Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Yang Goyah karena Corona

Sebagian tenaga kesehatan menderita gangguan kecemasan dan depresi akibat pandemi Covid-19. Membutuhkan pendampingan untuk menguatkan mental.

i Petugas kesehatan tertidur usai bertugas di puskesmas di Bandung, Jawa Barat, 6 November 2020./TEMPO/Prima Mulia
Petugas kesehatan tertidur usai bertugas di puskesmas di Bandung, Jawa Barat, 6 November 2020. Tempo/Prima Mulia
  • Pandemi Covid-19 memicu kecemasan pada tenaga kesehatan. .
  • Kecemasan dipicu oleh banyaknya rekan kerja tenaga kesehatan yang meninggal.
  • Ada tenaga kesehatan yang sampai hendak melompat dari jendela. .

JARUM jam sudah hampir menunjuk ke angka sembilan ketika Tiara—bukan nama sebenarnya—bersiap tidur. Hari itu, perawat yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Utara, tersebut tengah libur. Ia menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga.

Malam itu, ketika baru beberapa saat berbaring, Tiara merasakan serombongan semut seperti menyergap tubuhnya, merayap dari kaki, badan, sampai ke leher. “Jumlahnya banyak banget, saya merinding,” kata Tiara, 50 tahun, mengisahkan kejadian pada Juni silam itu, Rabu, 25 November lalu.

Tiara mengibaskan tangannya untuk mengusir semut-semut tersebut dari bagian tubuhnya yang terasa geli, tapi tak satu pun binatang mungil itu tampak. Ia lalu meminta tolong suaminya untuk memburu semut yang mungkin bersembunyi di balik bajunya. “Tapi enggak ada juga,” ujarnya. Karena perasaan merinding akibat dikerubuti semut itu tak kunjung hilang, ia mandi dan mengganti seprai tempat tidurnya.


Baru saja hendak terlelap, Tiara kembali merasakan semut-semut itu merayapi tubuhnya. Rasa geli menjalar di kaki, tangan, badan, sampai tengkuknya. Ketika akan mengusir makhluk bandel tersebut, ia tidak menemukannya seekor pun. “Saya akhirnya mandi lagi, ganti seprai lagi,” tuturnya. Perasaan dirambati semut itu terus berulang sampai tengah malam.

162037292730

Tiara curiga ada yang tak beres dengan dirinya karena sang suami yang tidur di sampingnya tidak melihat atau merasakan serbuan semut itu. Ia memutuskan mendatangi dokter di tempatnya bekerja esok harinya. Psikiater yang memeriksanya mendiagnosis dia menderita halusinasi taktil. Ia merasakan sensasi fisik yang tidak nyata akibat memendam kecemasan terlalu lama. “Kecemasan saya meningkat setelah ada Covid-19,” ucapnya.

RSUD Koja mulai mengisolasi pasien dalam pengawasan sejak pandemi Covid-19 merebak di Jakarta pada Maret lalu. Pemerintah DKI Jakarta kemudian menunjuk rumah sakit itu sebagai rumah sakit rujukan. Ini yang membuat Tiara khawatir secara tak sengaja membawa pulang novel coronavirus dan menulari anak bungsunya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama atau ibunya yang sudah lanjut usia. “Meski sudah menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, saya tetap takut,” tuturnya.

Apalagi, ketika baru menjadi rumah sakit rujukan, RSUD Koja belum memiliki jalur khusus untuk pasien Covid-19. Pasien dan tenaga kesehatan masih menggunakan lift yang sama. Ketika melihat pasien umum, ia selalu curiga bahwa mereka terinfeksi penyakit tersebut.

Kecemasan Tiara itu sudah terdeteksi ketika ia mengisi kuesioner tentang kesehatan mental yang dibagikan oleh rumah sakit tempatnya bekerja pada Mei lalu. Ia salah satu karyawan yang dipanggil mengikuti sesi konseling berkelompok. Psikiater yang mendampingi Tiara memberinya obat penenang, tapi ia hanya meminum obat itu ketika rasa cemasnya kumat. Psikiater tersebut memintanya berkonsultasi secara privat, tapi dia menolak. Tiara merasa masih bisa mengatasi sendiri masalah mentalnya.

Padahal, kala itu, kegelisahannya makin parah. Hampir setiap hari muncul kabar tenaga kesehatan meninggal. Salah satunya perawat yang merupakan teman adik Tiara. Tak lama berselang, salah seorang tenaga kesehatan di tempat anak sulungnya bekerja juga wafat. “Saya takut sekali,” katanya dengan suara bergetar. Tumpukan berbagai kekhawatiran itulah yang memunculkan halusinasi dirubung semut. Setelah ia berkonsultasi secara rutin, kekhawatirannya perlahan-lahan berkurang.

Namun kondisi itu tak bertahan lama. Mental Tiara kembali merosot ketika dia divonis menderita Covid-19 pada akhir Agustus lalu. Ia harus mengisolasi diri di kamar belakang. Ia hanya bisa mendengar suara atau melihat anggota keluarganya dari kejauhan. Ia tidak bisa lagi bercanda atau makan bersama mereka. “Tiap malam saya menangis. Seperti ini, ya, rasanya sendiri,” ujarnya.

Dokter menyarankan Tiara kembali mendatangi psikiater setelah ia mengeluh terus-menerus merasa haus tanpa sebab yang jelas. Dokter spesialis paru dan dokter spesialis penyakit dalam yang memeriksanya menyatakan tak ada masalah dengan fisiknya. Psikiater yang mendampinginya menduga kondisi itu disebabkan oleh stres.

Selain Tiara, ada beberapa petugas kesehatan yang mendapat pendampingan. Salah satunya Dwi. Ia sempat berusaha melompat dari jendela saat dirawat lantaran positif terinfeksi Covid-19 pada September lalu. Pikirannya kalut setelah ia terpisah dari ketiga anaknya selama dua pekan. “Saya enggak sadar bahwa saya mau melompat. Yang saya ingat, saya ingin pulang,” ucapnya.

Dwi baru menyadari hal itu setelah kawan sekamar dan perawat yang mendampingi bercerita kepada Dwi bahwa ia sudah membuka jendela rumah sakit dan hendak terjun dari sana. Beruntung mereka dapat menghentikan Dwi. Sejak kejadian itu, ia rutin mendatangi psikiater. “Saya didiagnosis depresi,” tutur Dwi.

Dokter residen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Febriantono Eddy Putranto, juga disergap kegelisahan karena positif tertular Covid-19 pada Maret lalu. Setelah ia keluar dari perawatan rumah sakit, sebagian teman dan anggota keluarganya menjaga jarak dengannya. “Itu membuat saya sangat ngedrop,” kata pria yang akrab disapa Rio tersebut.

Ia bertambah rongseng ketika memikirkan studinya. Pandemi membuat semua dokter residen menjadi garda terdepan untuk menangani pasien Covid-19. Pembelajaran spesialisasi sesuai dengan pilihan mereka menjadi tersendat. Itu membuat Rio, yang sedang menempuh pendidikan spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik, khawatir tak bisa menyelesaikan studi tepat waktu. “Kami harus tetap membayar uang semester yang jumlahnya belasan sampai puluhan juta. Makin lama belajar, makin banyak uang yang dikeluarkan,” ujar Rio, 26 tahun.

Masa studi yang mungkin lebih panjang itu membuat Rio khawatir tabungannya tak cukup untuk menghidupi istri dan satu anaknya sampai ia lulus pendidikan spesialis. Ia bertambah resah mendengar kabar bahwa beberapa dokter meninggal akibat Covid-19, dua di antaranya rekannya sesama dokter residen. Rio resah membayangkan dia terinfeksi penyakit itu lagi. “Saya takut tak diberi kesempatan lagi untuk hidup.”

Setelah berbulan-bulan memendam keresahan tersebut, Rio akhirnya meminta bantuan psikiater di tempatnya menempuh studi, Oktober lalu. Ia didiagnosis menderita depresi. Psikiater yang mendampinginya menyarankan dia rehat sejenak dan rutin berkonsultasi.

Sampai sekarang, baik Rio, Dwi, maupun Tiara masih rutin berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa di rumah sakit tempat mereka bekerja. Banyak tenaga kesehatan selain mereka yang mengalami masalah kesehatan mental akibat pandemi. Masalah tersebut tidak bisa mereka sepelekan. “Kami butuh pendampingan dari segi mental,” tutur Tiara.

NUR ALFIYAH

Reporter Nur Alfiyah - profile - https://majalah.tempo.co/profile/nur-alfiyah?nur-alfiyah=162037292730


Kabar Pandemi #JagaJarak #PakaiMasker #CuciTangan Covid-19 Universitas Airlangga | Unair

Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.