratory Newsletter, edisi September 1987. Dokter Amitai menemukan bahwa anak balita di Yerusalem yang biasa minum 250 ml (delapan ons) teh per hari mempunyai kadar besi (Fe) rendah di dalam darahnya. Ia menyimpulkan adanya pengikatan Fe oleh tanin teh, sehingga mineral yang seharusnya bermanfaat untuk tubuh jadi mubazir. Tapi mineral yang mudah diikat itu dan jenis nonheme iron, yakni Fe yang berasal dari serealia (nasi, jagung, ubi), sayuran, atau buah-buahan. Sedang Fe yang berasal dari daging, yakni heme iron, tidak terikat tanin dan dapat segera dimanfaatkan tubuh. Mungkin karena itu, efek negatif minum teh di negara-negara yang konsumsi gizinya baik tidak terlihat. Jepang dan Cina, yang punya tradisi minum teh malah dikenal sebagai bangsa yang cerdas. Tak heran jika konsumsi kafein sampai sekarang tidak dibatasi. Di Amerika Serikat FDA (Food and Drug Administration) masih menggolongkan kafein sebagai senyawa GRAS (Generally Recognised as Safe), alias "aman untuk dikonsumsi". Sejauh ini dunia kedokteran Indonesia belum pernah melakukan penelitian tentang efek negatif kafein. Tapi penyakit anaemi gizi yang masih menduduki angka tinggi di sini patut diwaspadai. "Anak kurang gizi memang rawan penyakit. Tanpa minum teh pun payah," komentar dr. Azhali M.S. Kepala Bagian Anak RS Hasan Sadikin Bandung. Hasan Syukur

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161814494324



Kesehatan 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.