Kesehatan 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bila Demam Tak Kunjung Sirna

i
GEJALA rematik rupanya tak hanya berupa pegal-pegal atau linu pada tulang sendi pergelangan kaki, tangan, atau punggung. Rematik bisa pula dimulai dengan gejala panas badan yang berkepanjangan. Rematik artritis yang sudah kronis ada yang diawali dengan panas-dingin. Kalau terjadi pada anak-anak, panas tubuh yang tidak turun-turun itu bisa berlangsung selama dua bulan. Panas ini bukan karena infeksi. Panas itu hanya berkisar pada suhu 38 derajat Celsius, yang bila diberi obat demam semacam aspirin akan turun tapi akan segera naik lagi.

Kasus semacam itu pernah ditemui Adiwirawan Mardjuadi, doktor yang mempunyai sebuah klinik khusus rematik di Jakarta. Ia pernah menangani pasien berusia delapan tahun yang sebelumnya ditangani dokter umum. "Setelah saya periksa, ternyata ia menderita rematik artritis," katanya.

Bagaimana ia sampai pada kesimpulan itu? Pemeriksaan komplet. Rematik yang disertai panas dingin itu dicari penyebabnya. "Kalau karena kuman, juga harus diketahui kumannya kuman apa dan di mana kumannya. Karena itu, perlu pemeriksaan kultur," ujar Adi.

Untuk rematik kronis dan pada beberapa kasus, pemeriksaan lengkap sebaiknya memang dilakukan. Selain konsultasi, dilakukan juga pemeriksaan darah, urine, kultur, foto, dan ultrasonografi (USG). Penggunaan USG biasanya dibutuhkan untuk melihat lebih detail pada pasien rematik stadium lanjut atau untuk memastikan apakah ada pengapuran pada tulang.

Tahap-tahap pemeriksaan semacam itu tentu saja mahal. Karena itu, untuk rematik stadium dini, biasanya dokter hanya melakukan uji darah dan rontgen. Dengan pemeriksaan darah, bisa dipastikan apakah seseorang, misalnya, menderita osteoartritis atau rematik artritis—jenis rematik yang paling banyak penderitanya. Pada pasien osteoartritis, indikator untuk mengetahui adanya peradangan, CRT, negatif. Sebaliknya pada penderita rematik artritis.

Melalui pemeriksaan darah, juga bisa diketahui apakah rematik yang terjadi bermuasal dari tekanan psikologis saja. Pada penderita rematik akibat psikologis—misalnya ribut dengan pasangan, atau stres karena pekerjaan kantor—kalau darahnya diperiksa, ternyata normal-normal saja.

Apa pun jenis rematik yang diderita, yang jelas, penanganan rematik tak boleh terlambat. Bagi yang persendiannya digerogoti rematik, salah diagnosis dan salah penanganan bisa berakibat fatal: cacat dan kelumpuhan. Beberapa penyakit rematik seperti systemic lupus erythematosus atau spondilitis ankilosa bahkan dapat mengganggu organ tubuh vital seperti jantung, pembuluh darah, paru-paru, ginjal, alat kelamin, saluran pencernaan makanan, susunan saraf pusat, hingga menyebabkan kematian.

GSI, Adi Prasetya


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866232841



Kesehatan 3/4

Sebelumnya Selanjutnya