Kesehatan 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Melawan Ngilu dengan Jahe

Ekstrak jahe dan laos dapat dipergunakan untuk pengobatan rematik. Alternatif bagi penderita yang ingin menghindari efek samping obat kimia.

i
JANGAN remehkan jahe. Umbi tanaman yang rasanya pedas itu sudah ribuan tahun dipercayai sebagai senjata ampuh untuk menggempur penyakit. Di Cina, seseorang bernama Cheng Nung bahkan telah merekomendasikan jahe sejak 3.000 tahun sebelum Masehi untuk mengobati demam dan selesma atau pilek. Di Eropa, secara tradisional jahe juga dipakai sebagai salah satu "jamu" untuk rematik.

Mengherankan, jahe dan laos kini justru diklaim sebagai "obat modern" yang bisa menjadi alternatif pengobatan konvensional rematik. Hal itu terungkap dalam kongres ke-9 Asia Pacific League of Associations for Rheumatology (APLAR) di Beijing, Cina, akhir Mei lalu. Dalam forum dokter spesialis rematik dari negara-negara kawasan Asia Pasifik itu, sebuah produsen obat dari Denmark, Eurovita, menawarkan jahe dan laos sebagai alternatif pengganti pengobatan konvensional.

Eurovita boleh berbangga diundang dalam forum seprestisius itu. Undangan itu boleh jadi karena Eurovita telah menggelar beberapa penelitian, baik di Denmark maupun di Amerika Serikat, yang bisa membuktikan khasiat jahe dan laos. Salah satu penelitinya adalah Prof. R.D. Altman, M.D., Ph.D., guru besar osteoarthritis dari Miami, AS, yang juga tampil sebagai salah satu pembicara dalam seminar di forum APLAR 2000 itu. Studi klinis Altman melibatkan 247 pasien.

Penelitian dilakukan terhadap ekstrak jahe dan laos yang komponen aktifnya telah dimurnikan dan distandardisasi. Eurovita mengekstrak jahe (Zingiber officinalis) dan laos (Alpinia galanga) dari Cina, India, dan Afrika, yang kemudian dipatenkan sebagai EV.Ext 77 dan dipasarkan sebagai Zinaxin dalam kemasan modern --di Indonesia baru akan beredar akhir Juni. Kenapa yang diambil tanaman dari sana? Menurut mereka, setelah menelisik 100 varietas, jahe dan laos dari Cina, India, dan Afrikalah yang kandungan komponen aktifnya paling tinggi.

Kemunculan obat baru ini menambahi seribu satu macam obat untuk rematik yang sudah ada. Seribu satu macam? Jangan heran. Penyakit yang menyerang sistem lokomotif (tulang, sendi, otot, dan tendon) itu sendiri ada lebih dari 100 jenis. Pengobatannya tentu berbeda-beda. Rematik yang genetis seperti systemic lupus erythematosus atau spondyloarthropahy tentu berbeda dengan rematik yang muncul cuma karena tekanan psikologis. Dari ratusan jenis rematik, yang paling banyak diderita adalah rheumatoid arthritis dan osteoarthritis.

Rheumatoid arthritis (orang awam menyebutnya nyeri sendi atau encok) lebih banyak diderita wanita ketimbang pria. Berbeda dengan osteoarthritis, yang merupakan penyakit degeneratif—karena itu tak bisa terelakkan ketika orang makin lanjut usia dan organnya mulai aus—nyeri sendi sudah mulai muncul pada usia 20-50 tahun. Encok biasanya bermula pada sendi jari-jari di kedua tangan. Sendi terasa sakit, mengembang, dan menjadi kaku.

Penyebab peradangan itu sebenarnya belum diketahui betul. Namun, sudah diketahui bahwa selama proses peradangan, tubuh mengaktifkan sel darah putih atau leukosit. Sel-sel yang selalu bersiaga terhadap benda asing itu memproduksi leukotrin dan prostaglandin, yang ternyata berperan dalam meningkatkan proses peradangan dan nyeri. Leukosit juga melepaskan interleukin 1-ß dan tumor necrosis factor á (TNF-á) yang juga menyebabkan radang, nyeri, dan kerusakan tulang rawan.

Pembentukan prostaglandin melibatkan enzim yang disebut Cyclooxigenase (COX) yang punya beberapa isomer atau variasi. Setidaknya ada dua enzim, COX-1 dan COX-2, yang punya peran berbeda. COX-1, yang terdapat dalam sel, berperan dalam pembentukan prostaglandin "baik", yang antara lain berfungsi melindungi saluran perut dan ginjal. Sementara itu, COX-2 hanya muncul selama terjadi proses peradangan, untuk membentuk prostaglandin "jahat", yang bertanggung jawab atas peradangan dan rasa sakit.

"Yang kami coba lakukan adalah menghentikan produksi prostaglandin yang berperan dalam proses kesakitan," kata Lars Lindmark, direktur riset dan pengembangan Eurovita. Ini berbeda dengan obat nonsteroid (NSAID's, nonsteroidal anti-inflammatory drugs), yang menghambat COX-2 dan COX-1 sekaligus. Karena enzim yang "baik" juga dihambat, obat-obatan nonsteroid banyak menimbulkan efek samping: luka dan pendarahan di saluran perut serta berbagai komplikasi lain. Di AS, pada 1997, dilaporkan 107 ribu orang masuk rumah sakit karena luka perut yang ditimbulkan obat nonsteroid. Bahkan, 16.500 orang dilaporkan meninggal karena komplikasi pendarahan.

Ternyata kombinasi jahe dan lengkuas bekerja lebih "modern". Sejumlah penelitian membuktikan Zinaxin mempengaruhi COX-2 tanpa mengusik COX-1. Menurut kesimpulan Profesor Altman, daya penyembuhan EV.Ext 77 tergolong moderat, dan secara klinik dan statistik mempunyai efek yang signifikan terhadap gejala osteoarthritis pada lutut.

Sebagaimana obat natural lainnya, kecepatan reaksi jahe dan laos dalam menghambat COX-2 memang tak sekilat obat kimia seperti golongan Celecoxib, produksi Searle/Pfizer. Obat baru ini, sejak diluncurkan Februari 1999 di Amerika, telah diresepkan lebih dari 27 juta di seluruh dunia. "Efektivitas Celecoxib setara dengan obat-obatan nonsteroid yang sudah beredar selama ini dengan insiden ulkus gastroduodenal (luka pada saluran perut) yang lebih sedikit," kata Ati Saraswati, group product manager Searle Jakarta.

Menurut Lindmark, Celecoxib memang bekerja sangat spesifik terhadap COX-2 sehingga betul-betul berorientasi pada penghilangan rasa sakit. Ini agak lain dengan jahe dan laos yang karena kandungan komponen aktifnya beragam tak hanya mempengaruhi COX-2, tapi juga mampu menghambat TNF-á, faktor yang berperan dalam proses perusakan tulang. Karena itu—meski masih harus dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut—ia yakin jahe dan laos punya mekanisme kerja yang lebih mendasar: memodifikasi sistem.

Bagaimanapun, Zinaxin memang tergolong obat tradisional yang kecepatan reaksinya lebih lambat ketimbang obat-obatan farmasi. Karena itu, "Obat tradisional rematik bukan untuk pengobatan, tapi untuk pencegahan," kata John Darmawan, doktor spesialis rematik yang berdomisili di Semarang, yang dalam APLAR 2000 tampil sebagai pembicara. Menurut anggota dan salah seorang direktur di Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang khusus menangani rematik itu, obat tradisional memang mampu menyembuhkan rematik jaringan lunak seperti pegal linu, otot, dan urat, tapi bukan sendi. "Bahkan, dengan diolesi jahe dan digunakan tidur semalam, rematik jaringan lunak bisa sembuh," katanya. Bagi Darmawan, obat bebas seperti Zinaxin lebih cocok dipergunakan sebagai suplemen makanan. Karena itu, untuk pasiennya, Darmawan tidak pernah meresepkan obat tradisional.

Buat Adiwirawan Mardjuadi, doktor spesialis rematik lulusan Universitas Te Leuven, Belgia, obat tradisional bukan sesuatu yang tabu untuk diresepkan. "Kalau misalnya rematik karena faktor psikis, saya kira pemberian obat golongan tradisional tidak jadi masalah. Secara plasebo, kalau pasiennya baru sebatas punya keluhan ringan, saya kira juga tidak apa-apa. Tapi itu tidak saya berikan untuk yang inflamatual joint disease ," kata Adi.

Seperti disimpulkan Altman, ekstrak jahe dan laos memang tergolong moderat. Karena itu, "jamu" buatan Denmark ini oleh Eurovita juga direkomendasikan untuk rematik ringan hingga sedang saja. Yang penting, ini bisa menjadi alternatif bagi orang yang lebih sreg dengan obat alamiah daripada obat-obatan kimia yang efek sampingnya mungkin lebih berbahaya. Zinaxin sendiri, meski dianggap relatif lebih aman sehingga bisa dijual bebas, menurut Altman, tidak bebas efek samping. Sebagian respondennya mengeluhkan perut yang terasa sebah dan sering bersendawa—efek yang juga timbul ketika orang mengonsumsi jahe segar.

Gabriel Sugrahetty (Beijing), Bandelan Amarudin (Semarang), Adi Prasetya


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865889213



Kesehatan 4/4

Sebelumnya Selanjutnya