Enam Saudara Korban Flu Burung - Kesehatan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Enam Saudara Korban Flu Burung

Kasus galur flu burung terbesar terjadi di Medan. Kemungkinan penularan virus antarmanusia sudah terjadi.

i

Wajah pasien itu tak lagi kuyu. Tapi ia terlihat masih sulit menghela napas. Jarum infus masih menancap di pergelang-an tangan. Setelah dirawat ham-pir dua minggu di Rumah Sakit Adam Malik, Medan, kondisi Johanes Gin-ting, 25 tahun, tak banyak ber-ingsut pulih.

”Kemajuannya lambat karena dia tak disiplin,” kata Dokter Adlin Adnan, Koordinator Tim Penanganan Flu Burung di rumah sakit milik pemerintah itu. Warga Desa Kubu Simbelang, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, itu berulang kali membuang obat, mencabut selang infusnya, bahkan sempat kabur dari rumah sakit.

Setiap hari, tim medis rutin meng-ambil foto paru-paru Johanes. Maklum, me-nurut pengujian laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan, dikuatkan laboratorium Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Hong Kong, Johanes positif mengidap flu burung.


Korban flu burung kali ini bukan ha-nya Johanes. Lima kerabat Johanes yang telah meninggal, Roy Karo-karo (meninggal 9 Mei), Anta boru Ginting (10 Mei), Boy Karo-karo (12 Mei), Rafael Ginting (13 Mei), dan Brenaita boru Tarigan (14 Mei) sudah positif terkena flu burung. Konfirmasi ini berdasarkan penelitian WHO terhadap sampel darah, usap tenggorok, dan cairan hidung.

Dengan demikian, inilah kasus galur alias kluster flu burung terbesar di Indonesia. Sebelumnya, kasus serupa pernah terjadi pada keluarga mendiang Iwan Siswara dan dua anaknya di Tangerang pertengahan tahun lalu. Lalu, kakak ber-adik Nurrohmah dan Endrawan di Indramayu, Januari silam.

Galur dalam kasus di Karo ini mungkin lebih dari 6 orang. Soalnya, Puji bo-ru Ginting, 40 tahun, yang meninggal- pada 4 Mei, tapi tak diambil sampel- darahnya untuk diperiksa, juga dinya-takan tersangka flu burung. Status seru-pa dilekatkan pada Terang boru Gin-ting, kerabat Johanes yang masih dirawat di Rumah Sakit Elisabeth, Medan, yang juga menolak diambil sampel darahnya.

Kluster Karo ini menimbulkan kekhawatiran telah terjadi penularan flu burung antarmanusia. Ketakutan akan ada-nya pandemi pun mulai muncul. Sejauh ini, sejak Juli 2005 sampai 17 Mei 2006, Posko Kejadian Luar Biasa Flu Bu-rung, Departemen Kesehatan, mencatat 40 kasus positif flu burung dengan 30 orang di antaranya meninggal.

Nasib nahas yang dialami Johanes dan kerabatnya terjadi seusai pesta pang-gang getah, akhir April lalu. Masya-rakat pegunungan Karo umumnya me-la-kukan pesta tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian yang melimpah atau kehidupan ekonomi yang kian membaik.

Keluarga Rezeki Karo-karo Ketaren,- suami Puji boru Ginting, melakukan pes-ta pada 27 April. Acara dilakukan di kalangan kerabat saja. Sebanyak 15 orang hadir. ”Kumpul keluarga dilakukan sebelum ziarah ke makam orang tua dan leluhur,” ujar seorang kerabat Johanes yang tak mau disebut namanya.

Untuk keperluan pesta, Puji membeli- beberapa ekor ayam di Pasar Kabanja-he-, ibu kota Kabupaten Karo. Takut me-nu santapan tak cukup, diam-diam Joha-nes membeli beberapa kilo daging babi di tempat yang sama. Rencananya, selain bakar ayam, ada juga bakar daging- babi. Selain daging, Johanes minta di-bung-kuskan beberapa plastik darah babi.

Pesta berlangsung meriah. Daging ayam dan babi dipanggang. Darah babi dicampur cabai dan air jeruk nipis, lalu dimasak. Sebelum menyantapnya, Johanes, seperti kebiasaan warga Karo la-in-nya, mengolesi potongan daging de-ngan darah masak. Tata cara ini lazim disebut makan ala panggang getah.

Tak perlu waktu lama, korban segera berjatuhan. Esok harinya, Puji boru Ginting meriang dan sesak napas. Dokter di Kabanjahe memberinya obat penurun panas. Hasil roentgen memperlihatkan paru-parunya penuh flek. Ia dirujuk ke Rumah Sakit Elisabeth, Medan. Dua hari dirawat, nyawanya tak tertolong.

Saat pemakaman, dua anak almar-hum-ah-,- Roy dan Boy Karo-karo, me-nunjukkan- gejala sakit seperti ibunya. Sehari kemudian rasa meriang dan panas menimpa Anta boru Ginting, Joha-nes Ginting, dan Rafael Ginting. Mereka semua dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik. Pasien bertambah satu, Brenaita boru Ginting, anak Anta, yang berusia 1,5 tahun.

Di situlah dugaan bahwa mereka meng-idap flu burung muncul. Sampel darah segera diambil dan hasilnya keenam orang itu dinyatakan positif flu burung. Saat ini tinggal Johanes yang masih bertahan hidup. Warga Kubu Simbelang pun geger. Penduduk yang sebagian besar bertani dan bertanam jeruk itu takut virus flu burung makin menyebar.

Dinas Pertanian dan Peternakan se-tem-pat segera mengambil sampel darah dan kotoran babi serta unggas peliharaan warga untuk diperiksa. Hasilnya negatif. Sebelum kematian Puji dan kera-batnya, warga mengaku tak ada unggas- atau babi yang mati. Sampel darah tetang-ga dan petugas medis yang mena-ngani Puji dan keluarganya juga diambil untuk diteliti. Hasilnya belum diketa-hui.- ”Tak ada endemi flu burung di sini, apalagi penularan antarmanusia,” kata Bupati Karo, Daulat Daniel Sinulingga.

Gagal menemukan sumber penularan di sekitar rumah Puji, giliran sampel da-rah di pasar Kabanjahe, tempat Puji dan Johanes belanja ayam dan daging babi, diambil. Hingga akhir pekan lalu hasilnya belum diketahui. Ketidakjelasan sum-ber penularan membuat warga makin gelisah. Isu kematian Puji dan kerabatnya akibat begu ganjang alias santet menyeruak.

Kegelisahan yang berbeda dirasakan para pejabat Departemen Kesehatan.- Mereka cemas telah terjadi penularan flu burung antarmanusia di Karo. Untuk- me-mastikannya, sampel darah para kor-ban yang dikirim ke Hong Kong sekali-gus untuk mengidentifikasi: apakah vi-rus- telah bermutasi atau masih asli dari binatang. Uji sequencing alias pengurutan asam dioksiribo nukleat (DNA) pun dilakukan, antara lain di sebuah laboratorium kondang di Jakarta. Tapi hingga akhir pekan lalu, hasilnya belum keluar.

Tanggapan lebih cepat dilakukan Chai-rul Anwar Nidom, dosen Biokimia dan Biologi Molekuler, Universitas Airlangga, Surabaya. Dari penelitiannya, ia sudah memastikan adanya mutasi virus flu burung. Bulan lalu, selama sebulan ia meneliti 20 sampel flu burung dari 100 sampel yang dibawanya pada 2005 dari daerah sekitar Jakarta yang telah dihidupkan kembali. Sampel itu tanpa memperhatikan inang sang virus, apa-kah manusia, unggas, atau babi.

Hasilnya sangat mengejutkan. ”Seba-nyak 11 sampel virus sudah dalam bentuk adaptasi,” kata Nidom. Pengujian di-lakukan di Laboratorium biosafety le-vel 3 milik Jurusan Virologi, Departeman Mikrobiologi dan Imunologi, Universitas Tokyo. Di sini, antara lain, ia me-neliti kekhususan reseptor (penerima) virus.

Umumnya, virus tumbuh pada reseptor yang sama. Jika tumbuh pada reseptor alfa sialat 2.3, reseptor yang dimiliki unggas, berarti virus masih berasal dari unggas dan akan sulit menular langsung- ke manusia. Sementara jika tumbuh pa-da reseptor alfa 2.6, itu penanda bahaya. Artinya, virus mudah menular antar-ma-nusia. Maklum, semua manusia memi-liki- reseptor 2.6. Kekhususan dimiliki ba-bi yang memiliki reseptor 2.3 dan 2.6.

Hasil pengujian Nidom mencengangkan: 11 virus dari 20 sampel tumbuh pada reseptor 2.6. ”Bisa jadi, inilah yang menyebabkan banyaknya kluster di Indonesia,” katanya.

Menurut Nidom, ada dua model penularan virus flu burung dari hewan ke manusia. Pertama, virus langsung menginfeksi manusia, lalu beradaptasi di tubuh manusia dan menyebar antarmanusia. Ke-dua, virus beradaptasi dalam hewan antara, yakni babi, kemudian menyebar. Dengan cara ini, orang atau babi yang membawa virus ini tidak selalu sakit atau mati.

Temuan adanya adaptasi virus bisa berarti saat ini banyak warga Jakarta- dan sekitarnya—daerah asal sampel Ni-dom—sudah terinfeksi flu burung. Cu-ma, tak semua menunjukkan gejala klinis karena tergantung daya tahan tubuh masing-masing. Menurut Nidom, jika di-lakukan survei virus pada orang Jakarta, hasilnya pasti mendebarkan. Ia memperkirakan 60–70 persen warga Jakarta sudah terjangkit flu burung.

Tak mengherankan, menurut Nidom, bila kasus flu burung terus bermuncul-an, sementara sumber penularan tak kun-jung ditemukan. Baginya, Jakarta merupakan episentrum virus. Jika ditemukan kasus-kasus di luar Jakarta, bisa jadi, mereka tertular penyebaran virus- asal Jakarta. Bila virus sudah beradaptasi, maka jangan mencari sumber penularan semata dari unggas. ”Itu paradigma kuno,” katanya.

Kendati sebagian besar warga sudah terinfeksi, sepanjang tak terjadi korban- mati besar-besaran, apalagi pandemi, mes-tinya tak perlu takut berlebihan pa-da virus flu burung. Namun, menurut- Nidom, mereka juga tak boleh berpe-rila-ku sembrono sehingga memancing virus sehingga gampang masuk ke tubuhnya. Virus flu burung sebaiknya disikapi se-perti virus flu biasa.

Direktur Jenderal Pengendalian Pe-nya-kit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, I Nyoman Kan-dun, menyatakan belum mengetahui hasil penelitian Nidom. Ia berharap temuan itu bisa didiskusikan dengan sesama pakar virus dan hasilnya bisa dijadikan ru-ju-kan para pengambil kebijakan.

Dwi Wiyana, Sahat Simatupang (Medan)

2020-08-11 14:24:45


Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.